Hujan turun rintik – rintik pagi ini, ku sambut
dengan larian nakal. Nafasku yang pendek dan tersengal – sengal tak membuatku
mencoba untuk berhenti berlari. Jam di tanganku menunjukan pukul 08.30, berarti
aku sudah terlambat 30 menit. Aku masih saja tak ingin di salahkan, Karena ini
bukan salahku memang. Schedule dari pihak pembuat acara yang tidak tepat waktu.
Dan karena itu, kini aku harus berlari secepat mungkin di bawah rintik hujan.
Aku mencari tempat dudukku di ruang yang sudah di
tentukan. Ternyata aku belum terlambat karena partner ku juga belum tiba di
ruangan itu. Ya, aku berada di salah satu ruang di lantai dua sebuah universitas negeri di Pamekasan.
Berlari untuk sampai di tempat yang sebagian besar kursinya masih kosong.
Menyebalkan sekali hari ini, apa lagi saat di tangga tadi aku sempat menabrak
seseorang yang tak asing lagi bagiku. Entah apa karena aku membencinya atau aku
takut dan menghindar, setelah menabraknya aku berlari begitu saja tanpa
mengucapkan sepatah katapun.
Lomba akan di mulai 30menit lagi,
anjrit kurang ajar ne panitia lomba. Tau gitu tadi aku nggak perlu lari – lari
kayak orang kesetanan. Ne mana lagi partner ku koq belum datang juga. Alih –
alih partnerku yang datang malah orang yang aku tabrak tadi menuju ruangan dan
bangku ku bersama teman - temannya. Kalau sesama perempuan sih wajar, tapi kini
yang menarik tanganku dan mencengramnya erat – erat adalah sorang pria.
Aku yang di tarik menurut saja tanpa
melawan dan tak berani menatap matanya. Dia membawaku ke sudut kecil salah satu
ruangan yang kosong, teman - temannya
berjaga dan menunggu di luar. Dia menyandarkan ku di dinding dan sambil terus
mencengram tanganku kuat –kuat.
‘Kenapa
sih lu kalo liat gua kaya liat setan ? emang gua salah apa ke lu ?’
‘Ha?
’ aku masih kebinggungan dengan apa yang
dia katakan.
‘Kenapa
lu selalu lari dari gua? Lu kenapa?’
Aku
berusaha melepaskan cengkramannya yang makin kuat menggengam tanganku.
‘Gua
mau liat elu apa enggak itu terserah gua. Sekarang lepasin tangan gua !’
Akhirnya aku membentaknya juga.
Aku tak tahu apa dia takut atau karena bel pertanda
lomba di mulai sudah berbunyi, perlahan dia melepas cengramannya dari tanganku.
Dan berlalu begitu saja meninggalkanku. Aku merapikan jilbab ku dan pakaianku,
kemudian aku berjalan ke ruang lomba yang akan di mulai pagi itu dengan
perasaan gugup.
∞∞∞
Aku duduk di bangku taman itu bersama ketiga temanku,
membicarakan tentang soal lomba matematika yang baru saja aku ikuti. Tiba –
tiba ponsel ku bergetar pertanda ada sms masuk.
Gua tunggu lu d dpn gerbang. Ad yg
mw gua omongin. Penting
Alah, perlu apa lagi orang ini. Sudah cukup tersiksa aku
selama ini karenanya. Karena selalu menghindar dari tatapan matanya, tatapan
mata yang selalu mampu membuatku melayang menyusuri pelangi cinta. Aku berfikir
sejenak , lebih baik aku abaikan saja ajakannya kali ini. Aku tak ingin rasa
cintaku kembali tumbuh padanya.
Hujan kembali turun rintik – rintik . Aku dan teman –
temanku memilih berteduh di masjid universitas itu menunggu Ayahku menjemput.
Dia dan teman – temannya ternyata juga memilih berteduh di masjid. Aku sengaja
berpura-pura menutup mata dan bersandar di dinding seolah tak melihatnya.
Sungguh aku tak ingin kembali menatap matanya yang menggoda itu.
