Minggu, 10 Juni 2012

Tatapanmu dan Cinta ini (Cerpen VII)


Hujan turun rintik – rintik pagi ini, ku sambut dengan larian nakal. Nafasku yang pendek dan tersengal – sengal tak membuatku mencoba untuk berhenti berlari. Jam di tanganku menunjukan pukul 08.30, berarti aku sudah terlambat 30 menit. Aku masih saja tak ingin di salahkan, Karena ini bukan salahku memang. Schedule dari pihak pembuat acara yang tidak tepat waktu. Dan karena itu, kini aku harus berlari secepat mungkin di bawah rintik hujan.
Aku mencari tempat dudukku di ruang yang sudah di tentukan. Ternyata aku belum terlambat karena partner ku juga belum tiba di ruangan itu. Ya, aku berada di salah satu ruang di lantai dua  sebuah universitas negeri di Pamekasan. Berlari untuk sampai di tempat yang sebagian besar kursinya masih kosong. Menyebalkan sekali hari ini, apa lagi saat di tangga tadi aku sempat menabrak seseorang yang tak asing lagi bagiku. Entah apa karena aku membencinya atau aku takut dan menghindar, setelah menabraknya aku berlari begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
          Lomba akan di mulai 30menit lagi, anjrit kurang ajar ne panitia lomba. Tau gitu tadi aku nggak perlu lari – lari kayak orang kesetanan. Ne mana lagi partner ku koq belum datang juga. Alih – alih partnerku yang datang malah orang yang aku tabrak tadi menuju ruangan dan bangku ku bersama teman - temannya. Kalau sesama perempuan sih wajar, tapi kini yang menarik tanganku dan mencengramnya erat – erat adalah sorang pria.
          Aku yang di tarik menurut saja tanpa melawan dan tak berani menatap matanya. Dia membawaku ke sudut kecil salah satu ruangan yang kosong, teman -  temannya berjaga dan menunggu di luar. Dia menyandarkan ku di dinding dan sambil terus mencengram tanganku kuat –kuat.
‘Kenapa sih lu kalo liat gua kaya liat setan ? emang gua salah apa ke lu ?’
‘Ha? ’  aku masih kebinggungan dengan apa yang dia katakan.
‘Kenapa lu selalu lari dari gua? Lu kenapa?’
Aku berusaha melepaskan cengkramannya yang makin kuat menggengam tanganku.
‘Gua mau liat elu apa enggak itu terserah gua. Sekarang lepasin tangan gua !’ Akhirnya aku membentaknya juga.
Aku tak tahu apa dia takut atau karena bel pertanda lomba di mulai sudah berbunyi, perlahan dia melepas cengramannya dari tanganku. Dan berlalu begitu saja meninggalkanku. Aku merapikan jilbab ku dan pakaianku, kemudian aku berjalan ke ruang lomba yang akan di mulai pagi itu dengan perasaan gugup.
∞∞∞
          Aku duduk di bangku taman itu bersama ketiga temanku, membicarakan tentang soal lomba matematika yang baru saja aku ikuti. Tiba – tiba ponsel ku bergetar pertanda ada sms masuk.
Gua tunggu lu d dpn gerbang. Ad yg mw gua omongin. Penting
          Alah, perlu apa lagi orang ini. Sudah cukup tersiksa aku selama ini karenanya. Karena selalu menghindar dari tatapan matanya, tatapan mata yang selalu mampu membuatku melayang menyusuri pelangi cinta. Aku berfikir sejenak , lebih baik aku abaikan saja ajakannya kali ini. Aku tak ingin rasa cintaku kembali tumbuh padanya.
          Hujan kembali turun rintik – rintik . Aku dan teman – temanku memilih berteduh di masjid universitas itu menunggu Ayahku menjemput. Dia dan teman – temannya ternyata juga memilih berteduh di masjid. Aku sengaja berpura-pura menutup mata dan bersandar di dinding seolah tak melihatnya. Sungguh aku tak ingin kembali menatap matanya yang menggoda itu.
          Hujan tak kunjung reda, Ayah ku datang dengan mobil kesayangannya. Dia menjemputku ke masjid dengan payung berwarna merah jambu, payung kesukaanku. Aku hanya berpamitan dengan teman-teman ku tanpa sedikitpun meliriknya.
∞∞∞
          Guru pembimbingku menelpon ponselku sore itu, dan mengatakan aku berhasil masuk ke babak selanjutnya dalam lomba di universitas itu. Entah bahagia atau takut, aku tak tahu apa yang ada di fikiranku sekarang. Kalau aku masuk pasti aku akan bertemu dengannya lagi besok. Bertemu dengan tatapan mata dan parasnya, sungguh aku tak sanggup lagi menghindar darinya.
          Keesokan paginya, semua seolah berjalan lancar. Lancar karena aku selalu menutup mata setiap melihatnya. Hingga aku berhasil mendapat juara, aku dan temanku berdiri bersebelahan dengannya untuk menerima piagam, aku tetap memejamkan mata. Aku tak ingin melihatnya lagi, melihatnya membuatku sakit.
          Dadaku sesak, sesak karena menahan sakit ini. Air mataku seolah ingin mengalir dengan deras. Apa benar yang selama ini ku lakukan, semua ini makin membuatku menderita. Sungguh aku tak sanggup bila seumur hidupku harus begini terus.
          Ayahku belum juga menjemput, jam di tanganku menunjukan pukul 18.00. padahal aku tadi sudah mengirimkan sms pada Ayahku. Tapi, entahlah mengapa Ayah belum jua datang. Dia datang membawa sepeda motor nya, menawarkan aku tumpangan untuk mengantarku pulang. Tanpa menatapnya aku menolak tawarannya.
          Dia turun dari sepeda motornya, menuntunku ke tempat yang agak sepi.
‘Sebenernya lu kenapa ? sudah lama kita kenal. Kenapa lu berubah sikap ama gua?’ Dia menatapku lekat – lekat.
          Aku mulai berani menatap matanya dengan mataku yang mulai menumpahkan air mata.
‘Gua ngehindari lu, Han. Soalnya gua nggak mau sahabat gua benci ama gua. Anita sayang sama elu, Han. Jauhi gua Han, please’
‘Apa elu suka ama gua ?’
‘Apa elu harus tahu perasaan gua ? nggak khan ? Lagian sekarang gua sudah ada yang punya. Cintai Anita, Han. Buat dia bahagia.’
‘Enggak Win, Gua sayang sama ama lu. Bukan ama Nita, gua gak peduli lu udah ada yang punya ato nggak. Tapi perasaan gua nggak berubah ama lu.’ Satu tangannya menyentuh tanganku , dan satunya menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
‘Gua sayang sama elu, nggak berarti gua harus miliki lu. Gua lari karna gua takut gua makin sayang and makin nggak bisa ngelupain lu Han.’ Aku melepas tanganku dari nya dan mulai berdiri tegak.
‘Windi, lu nggak perlu ngorbanin perasaan lu demi gua win, hidup gua nggak lama lagi. Gua nggak bisa buat Rayhan bahagia, bagi gua bisa mencintai dia saja sudah buat hidup gua sempurna.’ Anita datang dengan kursi rodanya.
‘Nita, gua nggak maksud buat..’ Aku ingin menjelaskan semua ini.
‘Gua sudah tahu semuanya Win, gua tahu lu pura-pura pacaran ama mas Bayu biar gua ngira lu nggak suka sama Rayhan. Lu nggak usah korbanin kebahagiaan lu Win, nggak usah berusaha buat gua bahagia. Hidup gua sudah bahagia punya sahabat kaya lu and ada cowok yang gua sukai di akhir sisa umur gua.’
          Aku menangis dan memeluk Anita. Rayhan mengelus pundakku perlahan, entah bagaimana caranya Anita bisa ada di universitas itu. Tapi seminggu setelah itu, Anita berpulang ke sisi-Nya. Membiarkan aku bahagia dengan Rayhan dan membiarkan aku terus menatap mata Rayhan yang indah tanpa perlu menghindarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar