Senin, 22 Februari 2016

Happy Birthday My Ex !

Dear My Ex !
Long time no see since we make a deal to stop this damn story. it was so long time ago. I have not no idea any more to say that i still miss you till nowadays.
My unforgettable ex , Did you know ? Today i make a fake account to see how much you were happy with your girlfriend now. I missed your smile so much ever a stupid girl done. I know that i'll crying, but how much it hurt me my mind said that i have to ignore it. My mind said to against my heart, my heart said that my mind is crazy. It was so complicated to understand.
I think you were never wanna know what in my mind and heart saying everyday about you. Bout how much i miss you ? How much i really wanna to see you again? What going on in your mind till you were block all my social media ? Was it make you happy? How much you hate me? What kind of sin that i made to you?
Oh shit, what kind of damn love this is? I have a boyfriend actually but all of you were flying around my mind. You make me going crazy.
I wish bout you all the happiness, blessing and all of good wishes can say. You ever be someone special in my life.
Please stop hate me if you didn't  love me anymore. I just wanna make a pure friendship with you. Let me to see you, to know your life, or just let me to say Hello.
I really miss you so bad.
Happy Birthday my ex !

Selasa, 13 Oktober 2015

Impian Anak Pahlawan Devisa



            Allahu Akbar Allahu Akbar ….
            Suara Adzan Shubuh berkumandang, masuk kedalam telinga insan yang masih terlelap dalam mimpi yang menjanjikan. Suara itu menembus dinding kayu rumah tua yang sudah mulai lapuk termakan usia. Remaja jakung yang tidur beralaskan selembar tikar dalam rumah itu masih enggan bangun, dia malah semakin menarik sarung yang dia gunakan sebagai selimut untuk menutupi tubuhnya. Bukannya tidak mendengar seruan untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan itu, tapi dia ingin tau masihkah Ibunya memberinya perhatian mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-17.
            Bukan apa-apa, seperti kebanyakan remaja lainnya Awan hanya ingin mendapatkan kado dari kedua orang tuanya. Seperti teman-temannya, ada yang mendapatkan hadiah sepeda motor merek Ninja, Handphone model terbaru dengan Operating System yang tercanggih, Jam tangan mahal, atau sekedar makan malam bersama di restaurant bersama keluarga. Bisakah aku seperti mereka? Itulah yang selalu ada di dalam benak Awan.
            Ah, jangankan kado semewah itu, hanya sekedar berkumpul bersama pun dia tak bisa dapatkan dari orang-orang yang bisa dia sebut keluarga. Bukan anak yang cerdas dengan segudang prestasi, bukan anak dari orang-orang yang berada, tak pula memiliki wajah rupawan. Hanya hidup sederhana di sebuah desa dari kota yang memiliki julukan Kota Reog. Dengan kehidupan yang apa adanya tidak pernah membuat Awan menyesali semua yang telah terjadi. Awan hanya ingin jadi maunusia yang lebih baik dan tidak selalu dianggap sebelah mata oleh banyak orang.
            “Awan ! Sudah Shubuh , sana ke Masjid. Anak muda kok malas-malasan” Teriakan Ibu dari rumah belakang memaksa Awan bangun dari tidurnya.
            Okelah, itu kalimat yang pertama Ibu ucapkan, bukan Selamat ulang Tahun atau bilang kalau Ibu sayang aku gitu. Gerutu Awan di dalam hati.      
            Awan melangkah agak enggan menuju tempat wudhu masjid, membasuh wajah dengan air yang lumayan dingin cukup membuat matanya kembali terjaga. Sayup-sayup terdengar suara Radit dan Sahid teman Awan membicarakan tentang Mas Aji sudah bukan hal yang spesial lagi bila di desa Awan ada sedikit saja kejadian pastilah tak sampai hitungan 24 jam sudah menyebar seantero desa.
            Iyo, Mas Aji sudah kuliah di kota  juga akhirnya tetep jadi TKI, ya sama seperti Bapak dan Pak De nya. Katanya dia mau berangkat minggu depan.” Suara Sahid yang berat terdengar cukup keras di pagi yang sunyi itu.
            “Padahal itu si Zen temenku seangkatan dulu di SMP itu sekarang jadi satpam pabrik di Surabaya. Kata Ibukku kemarin,Ibunya Zen itu cerita kalau sekarang dia sudah bisa kirim uang, malah katanya disana sudah punya sepeda motor baru. Gak usah jauh-jauh ke Negara orang sudah ada penghasilan.” Radit menimpali pembicaraan.
            “Heh, pagi-pagi kok sudah ngrasani orang toh. Ayo jamaah dulu itu Pak Maridin sudah mau Iqomah.” Awan memutuskan acara gossip ala cowok di pelataran masjid bercat hijau muda itu.
∞∞∞
            “Jadi gimana wan, cuma kamu pemuda dari kampung kita yang sampai saat ini bisa jebol gerbang SMA 1 Ponorogo, SMA terfavorit di kota ini. Mau jadi apa kamu nanti, masak Cuma seperti Mas Aji?”
            Pertanyaan dari Radit yang menohok hati kecil Awan masih terus menjadi beban di pikiran Awan. Benar adanya pertanyaan itu, sudah susah-susah masuk SMA, mahal pula bayarnya, masak Cuma mau jadi orang biasa. Berjuta tanda tanya menari di otak Awan. Hingga Awan tak sadar bahwa Pak Samlan guru Sosiologi sudah masuk kelas.
            Ruang kelas yang penuh nuansa biru mulai tenang, tidak seperti guru lainnya Pak Samlan ini guru yang istimewa. Beliau tak seperti kebanyakan guru lain yang tidak bisa berbaur dengan siswa dan kadang terkesan kaku. Di mata anak IPS khususnya anak IPS 3 ini Pak Samlan  memiliki wibawa, beliau memandang anak-anak IPS sebagai anak-anak yang istimewa pula, bukan anak badung, bodoh, susah diatur seperti anggapan guru-guru lainnya. Anak IPS punya kecerdasan yang berbeda dari anak IPA yang setiap hari berkutat dengan buku-buku tebal berisi mantra-mantra ajaib.   Mulai dari insisivus, tubulus kontortus distal, senyawa amvoter, dan sebagainya yang bisa membuat lidah keseleo bila membacanya.
            “Eh Wan, kamu kenapa benggong ? Mikirin hutang yang numpuk ke Bu Pian ya ?” Sontak gelak tawa membahana diseluruh kelas tapi malah membuat pipi Awan memerah karena ketahuan sedang melamun. Apalagi tersebut nama Bu Pian, penjaga kantin sekolah yang biasanya di jadikan tempat membolosoleh anak-anak IPS saat lagi malas mengikuti pelajaran.
            “Aku pagi ini baca Koran cah, menurut survey angka perceraian di Kabupaten Ponorogo itu meningkat lantaran banyaknya masyarakat yang kerja di luar negeri, menurut kalian piye cah?” Pak Samlan membuka topik pembicaraan.
            “Anu, pak. Gara-gara kangen bojo itu pak, kan jadi TKI gak Cuma bentar pak” Jawab Bagong sekenannya. Nama aslinya Hario tapi karena tubuhnya yang gempal lantas kemudian teman-temannya memanggil dia Bagong.
            “Kangen bojo piye to Gong? “ Sandra bertanya.
            “Kangen anu anu , ih masak gak paham to ?” Bagong menjawab dengan mimic wajah yang aneh. Sebagian besar anak lelaki di kelas itu lantas tertawa, oh bukan seluruh termasuk juga Awan dan Pak Samlan.
            “Tuh kan pikirannya kotor” Sandra mulai cemberut.
            “Yang kotor itu pikiranmu San, anu anu itu kayak sholat berjamaah bersama keluarga, jalan-jalan waktu liburan. Gitu loh” Bagong menjelaskan.
            “ Alibi , tauk ah.” Sandra malu karena sudah berfikir yang aneh soal pembicaraan Bagong.
            “Mungkin gara-gara jarang dapet perhatian pak, kan cinta yang setia akan terkalahkan dengan cinta yang selalu ada.” Ujar Zahrana, gadis berjilbab putih yang suka sekali menonton film Korea.
            Disaat teman-temannya dan Pak Samlan mendiskusikan masalah perceraian dan TKI, Awan kembali tenggelam dalam lamunannnya.
            “Wan, ngelamun apa lagi kamu?” Ucap Vean sambil menyenggol Awan yang tubuhnya lebih kecil darinya.
            Aku anak TKI, Aku gak mau sampai orangtuaku bercerai, aku gak mau nanti aku juga jadi TKI, Aku kangen  Bapakku. Aku pengen Bapakku  berhenti kerja di Negara orang, tapi aku bisa apa? Namun semua kata itu berganti
“Ah, aku rapopo”  Ujar Awan sambil tersenyum kecut.
∞∞∞
            “Aku pengen jadi pengusaha, aku pengen nanti aku bangun Pusat Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) agar nanti di kelola Bapakku, Aku pengen punya outlet Nasi Pecel Pincuk Tumpuk dan Sate Ayam Ponorogo terbesar di Jawa Timur untuk di kelola Ibuku. Aku pengen punya Stasiun televisi yang besar seperti punya Pak Choirul Tanjung.”
∞∞∞
10 tahun kemudian …
            Jalanan kampung ini masih sama seperti yang dulu masih makadaman atau hanya dari sususan batu tanpa bentuk , tanpa aspal. Hanya saja dulu Awan berjalan kaki diatas jalan ini, kini mobil Avanza berwarna Silver metalik menjadi tumpangannya melewati jalan berbatu ini. Tak ada yang menyangka, Awan yang serba biasa saja sekarang sudah cukup luar biasa di kampungnya.
            “Nak, ini tulisannmu to?” Ibunda Awan memberikan secarik kertas yang tinta tulisannya mulai menguning. Coretan tentang impiannya 10 tahun lalu yang hampir semuanya menjadi kenyataan.
            “Hehe.. Iya buk. Maaf ya buk, belum bisa terwujud semua.” Ujar Awan sambil meniup-niup kopi hitam dalam cangkir berwarna putih tulang buatan Ibunya.
            “Ini sudah hebat kok le, anak Bapak yang Cuma jadi pengais rejeki di Negara orang sekarang punya mobil. Bapak sudah gak jadi TKI, sekarang jadi pemilik PJTKI, Ibuk sudah punya warung Sate di Malang sama Surabaya, pegawainya dari pemuda sini juga biar gak cepet-cepet ke Malaysia atau Arab gara-gara kelamaan nganggur. Itu anak Mbok De sudah kamu batu kuliah semua, Pak De sudah kamu kasih sawah buat usaha. Biaya adekmu kuliah nanti juga sudah terjamin.” Jelas Bapak Awan yang 3 tahun setelah Awan masuk ke perguruan tinggi kembali ke Indonesia lantaran sudah terhitung lanjut usia.
            “Maaf ya le, Ibu sama Bapak Cuma ngerepotin kamu. Dulu belum selesai kamu kuliah Bapak Ibu udah gak bisa biayai, kamu malah kerja jadi kuli tinta. Sekarang kuli tintanya sukses punya macem-macem usaha. Ibu bangga sama kamu le” Tangan lembut Ibu mengelus pundak Awan.
            “Alhamdulillah  ya buk, di syukuri aja.” Awan tersenyum
            Tak lama kemudian terdengar suara sepedah motor dari luar. Sepertinya ada tamu yang datang.
            “Assalamualaikum … “ Suara Laila yang merdu terdengar, gadis manis berseragam putih abu-abu dan berjilbab ini masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru.
            Wajah Laila terlihat senang, mengetahui Mas satu-satunya pulang ke Rumah. Laila yang memang sepulang sekolah membawa berita gembira untuk keluarganya semakin tersenyum sumringah.
            “Mas Awan pulang to?” Laila kemudian mencium tangan kedua orang tua dan Mas nya.
            “Iya dek. Kok kelihatan seneng banget ada apa?” Awan melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Laila.
            “Gini mas, esai Laila masuk final mas. Esai yang Laila masukkan ke UGM Management itu Mas, doain Laila ya mas semoga bisa menang. Kalau menang nanti Laila gampang kalau mau kuliah di situ.” Cerita Laila penuh semangat.
            “Iya, mas doain yang terbaik. Mestipun Mas gagal jadi anak Managemen malah Cuma jadi Jurnalis, semoga adek Mas yang paling cantik ini bisa jadi anak Management dan sukses dunia akhiratnya. Amin” Awan membelai kepala adik perempuannya itu.
            “Amin Mas. Jurnalis tapi hebat, tiap pagi dan sore muncul di televisi baca berita. Laila bangga punya kakak seperti mas Awan. Mestipun belum bisa punya televisi sendiri seperti Pak Chairul Tanjung, minimal kan sudah jadi pegawainya Pak Chairul Tanjung. Ya kan pak , bu ? “ Laila terus memuji kakaknya.
            Awan tersenyum, indahnya mimpi bila menjadi nyata lebih indah daripada minpi itu sendiri. Tak dinanya tak di sangka , Awan yang hanya seorang anak pahlawan devisa kini mampu membanggakan orang tua. Mampu mematahkan keraguan para tetangga yang sebagian besar berfikir anak seorang TKI nantinya akan tetap menjadi TKI. Sedikit demi sedikit tetes peluh Awan kini mampu merangkai senyum di bibir kedua orang tuanya.
            Teruslah bermimpi, selama mimpi itu tidak di punggut biaya. Teruslah berusaha selama hayat masih di kandung badan. Bermimpilah setinggi tingginya karena saat impian tertinggi itu tak mampu kau raih, kau telah meraih level impian tinggi lain yang berada di bawahnya. Percayalah bila kau yakin atas satu langkah yang kau tempuh maka sudah terbuka seribu langkah yang lain untukmu agar terus maju.
            Ponorogo, 11 Juli 2014
Mazda Rachma Qunuti

SAMPAH INI KAMU !

Bila rindu ini adalah sampah
Maka biarkan menggunung, lalu bakarlah

Bila rindu ini adalah besi
Maka biarkanlah berkarat, lalu buanglah

Bila rindu ini adalah fosil
Maka biarkan terkubur, lalu lupakanlah

Bila rindu ini adalah pasir
Maka biarkan terhempas, lalu abaikanlah

Bila rindu ini adalah kamu
Maka biarkan aku menyimpannya, lalu terus mengingatnya

Bila rindu ini adalah kamu
Maka biarkan aku bertahan, lalu menikmatinya

Bila rindu ini adalah sampah bagi mu
Maka biarkan aku bertahan dalam gunungannya, lalu bakar aku didalamnya.

Rindu ini Sampah, Rindu ini Kamu.
SAMPAH INI KAMU !

Surabaya, 14 Oktober 2015
Pagi Buta. 00.45 WIB.
Mazda Rachma Qunuti

Rabu, 14 Mei 2014

Dear Adekku Sayang

Selamat Malam dek...
Saat mbak nulis catatan ini kamu lagi bermimpi indah entah apa ..
Dek, kamu tau kan kalau mbak sayang banget sama kamu ?
Dulu sebelum kamu lahir, mbak minta sama ayah sama ibu buat buatin adek. Buat nemenin main, biar mbak gak kesepian. Itu yang mbak mau dulu. Tapi terkadang impian tak sesuai dengan kenyataan, karena apa yang Allah realisasikan adalah yang terindah buat hamba-Nya. Kita gak pernah bisa main seperti apa yang mbak mau, kita gak bisa cerita cerita seperti yang mbak mau. Karena kamu cowok dan mbak cewek.
Mbak pernah inget sekali, mbak nangis sambil meluk kamu, mbak cerita semuanya. Tapi sayangnya kamu gak bisa ngerti. Gapapa kok dek, mbak gak pernah nyesel minta kamu ada di sini. Karena mbak tau Everything happend for a reason.
Dek, kamu pasti capek soalnya mau ujian.. Mbak juga pernah kok dek ngerasain itu, malah udah 2 kali. Berat dek memang, bukan hidup namanya kalau gak ada cobaan dan rintangannya. Bukan mbak sok pinter kok, ndak. Karena mbak yakin kalau mbak ngomong langsung kamu gak bakal mau dengerin. Entah kapan kamu mau baca tulisan ini dan kamu bakal ngerti.
Dek, pernah suatu hari temen mbak tanya "Siapa orang di dunia ini yang membuatmu tetep harus hidup ?" Mbak jawab "Adekku". Kenapa mbak jawab gitu dek ? Karena mbak sayang sama kamu, karena mbak tau saat nanti Ayah Ibu gak ada mbak cuma punya kamu. Karena kamu mbak gini.
Kamu tau dek susahnya jadi anak sulung? Selalu berusaha jadi yang terbaik biar bisa kamu contoh. Kamu kadang gak tau, kalau mbak lalai sedikit Ayah Ibu pasti langsung negur "Nanti adeknya ikut ikutan jelek loh"
Dulu aku yang minta kamu disini dek, aku ngerasa punya tanggung jawab buat jadikan kamu sesuatu. Caranya gimana? Aku jadi anak baik dengan harapan bisa kamu tiru. Tiap aku berbuat jelek yang aku fikirkan yaitu gimana nanti kalau kamu ikutan jelek ?
Dek, jangan kamu fikir Ayah Ibu lebih sayang sama Mbak, Ayah Ibu sayang kita berdua. Sayang banget.
Kamu juga sayang mereka kan dek ? Iya kan ?
Bahagiain mereka dek ..
Mbak juga manusia , mbak juga punya banyak kekurangan. Terkadang apa yang mbak impikan, rencanakan gak dapet persetujuan Allah. Proposalnya di tolak. Hehe ..
Jangan iri sama mbak , karena banyak hal yang Ayah Ibu kasih ke mbak. Karena dulu saat mbak seumur kamu mbak gak pernah sebahagia kamu sekarang.
Dek, mbak sayang banget sama Ayah Ibu ...
Mbak pengen banget bahagiain Ayah Ibu, terutama Ayah ...
Kamu tau kan dek apa yang Ayah mau ? Mbak gak bisa lakuin apa yang Ayah mau karena mbak perempuan, karena mbak sakit, dan karena mbak terlalu lemah buat ngelakuin apa yang Ayah mau.
Dek, mbak gak mau berandai gimana kalau mbak jadi laki-laki. Ndak. Mbak terima, seandainya suatu saat nanti mbak gak di sayang Ayah lagi gara - gara gak bisa nurutin impian Ayah mbak ikhlas kok dek. Asal kamu tetep di sayang Ayah..
Dek, kamu cowok jangan cenggeng, jangan kasar sama Ibu, jangan keras kepala.
Semua orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya. Ayah Ibu juga gitu.
Bahagiain Ayah ya dek .. Maafin mbak nambah bebanmu. Maafin mbak gak bisa nurutin Ayah.
Maaf ...
Dek, yang semangat ya belajarnya. Suatu saat kamu pasti ngerti kenapa kamu harus rajin belajar, kenapa Ibu bawel, kenapa mbak maksa kamu latian soal - soal ...
Dek, mbak sayang kamu. Kamu sayang gak sama mbak ?
Tetep jadi adek mbak yang baik yaa ..
Bahagiain Ayah Ibu, mbak mohon ...
Selamat Ujian adek, Semangat yaa sayang :*



Ponorogo, 14 Mei 2014
From :Mazda Rachma Qunuti
to      : Rizal Dwi Laksono





Senin, 18 November 2013

Ya Allah, Aku Bermimpi



Ya allah, jika aku boleh bermimpi ….
Dan mimpiku sedikit tidak masuk di akal manusia tapi aku yakin semua akan menjadi mudah di tangan-Mu.
Hari ini hari Senin, 14 Muharram 1435 H / 18 November 2013 pukul 06.35 PM. Saya Mazda Rachma Qunuti mendeklarasikan mimpi saya dan akan berusaha dan semangat untuk meraihnya. Aku Yakin semua akan terwujud perlahan tapi Pasti. InsyaAllah. Ammiinn ……..
Ya allah kembalikan lagi jiwaku yang hilang , tumbuhkanlah jiwa semangat dan antusias yang lebih daripada yang dulu.
1.     Lulus SNMPTN Undangan ITB / ITS
2.    Keterima di ITB / its . Fak. Teknik
3.    Bisa masuk 3 besar peringkat kelas
4.    Bisa masuk 10 besar peringkat Paralel sma
5.     Waktu kuliah bisa IP min. 3,5
6.    Habis S1 langsung S2 BIAYA SENDIRI
7.    Bisa Langsing
8.    Bisa naik pesawat GRATIS
9.    Bisa tidur di hotel berbintang  GRATIS
10. Dapat beasiswa kuliah di luar negeri
11.   Bisa naik Hajikan Ayah Ibu sebelum menikah
12.  Punya bisnis pribadi sebelum umur 30 tahun
13.  Bisa Jalan – jalan ke eropa GRATIS
14.  Bisa nyetir MOGE
15.   Bisa nyetir mobil
16.  Bisa punya pekerjaan tetap sebelum umur 27 tahun dengan Gaji  5 kali lipat dari Gaji terbesar Ayah
17.  Bisa Naik Haji sebelum dan Sesudah menikah BIAYA SENDIRI
18.  Punya Villa di Puncak
19.  Ketemu , ngobrol, salaman , sama Bapak Dahlan Ishkan
20. Saat Nikah Resepsi di Masjid Agung Surabaya Prasmanan
21. Saat umur 20 tahun harus hafal Jus Amma
22.  Artikel masuk ke Koran atau majalah Lokal
23.  Artikel di beli majalah atau Koran Nasional
24. Saat Kuliah bisa dapat penghasilan min. Rp 1.500.000,- per bulan
25.  Jadi ASDOS di Kampus
26. Bisa bukain Usaha buat Ibu di rumah min. Setelah Lulus S1
27.  Min. 10 Tahun dari sekarang  sudah bisa keliling ibu kota provinsi di Indonesia BIAYA SENDIRI
28.JADI REKTOR itB
29.Bisa belikan ayah mobil yang ayah mau bebas pilih
30.             Saat umur 20 tahun tinggi badan 170 berat badan 60 kg
31. Menikah setelah dapat pekerjaan
32. Dapat suami baik yang mengizinkan jadi wanita karir
33. UNTUK JADI REKTOR min. pendidikan S3
34.SAAT SMA , BISA NAIK KE PODIUM LAPANGAN UPACARA UNTUK MENYERAHKAN PIAGAM ATAU PIALA KEPADA KEPALA SEKOLAH UNTUK ALMAMATER TERCINTA
35. Bisa reunian ke pamekasan Maks. semester pertama S1
36.Saat aku 17 tahun sholat dhuha, sholat tahajud sudah jadi kebiasaan. Sholat wajib selalu tepat waktu.