Hujan tak kunjung reda, Ayah ku datang dengan mobil
kesayangannya. Dia menjemputku ke masjid dengan payung berwarna merah jambu,
payung kesukaanku. Aku hanya berpamitan dengan teman-teman ku tanpa sedikitpun
meliriknya.
∞∞∞
Guru pembimbingku menelpon ponselku sore itu, dan
mengatakan aku berhasil masuk ke babak selanjutnya dalam lomba di universitas
itu. Entah bahagia atau takut, aku tak tahu apa yang ada di fikiranku sekarang.
Kalau aku masuk pasti aku akan bertemu dengannya lagi besok. Bertemu dengan
tatapan mata dan parasnya, sungguh aku tak sanggup lagi menghindar darinya.
Keesokan paginya, semua seolah berjalan lancar. Lancar
karena aku selalu menutup mata setiap melihatnya. Hingga aku berhasil mendapat
juara, aku dan temanku berdiri bersebelahan dengannya untuk menerima piagam, aku
tetap memejamkan mata. Aku tak ingin melihatnya lagi, melihatnya membuatku
sakit.
Dadaku sesak, sesak karena menahan sakit ini. Air mataku
seolah ingin mengalir dengan deras. Apa benar yang selama ini ku lakukan, semua
ini makin membuatku menderita. Sungguh aku tak sanggup bila seumur hidupku
harus begini terus.
Ayahku belum juga menjemput, jam di tanganku menunjukan
pukul 18.00. padahal aku tadi sudah mengirimkan sms pada Ayahku. Tapi, entahlah
mengapa Ayah belum jua datang. Dia datang membawa sepeda motor nya, menawarkan
aku tumpangan untuk mengantarku pulang. Tanpa menatapnya aku menolak
tawarannya.
Dia turun dari sepeda motornya, menuntunku ke tempat yang
agak sepi.
‘Sebenernya lu kenapa ?
sudah lama kita kenal. Kenapa lu berubah sikap ama gua?’ Dia menatapku lekat – lekat.
Aku mulai berani menatap matanya dengan mataku yang mulai
menumpahkan air mata.
‘Gua ngehindari lu,
Han. Soalnya gua nggak mau sahabat gua benci ama gua. Anita sayang sama elu,
Han. Jauhi gua Han, please’
‘Apa elu suka ama gua
?’
‘Apa elu harus tahu
perasaan gua ? nggak khan ? Lagian sekarang gua sudah ada yang punya. Cintai
Anita, Han. Buat dia bahagia.’
‘Enggak Win, Gua sayang
sama ama lu. Bukan ama Nita, gua gak peduli lu udah ada yang punya ato nggak.
Tapi perasaan gua nggak berubah ama lu.’ Satu tangannya menyentuh tanganku ,
dan satunya menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
‘Gua sayang sama elu,
nggak berarti gua harus miliki lu. Gua lari karna gua takut gua makin sayang
and makin nggak bisa ngelupain lu Han.’ Aku melepas tanganku dari nya dan mulai
berdiri tegak.
‘Windi, lu nggak perlu
ngorbanin perasaan lu demi gua win, hidup gua nggak lama lagi. Gua nggak bisa
buat Rayhan bahagia, bagi gua bisa mencintai dia saja sudah buat hidup gua
sempurna.’ Anita datang dengan kursi rodanya.
‘Nita, gua nggak maksud
buat..’ Aku ingin menjelaskan semua ini.
‘Gua sudah tahu
semuanya Win, gua tahu lu pura-pura pacaran ama mas Bayu biar gua ngira lu
nggak suka sama Rayhan. Lu nggak usah korbanin kebahagiaan lu Win, nggak usah
berusaha buat gua bahagia. Hidup gua sudah bahagia punya sahabat kaya lu and ada
cowok yang gua sukai di akhir sisa umur gua.’
Aku menangis dan memeluk Anita. Rayhan mengelus pundakku
perlahan, entah bagaimana caranya Anita bisa ada di universitas itu. Tapi
seminggu setelah itu, Anita berpulang ke sisi-Nya. Membiarkan aku bahagia
dengan Rayhan dan membiarkan aku terus menatap mata Rayhan yang indah tanpa
perlu menghindarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar