Hellow semua ...
Kangen postingku ?
Aku kembali neh dengan kegalauan setelah mau lulus SMP , dan mau kembali ke daerah asal setelah merantau selama ... 2 tahun di kota Pahlawan dan 13 tahun di pulau garam . Jadi total aku sudah merantau 15 tahun .. hahaha .. gak penting ..
Tapi yang paling penting unforgotable memory yang aku alami 3 tahun belakangan ini .. about friendship and love story :)
Tentang Friend dulu ah ...
Do you Know D'Chorone'Z ?
Gak tau ? .. ah Hidup di hutan mana sih loe ?
Neh , aku kasi tau ..
D'Chorone'Z is one of inept organisation . But , overthere you can find the happiness ..
Gak percaya ?
Ya udah ..
Perasaan baru tadi pagi aku ikut kegiatan MOS di SMPN 1 Pamekasan , tapi kok rasanya cepet banget ya Sekarang udah mau pengumuman, udah UN , udah perpisahan, udah kaya orang linglung tiap hari gak ada kerjaan mondar-mandir dari rumah ke sekolah ke rumah ke sekolah dan seterusnya ..
Hemb ... Masa Pancaroba dari putih biru tua ke putih abu-abu .
Bikin aku panas dingin ....
Dan ternyata bukan cuma aku aja , banyak juga temen-temen yang dag dig dug nunggu hasil ..
Yah , begini lah nasibku mengelandang bersama D'Chorone'Z .... :)
Selasa, 29 Mei 2012
Minggu, 27 Mei 2012
Limited edition
Saat Akur sama adek ku ituh .. Limited edition banget ...
Jadi di bingkai dalem foto aja biar bisa di ingat :)
Lokasi:
Pamekasan, Indonesia
Aku Tak Rela
Dinginya
udara malam yang dingin menyekik dan seakaan ingin menghancurkan tulang itu
pun, tak menyurutkan niat Qarina untuk tetap duduk di teras rumah tua itu.
Tidak bisa di sebut teras karena hanya tanah yang berbentuk gundukan. Rumah itu
kecil memang, namun menyimpan jutaan kenangan indah. Kenangan masa kecil kakek
yang tak pernah dia tau rupanya yang kini telah tiada dan hanya meninggalkan
rumah itu dan berjuta kenangannya. Tak terasa bulir air mata Qarina menetes
satu demi satu.
“Jangan
menangis sayang, aku baik-baik saja” Tangan lembut itu menggelus pundak gadis
berjilbab yang beranjak dewasa itu. “Aku tak percaya kamu baik-baik saja,aku
bisa merasakannya. Janganlah kamu berdusta.” Qarina beringsut menjauh. “Semua
akan baik-baik saja, meskipun tanpa aku. Sudah waktunya aku pergi , aku sudah
tak layak bagimu. Dan kamu pasti akan temukan penggantiku tak lama lagi”
Bujuknya menghibur. “Nggak, nggak ada yang bisa menggantikan kamu. Kamu sangat
berarti bagiku, Cuma kamu.”
“Itu
bagimu, tak begitu bagi keluargamu. Apalah arti diriku ini di hadapan mereka?”
“Aku tak perduli apa pun yang mereka katakan dan mereka lakukan. Aku Cuma mau kamu tetap disini itu saja. Apa
permintaanku terlalu berlebihan?” “Meskipun aku sudah tak ada tapi aku slalu
ada disini, di hatimu sayang.” Dia menunjuk dada Qarina.
Tak
ada lagi yang bisa mencegah. Pelukan itu pelukan hangat untuk terakhir kalinya.
Senyuman itu senyuman manis untuk terakhir kalinya. Tiada lagi , Tiada lagi
yang bisa menggantikannya. Hanya dia.
∞∞∞
“Ayah, tak mau kah ayah berpikir lagi? Sebelum
semuanya terjadi.” Rayu Qarina kepada sang Ayah setelah sarapan bersama
keluarga besarnya. “Sudah tidak bisa keputusan ini sudah bulat. Semuanya sudah
setuju, apa lagi yang harus dipikirkan?” Ayah meneguk sidikit demi sedikit kopi
buatan anak gadis nya itu. “Ayah , please..” Qarina memohon. Ayah hanya
menjawab dengan gelengan perlahan.
Qarina meninggalkan sang Ayah dengan kepala menunduk
dan mata berkaca-kaca. Ayah hanya bisa pasrah semuanya sudah selesai dan tak
ada lagi yang perlu di fikirkan lagi. Besok adalah hari penentuan entah apa
yang akan terjadi. Apakah Qarina sanggup menghadapinya.
“Bunda, tak bisakah bunda membujuk ayah dan paman?
Bunda tau khan aku sangat mencintainya? ” Ucap Qarina sambil menangis tersedu.
“Tidak bisa sayang semua sudah rampung, tidak bisa di batalkan. Maafkan Bunda
ya nak. Bunda tau kamu sayang banget sama gubuk itu.” Bunda mengelus putri
satu-satunya itu.
“Itu bukan gubuk Bunda, itu istana. Qarina nyaman
ada disana. Bahkan ini belum seratus hari sepeninggalan nenek. Kenapa semuanya
jadi begini?” Qarina mulai tersulut emosi. “Sabar sayang, ini juga demi
kebaikan kamu.” “Kebaikanku? Bukan kah ini demi kebaikan paman dan Ayah? Buat
apa mereka meruntuhkan rumah nenek untuk di jadikan toko yang belum tentu
sukses ?” “Sayang, toko itu nantinya kamu juga yang mengelola, untuk
menyalurkan apa yang sudah kamu pelajari selama kuliah.“ “Qarina nggak mau
berdagang di atas toko bekas rumah nenek. Titik”.
Qarina berlari entah kemana, ia benar-benar ingin
sendiri. Karena tak ada lagi yang dapat mengerti perasaannya. Hanya Nenek dan
rumah itu. “Ya Allah, kenapa kau ambil nenekku begitu cepat bagiku ?”
∞∞∞
“Qarina
mau pisang rebus?” Nenek datang membawakan pisang rebus kesukaannya.Dan Qarina
melahap semuanya hingga habis, mereka tertawa dan bercanda berdua tanpa
seorangpun yang menggangu. Dan diding geddek
dan atap kayu itu saksi semua kenangan itu.
Astagfirullah,
Khayalan lagi. Qarina kembali duduk di tempat yang semalam dia duduki. Tempat
yang membuatnya bisa tertidur pulas hingga sang surya menyinari. Di luar rumah
saja bisa tidur sebegitu pulasnya apa lagi di dalam. Rumah itu, entah berapa
tahun sudah usianya. Yang pasti besok adalah akhir semua perjalanannya.
Setidaknya
sudah 21 tahun dia mengenal rumah itu, seluk beluknya bahkan hampir semua
lubang ditempat itu Qarina tau. Sudah reot, tua, kuno dan pantas di robohkan
itulah anggapan Ayah dan Paman tentang istana Qarina ini. Tapi tidak bagi
Qarina. Disinilah dia menagis dan tertawa bersama Nenek. Menghabiskan hari-hari
sepi karena orang tuanya yang sibuk semaunya sendiri. Qarina tak rela dan tak
pernah rela bila rumah ini hancur.
∞∞∞
Assalamualaikum warrahmatullahi
wabarakatuh
Ayah, Bunda. Lanjutkan semuanya tanpa
Qarina. Mungkin nanti sore Qarina akan pulang. Qarina nggak sanggup menyaksikan
apa yang akan terjadi pagi ini.Terimakasih
Wassalamualaikum warahmatulahi
wabarakatuh.
Qarina Az-Zahra
Qarina
melangkah gontai ke pusara Nenek.
“Nek, maafin Qarina ya.. Qarina nggak bisa jaga apa yang Nenek punya, Hati Qarina sekarang sakit Nek. Nenek sudah nggak ada sekarang siapa lagi yang mau buatkan pisang rebus dan teh hangat buat Qarina kalau Qarina lagi sedih kayak gini? Qarina Sayang Nenek” Qarina pun menangis. Lantunan Surat Al-Fatehah pun terdengar terpotong-potong.
“Nek, maafin Qarina ya.. Qarina nggak bisa jaga apa yang Nenek punya, Hati Qarina sekarang sakit Nek. Nenek sudah nggak ada sekarang siapa lagi yang mau buatkan pisang rebus dan teh hangat buat Qarina kalau Qarina lagi sedih kayak gini? Qarina Sayang Nenek” Qarina pun menangis. Lantunan Surat Al-Fatehah pun terdengar terpotong-potong.
Pusara
Nenek masih basah, rumput liar pun belum tumbuh. Mungkin akan terus basah
dengan air mata Qarina. Dia kehilangan Nenek dan Gubuk itu. Gubuk yang sangat
dia sayangi. Semoga mereka tenang. Selamat jalan Nenek, doa Qarina menyertai
mu.
Pamekasan, 10 August 2011
Lokasi:
Pamekasan, Indonesia
Posting Pertama
Assalamualaikum Wr. Wb
Hai teman-teman Blogger yang saya hormati :)
Ini posting pertama saya ..
Sebagai Pemula InsyaAllah saya akan isi blog ini dengan catatan-catatan pribadi saya .. dan juga artikel-artikel yang semoga bermanfaat buat saya pribadi dan yang membacannya :)
Terimakasih :)
Wasalamualaikum Wr.Wb
Hai teman-teman Blogger yang saya hormati :)
Ini posting pertama saya ..
Sebagai Pemula InsyaAllah saya akan isi blog ini dengan catatan-catatan pribadi saya .. dan juga artikel-artikel yang semoga bermanfaat buat saya pribadi dan yang membacannya :)
Terimakasih :)
Wasalamualaikum Wr.Wb
Lokasi:
Pamekasan, Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)