Rabu, 13 November 2013

Malam Kelabu Tanpa Dirimu

Menghabiskan malam hanya dengan tetesan air mata.
Merenungi betapa bodohnya diri ini.
Memaksamu untuk tak merindukanku.
Memaksamu asyik dengan duniamu.
Memaksamu untuk berusaha melupakan diriku.
Karena suatu saat aku akan meninggalkanmu
Bukan karena aku tak lagi mencintaimu
Tapi keadaan yang memaksaku membunuh cinta ini
Aku yang bodoh,
Aku yang tak bisa berhenti merindukanmu
Tak berhenti menangisi ketidak beradaanmu di sisiku
Dan tak pernah bisa melupakanmu walaupun aku memaksa diriku sendiri
Aku tak sanggup lagi , mengertikah kau tentang perasaanku ini ?
Aku tak sanggup  lagi berpura-pura bahagia
Tak sanggup lagi berpura-pura tegar
Aku rapuh, aku lemah dan aku butuh kamu di sisiku
Aku tak perduli apa kata mereka
Mereka tak mengerti tentang perasaanku ini
Sesungguhnya aku ingin pergi dan membawa cintamu untuk selamanya
Daripada aku harus hidup dengan kepura-puraan.
Aku rindu padamu, tidakkah kau mengerti itu ?
Lihatlah bintang di langit yang tertutup awan kelabu sambil tertawa
Itulah aku , aku tertawa dalam penderitaan ,
agar kau tak tahu betapa menderitanya aku tanpa dirimu.
Aku tak tahu lagi apa yang dapat aku lakukan tanpamu.
Tapi , aku hanya ingin kau tahu semenderita apapun aku
Aku ingin kau bahagia walau tak bersamaku
Sadarkah kau bahwa kini aku menangisimu ?
Menangisi kebodohanku ini ?
Menangisi perasaan rindu yang tak bertepi
Yang harus aku sirnakan demi orang lain.
Demi membahagiakan orang lain , tanpa peduli betapa sakitnya hatiku.
Aku merindukanmu, dapatkah kau mendengarnya ?
Apakah kau juga merasakan hal yang sama ?
Setiap malam hanya terbayang senyummu ,
Terbayang candamu saat menghiburku,
Apa kau mengingatku disana ?
Apakah kau berdoa pada Tuhan ?
Berdoa tentangku dan cinta ini ?
Seperti yang aku lakukan .
Tapi dapatkah Tuhan mengerti .
Cinta dan Rindu yang terlarang ini telah menyiksaku .
Tawa dalam derita ini telah membunuh hatiku.
Aku sungguh sangat merindukamu .
Dapatkah kau merasakannya ?

Pamekasan, March 9th , 2012

Senin, 30 September 2013

Sepihan Jati Diri (FLS Part VII)

