Selasa, 29 Mei 2012

Pancaroba

Hellow semua ...
Kangen postingku ?
Aku kembali neh dengan kegalauan setelah mau lulus SMP , dan mau kembali ke daerah asal setelah merantau selama ... 2 tahun di kota Pahlawan dan 13 tahun di pulau garam . Jadi total aku sudah merantau 15 tahun .. hahaha .. gak penting ..
Tapi yang paling penting unforgotable memory yang aku alami 3 tahun belakangan ini .. about friendship and love story :)
Tentang Friend dulu ah ...
Do you Know D'Chorone'Z ?
Gak tau ? .. ah Hidup di hutan mana sih loe ?
Neh , aku kasi tau ..
D'Chorone'Z is one of  inept organisation . But , overthere you can find the happiness ..
Gak percaya ?
Ya udah ..
Perasaan baru tadi pagi aku ikut kegiatan MOS di SMPN 1 Pamekasan , tapi kok rasanya cepet banget ya Sekarang udah mau pengumuman, udah UN , udah perpisahan, udah kaya orang linglung tiap hari gak ada kerjaan mondar-mandir dari rumah ke sekolah ke rumah ke sekolah dan seterusnya ..
Hemb ... Masa Pancaroba dari putih biru tua ke putih abu-abu .
Bikin aku panas dingin ....
Dan ternyata bukan cuma aku aja , banyak juga temen-temen yang dag dig dug nunggu hasil ..
Yah , begini lah nasibku mengelandang bersama D'Chorone'Z .... :)

Minggu, 27 Mei 2012

Limited edition


Saat Akur sama adek ku ituh .. Limited edition banget ...
Jadi di bingkai dalem foto aja biar bisa di ingat :)


Aku Tak Rela


Dinginya udara malam yang dingin menyekik dan seakaan ingin menghancurkan tulang itu pun, tak menyurutkan niat Qarina untuk tetap duduk di teras rumah tua itu. Tidak bisa di sebut teras karena hanya tanah yang berbentuk gundukan. Rumah itu kecil memang, namun menyimpan jutaan kenangan indah. Kenangan masa kecil kakek yang tak pernah dia tau rupanya yang kini telah tiada dan hanya meninggalkan rumah itu dan berjuta kenangannya. Tak terasa bulir air mata Qarina menetes satu demi satu.
“Jangan menangis sayang, aku baik-baik saja” Tangan lembut itu menggelus pundak gadis berjilbab yang beranjak dewasa itu. “Aku tak percaya kamu baik-baik saja,aku bisa merasakannya. Janganlah kamu berdusta.” Qarina beringsut menjauh. “Semua akan baik-baik saja, meskipun tanpa aku. Sudah waktunya aku pergi , aku sudah tak layak bagimu. Dan kamu pasti akan temukan penggantiku tak lama lagi” Bujuknya menghibur. “Nggak, nggak ada yang bisa menggantikan kamu. Kamu sangat berarti bagiku, Cuma kamu.”
“Itu bagimu, tak begitu bagi keluargamu. Apalah arti diriku ini di hadapan mereka?” “Aku tak perduli apa pun yang mereka katakan dan mereka lakukan.  Aku Cuma mau kamu tetap disini itu saja. Apa permintaanku terlalu berlebihan?” “Meskipun aku sudah tak ada tapi aku slalu ada disini, di hatimu sayang.” Dia menunjuk dada Qarina.
Tak ada lagi yang bisa mencegah. Pelukan itu pelukan hangat untuk terakhir kalinya. Senyuman itu senyuman manis untuk terakhir kalinya. Tiada lagi , Tiada lagi yang  bisa menggantikannya. Hanya dia.
∞∞∞
“Ayah, tak mau kah ayah berpikir lagi? Sebelum semuanya terjadi.” Rayu Qarina kepada sang Ayah setelah sarapan bersama keluarga besarnya. “Sudah tidak bisa keputusan ini sudah bulat. Semuanya sudah setuju, apa lagi yang harus dipikirkan?” Ayah meneguk sidikit demi sedikit kopi buatan anak gadis nya itu. “Ayah , please..” Qarina memohon. Ayah hanya menjawab dengan gelengan perlahan.
Qarina meninggalkan sang Ayah dengan kepala menunduk dan mata berkaca-kaca. Ayah hanya bisa pasrah semuanya sudah selesai dan tak ada lagi yang perlu di fikirkan lagi. Besok adalah hari penentuan entah apa yang akan terjadi. Apakah Qarina sanggup menghadapinya.
“Bunda, tak bisakah bunda membujuk ayah dan paman? Bunda tau khan aku sangat mencintainya? ” Ucap Qarina sambil menangis tersedu. “Tidak bisa sayang semua sudah rampung, tidak bisa di batalkan. Maafkan Bunda ya nak. Bunda tau kamu sayang banget sama gubuk itu.” Bunda mengelus putri satu-satunya itu.
“Itu bukan gubuk Bunda, itu istana. Qarina nyaman ada disana. Bahkan ini belum seratus hari sepeninggalan nenek. Kenapa semuanya jadi begini?” Qarina mulai tersulut emosi. “Sabar sayang, ini juga demi kebaikan kamu.” “Kebaikanku? Bukan kah ini demi kebaikan paman dan Ayah? Buat apa mereka meruntuhkan rumah nenek untuk di jadikan toko yang belum tentu sukses ?” “Sayang, toko itu nantinya kamu juga yang mengelola, untuk menyalurkan apa yang sudah kamu pelajari selama kuliah.“ “Qarina nggak mau berdagang di atas toko bekas rumah nenek. Titik”.
Qarina berlari entah kemana, ia benar-benar ingin sendiri. Karena tak ada lagi yang dapat mengerti perasaannya. Hanya Nenek dan rumah itu. “Ya Allah, kenapa kau ambil nenekku begitu cepat bagiku ?”
∞∞∞
“Qarina mau pisang rebus?” Nenek datang membawakan pisang rebus kesukaannya.Dan Qarina melahap semuanya hingga habis, mereka tertawa dan bercanda berdua tanpa seorangpun yang menggangu. Dan diding geddek dan atap kayu itu saksi semua kenangan itu.
Astagfirullah, Khayalan lagi. Qarina kembali duduk di tempat yang semalam dia duduki. Tempat yang membuatnya bisa tertidur pulas hingga sang surya menyinari. Di luar rumah saja bisa tidur sebegitu pulasnya apa lagi di dalam. Rumah itu, entah berapa tahun sudah usianya. Yang pasti besok adalah akhir semua perjalanannya.
Setidaknya sudah 21 tahun dia mengenal rumah itu, seluk beluknya bahkan hampir semua lubang ditempat itu Qarina tau. Sudah reot, tua, kuno dan pantas di robohkan itulah anggapan Ayah dan Paman tentang istana Qarina ini. Tapi tidak bagi Qarina. Disinilah dia menagis dan tertawa bersama Nenek. Menghabiskan hari-hari sepi karena orang tuanya yang sibuk semaunya sendiri. Qarina tak rela dan tak pernah rela bila rumah ini hancur.
∞∞∞
       Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Ayah, Bunda. Lanjutkan semuanya tanpa Qarina. Mungkin nanti sore Qarina akan pulang. Qarina nggak sanggup menyaksikan apa yang akan terjadi pagi ini.Terimakasih
Wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh.
Qarina Az-Zahra
Qarina melangkah gontai ke pusara Nenek.
“Nek, maafin Qarina ya.. Qarina nggak bisa jaga apa yang Nenek punya, Hati Qarina sekarang sakit Nek. Nenek sudah nggak ada sekarang siapa lagi yang mau buatkan pisang rebus dan teh hangat buat Qarina kalau Qarina lagi sedih kayak gini? Qarina Sayang Nenek” Qarina pun menangis. Lantunan Surat Al-Fatehah pun terdengar terpotong-potong.
Pusara Nenek masih basah, rumput liar pun belum tumbuh. Mungkin akan terus basah dengan air mata Qarina. Dia kehilangan Nenek dan Gubuk itu. Gubuk yang sangat dia sayangi. Semoga mereka tenang. Selamat jalan Nenek, doa Qarina menyertai mu.
Pamekasan, 10 August 2011

Posting Pertama

Assalamualaikum Wr. Wb
Hai teman-teman Blogger yang saya hormati :)
Ini posting pertama saya ..
Sebagai Pemula InsyaAllah saya akan isi blog ini dengan catatan-catatan pribadi saya .. dan juga artikel-artikel yang semoga bermanfaat buat saya pribadi dan yang membacannya :)
Terimakasih :)
Wasalamualaikum Wr.Wb