Malam semakin larut, namun Dinda masih tetap duduk menatap langit yang cerah di atas balkon rumahnya. Malam ini bulan purnama, cukup besar dan terang disanding oleh beberapa bintang tak kalah terangnya. Angin malam mulai menyusup di balik piyama tidurnya yang berwarna merah magenta, membuat bulu kuduk Dinda berdiri.
            Secangkir brown coffee yang mulai dingin mulai diminumnya perlahan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi jari Dinda masih beradu dengan tombol  - tombol keyboard laptopnya. Laptop yang sudah menemaninya selama 4 tahun terakhir ini sudah tampak mulai kelelahan. Seperti tak berpri-kelaptop-an Dinda memaksa Laptop munggilnya itu terus menemaninya.
            Makalah Biologi, mata pelajaran yang penuh dengan teori, nama orang asing dan nama ilmiah, juga berjuta eksperimen yang melelahkan. Namun apa daya, beginilah nasip seorang pelajar SMA. Setiap hari selalu punya teman kencan khusus dan berbeda – beda yaitu tugas. Karena hidup tak seindah dalam novel ataupun film maka tugas membuat makalah Biologi itupun harus segera diselesaikannya.
            “Aduh , lupa dokumentasi waktu eksperimen kemarin. Wah, gawat ini. Mana mungkin ngulang eksperimen. Mana makalahnya harus di kumpulin besok lagi. Arrgghh” Ujar Dinda kesal.
            Dinda memutar otak untuk mencari gambar – gambar dokumentasi palsu dari mbah google. Sayangnya tak seperti yang ia harapkan, eksperimen yang dia kerjakan belum pernah di uji oleh orang lain. Eksperimen itu merupakan metode baru yang di buat oleh Bu Hardwi guru Biologi Dinda.
            Dinda mencoba menghubungi semua teman satu kelompok eksperimennya untuk membantu mencari dokumentasi palsu atau gambar apalah supaya bagian  dokumentasi makalah yang dia susun tidak kosong. Parahnya Dinda lupa sekarang sudah cukup larut jadi semua usahanya nihil. Tak ada satupun temannya yang balik menghubungi cewek tomboy atau sekedar membalas smsnya, atau bahkan mungkin tak satupun temannya yang masih terjaga.
            Tugas makalah yang mendadak ini dibebankan kepada Dinda karena hanya dia yang mampu begadang hingga subuh tiba. Bisa di bilang Dinda itu tipe cewek kelelawar, yang malamnya suka begadang dan siang saat pelajaran ia tidur di dalam kelas.
Itulah mengapa Dinda langsung saja menerima tugas menyelesaikan makalah Biologi dadakan ini tanpa memeriksa kelengkapan datanya. Semua itu hanya karena Dinda tidak mau di sebut numpang nama buat cari nilai walau sebenarnya dia tidak ikut saat melakukan eksperimen.
            Dengan langkah gontai Dinda kemudian menyalakan printer untuk mencetak semua hasil kerjanya malam ini. Menyisipkan beberapa lembar kertas dan mengubungkan printer pada laptopnya.
            “Apapun hasilnya besok yang penting aku sudah usaha malam ini” batin Dinda pasrah.
∞∞∞
            ‘Senyumnnya manis’
            Dinda membaca komentar salah satu teman Facebook-nya dalam foto yang baru saja dia unggah tadi sore. Foto dengan celana selutut dan kaos oblong di tepi danau itu mendapat apresiasi 53 like.
“ Siapa ya yang pagi buta ini masih online, chatroom-nya juga aktif “ Batin Dinda
PUTRA HENDRAWAN WIDODO
Kota asal Ponorogo, berdomisili di Surabaya. Mahasiswa di Universitas Airlangga Surabaya, umur  20 tahun dan status LAJANG.
Dinda terus menelusuri satu persatu informasi mengenai orang asing yang baru saja membuatnya berbunga-bunga akibat komentar di foto Dinda. Seperti layaknya pengamat Dinda meneliti satu persatu data, status, foto dan semua hal yang berhubungan dengan Putra. Dinda melupakan makalah Biologinya yang baru setengah jadi gara- gara cowok ini.
“Lumayan lah, keren , lajang pula” Ujar Linda
Tittit
Chatroom Dinda terbuka, ada pesan dari Putra cowok keren ala Facebook incarannya.
Putra Hendrawan Widodo             : ‘Hai, boleh kenalan?’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Hai juga, boleh.’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Maunya di panggil Dinda, Mutia , Rani atau Tiwi ?’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Dinda aja, mau di panggil Putra, Hendra atau …’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Terserah sih, tapi temen – temen biasa manggil Ido’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Oh, Ido’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Sekolah di SMA Negeri 1 Ponorogo ya. Aku alumni sana loh setaun yang lalu. Sekarang kelas berapa ? ’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Oh ya ? Kelas XI. Sekarang di Unair jurusan apa kak ?’
-       -   -  -
Putra Hendrawan Widodo tidak aktif
            “Kebangetan ini cowok PHP doing. Apaan coba ?” Gerutu Dinda
            Dengan kesal Dinda merapikan semua alat sekolahnya dan berusaha tidur walau sebenarnya dia tidak ngantuk. Akibat secangkir brown coffee  yang tadi dia minum tak sedikitpun rasa kantuk menghampirinya. Namun rasa kesalnya pada makalah biologi, juga pada cowok mahasiswa Unair itu mengalahkan rasa ketidak ngantuk-annya.
∞∞∞
            Meja yang di pojok, telinga tersumbat headset  oh betapa indahnya dunia. Jam pertama dan kedua hari ini terlewati begitu saja dengan cepatnya. Sebenarnya tadi sayup – sayup terdengar bagaimana Pak Wahyudi menjelaskan tentang perputaran elektron terhadap inti dalam suatu atom. Tetap saja tak menggoyahkan iman Dinda untuk tetap menghabiskan semua jam  Kimia dengan tidur di bangku belakang.
            “Gimana makalahnya ? Sudah di jilid belum ?” Tanya Ranti setelah Pak Wahyudi keluar kelas.
            “Gembel, mau di jilid gimana wong gak ada dokumentasinya.” Jawab Dinda sekenanya.
            “Loh gimana sih, kita kan sudah praktek di Laboratorium sama Bu Har buat apalagi di kasih dokumentasi.” Bela Ranti
            “Setauku dimana – mana yang namanya makalah itu pakai dokumentasi. Itu memperkuat bukti kalau kita bener – bener praktek.” Sanggah Dinda
            “Kenapa gak kamu saja yang cari dokumentasinya. Cuma kerja ngetik doang aku juga bisa.” Sindir Ranti
            “Heh, non. Biasa aja deh gak usah nyindir. Aku udah cari semalem di internet, aku hubungi semua anggota kelompok tapi gak ada yang tanggap. Ngetik doang ?  Kalau bukan gara-gara aku sering ngerekam suara guru kalau aku lagi tidur pasti langkah kerja kalian gak karuan. Apaan coba bisanya nuntut doang” Dinda mulai tersulut emosinya.
            “Biasa aja dong Din , masa gak malu cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu” Potong Bayu yang merasa konsentrasi permainan PSnya terganggu oleh suara gaduh cewek – cewek di bangku belakang.
∞∞∞
            “masa gak malu cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu”
            Kata – kata Bayu masih terngiang di pikiran Dinda, karena bukan sekali itu saja dia di sindir seperti itu. Banyak juga orang lain yang pernah mengatakan hal serupa. Pertanyaan – pertanyaan kecil namun penting muncul di benak Dinda.
            ‘Kenapa aku berhijab ? ’
            ‘Tapi kenapa aku urak an ?’
            ‘Kenapa aku masih sering upload foto tanpa hijab di sosial media ?’
            ‘Kenapa masih suka pacaran, suka ganjen sama cowok ?’
            ‘Kenapa aku gak bisa seperti cewek muslimah lainnya ? ’
            ‘Terus apa yang aku tutupi dengan hijab ?’
            Dinda mulai berfikir, dulu pakai jilbab gara – gara TK di sekolah Islam. Waktu SD juga pakai jilbab gara – gara SDnya satu yayasan sama TK yang juga mengharuskan berjilbab di sekolah. Di SMP gak lepas jilbab gara – gara kebiasaan. Sekarang di SMA tetep pakai jilab juga gara – gara kebiasaan.
            Masih menjadi sebuah pertanyaan yang masih mengganjal dibenak Dinda “APAKAH AKU BERJILBAB HANYA KARENA SEBUAH KEBIASAAN DAN WARISAN ?”
∞∞∞
            Siang itu cukup terik, sudah seminggu ini Dinda Mutiarani Pratiwi mencari jati dirinya. Sambil menghisap coklat pasta ia menghampiri Nadya yang sedang duduk bangku di pinggir Lapangan Utama SMA Negeri 1 Ponorogo sambil membaca novel.
            Nadya, cewek cantik dengan jilbabnya yang menutupi dada itu menawarkan senyum yang menyejukkan ketika melihat Dinda menghampirinya. Nadya merupakan salah satu pengurus ekstrakulikuler kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo. Tak heran bila penampilannya sangat feminim dan muslimah banget.
            “Nad, tanya dong” Dinda memulai percakapan dan duduk di samping Nadya.
            “Tugas Kimia ? Kelasku belum ada tugas dari Pak Wahyudi” Nadya kembali fokus pada novel yang di pegangnya.
            “Bukan, aku mau tanya. Kenapa sih kamu pakai jilbab ?” Ujar Dinda to the point.
            “Karena kebutuhan” Jawab Nadya singkat
            “ Maksudnya ? Aku nggak paham” Selidik Dinda sambil menutup novel yang di baca Nadya dengan kedua telapak tangannya.
            “Ih, kamu itu kan berjilbab dari dulu. Kenapa sih tanya begitu ? Kamu masih sehat kan?”
            “Emh, masih sehat kok. Tenang aja. Eh, aku ke kelas duluan ya. Makasih” Dinda kemudian lari meninggalkan Nadya yang masih kebinggungan.
            Dinda kemudian menyusuri koridor kelas XI IPS, dia ingin mengunjungi Lely temanya yang dulu pernah sekelas di kelas X. Di depan kelas XI. IPS 3 Dinda melihat Nuri yang sepertinya baru hari ini berhijab. Dia mengurungkan niatnya bertemu Lely tapi menemui Nuri.
            “Cie .. Nuri berjilbab cie .. Selamat ya ” Goda Dinda
            “Apaan sih , iya makasih” Balas Nuri sambil malu- malu
            “Kenapa berhijab, Nur ? ” Tanya Dinda
            “Ituh sama mas Yogi di suruh berhijab. Terus temen – temen juga banyak yang berhijab” Jawab Nuri bangga.
            “Loh, udah jadian toh sama mas Yogi ?” Tanya Dinda dengan sedikit kaget.
Tak ada jawaban dari Nuri hanya sebuah anggukan dan secuil senyum bangga terbesit di wajahnya. Dinda menyimpulkan Nuri tak sepenuhnya ingin berhijab. Setahu Dinda Nuri dulu pernah mencalonkan diri sebagai model sebuah majalah remaja Jawa Timur, namun setelah terpilih dia malah mengundurkan diri demi mas Yogi.
∞∞∞
            Senyawa utama penyusun sel yaitu asam nukleat dan bla bla bla. Penjelasan Bu Hardwi hanya masuk dari telinga kanan ke telinga kiri Dinda kemudian melayang bebas ke udara. Sejak dulu menurutnya Biologi hanya bisa di serap kalau sedang belajar sendiri, bukan dengan mendongeng masal yang meninabobokan semua siswa. Lagipula pelajaran berat untuk kelas jurusan IPA seharusnya tidak di jadwalkan setelah jam 12 siang karena itu waktu terlemah kesadaran siswa.
            Alunan lagu dari Taylor Swift berjudul Tied Together with a smile mengalun samar dari headset yang Dinda pakai. Ternyata jilbab juga dapat berfungsi untuk menutupi headset yang dia gunakan dari guru pengajar saat mata pelajaran berlangsung.
            Saat Bu Hardwi yang juga istri dokter spesialis jantung ini mulai menerangkan mengenai macam – macam karbohidrat datanglah beberapa orang mahasiswa yang langsung menyalami Bu Har. Walau siang bolong Bu Har kemudian bersemangat bercerita bahwa mahasiswa yang datang siang itu salah satunya bernama Putra Hendrawan Widodo.
            Rasa kantuk Dinda seketika menghilang, tergantikan rasa kagum pada sosok Kak Ido yang ternyata jauh lebih keren daripada fotonya di Facebook. Kak Ido melemparkan senyum dengan sedikit cuek pada seisi kelas. Dan ternyata bukan hanya Dinda yang mengagumi senyum cuek Kak Ido beberapa teman ceweknya juga mulai berbisik perlahan dan menyebut nama Kak Ido.
            Kak Ido dan teman mahasiswa lainnya ternyata sedang mempromosikan sebuah lomba mata pelajaran Matematika yang di adakan di Unair Surabaya. Kebetulan sekali walau benci beberapa pelajaran seperti Biologi, Dinda masih menyukai Matematika. Memang sedikit menganaktirikan Biologi dari semua mata pelajaran pokok di jurusan IPA, tapi tak apalah siang ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa.
            “Adek Dinda nanti ikut ya ? ” Tawar Ido sambil membagikan brosur dan formulir pendaftaran lomba. Tanpa di perintah Dinda mengangguk tanda setuju.
∞∞∞
            “Dinda , aku itu loh sayang kamu. Jadi pacarku yuk ? ” Ido mengungkapkannya secara lancer dan pasti tanpa basa basi.
            “Hah ? Kita baru akrab belum genap sebulan loh kak.” Jawab Dinda setengah kaget.
            “Tapi sejujurnya kamu suka sama aku kan ?” Selidik Ido.
            Dinda hanya mengangguk mengiyakan. Hari ini adalah pengumuman Babak Final Lomba Matematika yang diadakan oleh Unair. Bu Widya pendampingnya pulang terlebih dahulu karena ada kepetingan keluarga. Alhasil, besok dia menghadiri acara penyerahan hadiah Lomba sendiri tanpa guru pendamping. Bu Widya hanya meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk biaya menginap malam ini di hotel.
            Dengan pasrah Dinda menerima keputusan guru pendampingnya itu. Dinda berhasil mendapat juara 3 dalam perlombaan tersebut. Hasil yang cukup lumayan karena dia satu – satunya delegasi SMA Negeri 1 Ponorogo yang berhasil masuk babak Final.
Sebenarnya malam itu bisa saja gadis yang juga kelahiran kota Surabaya itu menginap di rumah saudaranya. Namun, dia memilih untuk menginap di hotel dengan uang saku dari sekolah dan orangtuanya. Sekaligus dia ingin jalan – jalan bersama kak Ido setelah Laki-laki itu menyelesaikan tugas kepanitiaannya.
Dinda dengan setia menunggu di bangku salah satu ruang kelas di Unair. Setelah Kak Ido menyelesaikan semua kewajibannya, mereka kemudian beranjak menuju pusat kota Surabaya. Setelah mendapatkan kamar hotel yang diinginkan lalu mereka mulai mengunjungi Matos dan mall – mall lainnya.
Tidak ingin membeli apa – apa sebenarnya, hanya ingin merayakan keberhasilan aja. Malam itu begitu indah mereka habiskan berdua saja. Saat semua mall sudah mulai tutup mereka kembal ke hotel yang akan diinapi Dinda malam itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, namun kota Surabaya belum mati. Termasuk juga di hotel Ramayana itu masih ramai orang berlalu lalang. Kak Ido ingin mengantar Dinda hingga sampai di depan kamarnya. Mereka mulai menapaki lantai 3 hotel, baru beberapa langkah keluar dari lift mereka di suguhi pemandangan yang tak patut di lihat.
Gadis masih menggunakan rok abu – abu, jaket belang ungu putih dan jilbab yang mulai berantakan sedang bercumbu di koridor hotel. Bibirnya bertaut, menghisap dan mengulum bibir pria berjas hitam dan berpenampilan perlente semacam bos kantoran. Mereka terlalu asyik hingga tak mengetahui bahwa sedari tadi Ido dan Dinda menyaksikan perbuatan mesum mereka.
Ido langsung menarik Dinda masuk kembali kedalam lift. Dalam keheningan lift Dinda mulai terisak.
“Aku takut Kak . . Aku mau cek out aja dari hotel ini” Dinda akhirnya mulai bicara.
“Iya nanti aku bilang ke petugasnya, kita cari hotel lain saja. Sudah jadi rahasia umum nda kejadian semacam tadi.” Igo mulai menenangkan.
“Buat apa dia berjilbab ? Munafik banget. Dia nutupin kedoknya yang jadi cewek nakal dengan jilbab.”
“Gak sepenuhnya salah mereka nda.” Igo mencoba memahami perasaan Dinda yang campur aduk.
“Kak, kita putus” Bisik Dinda  lirih, mata mereka beradu menimbulkan berjuta tanda tanya besar , kekecewaan dan perasaan lain yang tak dapat dijelaskan.
“Kita baru pacaran 6 jam ? ” Igo sedikit kaget
“Aku takut kita seperti itu.” Dinda mencoba memberi alasan.
“Kamu gak percaya sama aku ?” Igo makin menatap lekat mata bulat Dinda.
Dinda yang biasanya berprilaku seperti laki – laki itu sedang berada di titik terlemahnya sebagai wanita. Dia melepaskan sentuhan Igo di kedua bahunya dan mengalihkan padangan dari mata Igo yang tajam.
“Ini keputusanku kak, maaf” Dinda menunduk lesu.
Igo mengela nafas panjang.
“Aku juga merasa malu kak, pakai jilbab tapi boncengan sama cowok. Pakai jilbab tapi pegangan tangan. Bahkan andai di teruskan kita mungkin bisa melakukan lebih dari apa yang kita lihat tadi. Aku takut. Ini lebih aman Kak, aku mohon.” Dinda menjelaskan panjang lebar.
∞∞∞
Dinda Mutiarani Pratiwi juara 3 Lomba Matematika Statistika tingkat Jawa Timur Universitas Airlangga.
Dinda tampil lebih anggun dengan Jilbab yang menutupi dada, dan senyum yang mengembang manis. Langkah pastinya menuju podium menyerahkan piala kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Ponorogo.. Bangga, sedih, trauma, senang semua menjadi satu. Tapi hati kecilnya memaksa bibirnya untuk tetap tersenyum.
Semua kejadian dikoridor hotel Ramayana malam itu menyadarkan bahwa jilbab bukan hanya menutupi kepalanya. Tapi semua tingkah , tutur kata , sikap dan perbuatan. Kini Dinda mencoba memulai semua dari awal, memperbaiki dari awal.
Dia mulai mencintai jilbabnya, semua pengaruhnya. Bukan karena siapapun, bukan karena jilbab sebuah kebiasaan ataupun warisan. Tapi karena jilbab adalah sebuah kebutuhan muslimah seperti dirinya. Ucapan Nadya benar adanya, semua cinta harus mulai dari dalam hati. Semua cinta harus dengan ikhlas.
Bagaimana dengan Kak Ido, ya dia masih meneruskan studynya tetap menjaga perasaan masing-masing. Hingga suatu saat nanti menjadi indah dan halal untuk Dinda dan Ido. Suatu saat nanti, jika Tuhan berkehendak karena jodoh tak akan pergi dan lari. Sampai nanti dengan setia Dinda akan menjaga kesucian dirinya untuk kekasih masa depannya dengan jilbab-jilbabnya.
Ponorogo, 19 September 2013
Mazda Rachma Qunuti