Malam
semakin larut, namun Dinda masih tetap duduk menatap langit yang cerah di atas
balkon rumahnya. Malam ini bulan purnama, cukup besar dan terang disanding oleh
beberapa bintang tak kalah terangnya. Angin malam mulai menyusup di balik
piyama tidurnya yang berwarna merah magenta, membuat bulu kuduk Dinda berdiri.
Secangkir brown coffee yang mulai dingin mulai diminumnya perlahan. Waktu
sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi jari Dinda masih beradu dengan
tombol - tombol keyboard laptopnya. Laptop yang sudah menemaninya selama 4 tahun
terakhir ini sudah tampak mulai kelelahan. Seperti tak berpri-kelaptop-an Dinda memaksa Laptop
munggilnya itu terus menemaninya.
Makalah Biologi, mata pelajaran yang
penuh dengan teori, nama orang asing dan nama ilmiah, juga berjuta eksperimen
yang melelahkan. Namun apa daya, beginilah nasip seorang pelajar SMA. Setiap
hari selalu punya teman kencan khusus dan berbeda – beda yaitu tugas. Karena
hidup tak seindah dalam novel ataupun film maka tugas membuat makalah Biologi
itupun harus segera diselesaikannya.
“Aduh , lupa dokumentasi waktu
eksperimen kemarin. Wah, gawat ini. Mana mungkin ngulang eksperimen. Mana
makalahnya harus di kumpulin besok lagi. Arrgghh” Ujar Dinda kesal.
Dinda memutar otak untuk mencari
gambar – gambar dokumentasi palsu dari mbah google.
Sayangnya tak seperti yang ia harapkan, eksperimen yang dia kerjakan belum
pernah di uji oleh orang lain. Eksperimen itu merupakan metode baru yang di
buat oleh Bu Hardwi guru Biologi Dinda.
Dinda mencoba menghubungi semua
teman satu kelompok eksperimennya untuk membantu mencari dokumentasi palsu atau
gambar apalah supaya bagian dokumentasi
makalah yang dia susun tidak kosong. Parahnya Dinda lupa sekarang sudah cukup
larut jadi semua usahanya nihil. Tak ada satupun temannya yang balik
menghubungi cewek tomboy atau sekedar membalas smsnya, atau bahkan mungkin tak
satupun temannya yang masih terjaga.
Tugas makalah yang mendadak ini
dibebankan kepada Dinda karena hanya dia yang mampu begadang hingga subuh tiba.
Bisa di bilang Dinda itu tipe cewek kelelawar, yang malamnya suka begadang dan
siang saat pelajaran ia tidur di dalam kelas.
Itulah
mengapa Dinda langsung saja menerima tugas menyelesaikan makalah Biologi
dadakan ini tanpa memeriksa kelengkapan datanya. Semua itu hanya karena Dinda
tidak mau di sebut numpang nama buat cari nilai walau sebenarnya dia tidak ikut
saat melakukan eksperimen.
Dengan langkah gontai Dinda kemudian
menyalakan printer untuk mencetak
semua hasil kerjanya malam ini. Menyisipkan beberapa lembar kertas dan
mengubungkan printer pada laptopnya.
“Apapun hasilnya besok yang penting
aku sudah usaha malam ini” batin Dinda pasrah.
∞∞∞
‘Senyumnnya manis’
Dinda membaca komentar salah satu
teman Facebook-nya dalam foto yang
baru saja dia unggah tadi sore. Foto dengan celana selutut dan kaos oblong di
tepi danau itu mendapat apresiasi 53 like.
“
Siapa ya yang pagi buta ini masih online, chatroom-nya
juga aktif “ Batin Dinda
PUTRA
HENDRAWAN WIDODO
Kota
asal Ponorogo, berdomisili di Surabaya. Mahasiswa di Universitas Airlangga
Surabaya, umur 20 tahun dan status
LAJANG.
Dinda
terus menelusuri satu persatu informasi mengenai orang asing yang baru saja
membuatnya berbunga-bunga akibat komentar di foto Dinda. Seperti layaknya
pengamat Dinda meneliti satu persatu data, status, foto dan semua hal yang
berhubungan dengan Putra. Dinda melupakan makalah Biologinya yang baru setengah
jadi gara- gara cowok ini.
“Lumayan
lah, keren , lajang pula” Ujar Linda
Tittit
Chatroom Dinda
terbuka, ada pesan dari Putra cowok keren ala Facebook incarannya.
Putra
Hendrawan Widodo : ‘Hai, boleh
kenalan?’
Dinda
Mutiarani Pratiwi : ‘Hai juga,
boleh.’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Maunya di panggil Dinda, Mutia , Rani atau Tiwi ?’
Dinda Mutiarani Pratiwi : ‘Dinda aja, mau di panggil Putra, Hendra
atau …’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Terserah sih, tapi temen – temen biasa manggil Ido’
Dinda Mutiarani Pratiwi : ‘Oh, Ido’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Sekolah di SMA Negeri 1 Ponorogo ya. Aku alumni sana loh setaun
yang lalu. Sekarang kelas berapa ? ’
Dinda Mutiarani Pratiwi : ‘Oh ya ? Kelas XI. Sekarang di Unair
jurusan apa kak ?’
- - - -
Putra Hendrawan Widodo tidak aktif
“Kebangetan ini cowok PHP doing.
Apaan coba ?” Gerutu Dinda
Dengan kesal Dinda merapikan semua
alat sekolahnya dan berusaha tidur walau sebenarnya dia tidak ngantuk. Akibat
secangkir brown coffee yang tadi dia minum tak sedikitpun rasa kantuk
menghampirinya. Namun rasa kesalnya pada makalah biologi, juga pada cowok
mahasiswa Unair itu mengalahkan rasa ketidak ngantuk-annya.
∞∞∞
Meja yang di pojok, telinga
tersumbat headset oh betapa indahnya dunia. Jam pertama dan
kedua hari ini terlewati begitu saja dengan cepatnya. Sebenarnya tadi sayup –
sayup terdengar bagaimana Pak Wahyudi menjelaskan tentang perputaran elektron
terhadap inti dalam suatu atom. Tetap saja tak menggoyahkan iman Dinda untuk
tetap menghabiskan semua jam Kimia
dengan tidur di bangku belakang.
“Gimana makalahnya ? Sudah di jilid
belum ?” Tanya Ranti setelah Pak Wahyudi keluar kelas.
“Gembel, mau di jilid gimana wong gak ada dokumentasinya.” Jawab
Dinda sekenanya.
“Loh gimana sih, kita kan sudah
praktek di Laboratorium sama Bu Har buat apalagi di kasih dokumentasi.” Bela
Ranti
“Setauku dimana – mana yang namanya
makalah itu pakai dokumentasi. Itu memperkuat bukti kalau kita bener – bener
praktek.” Sanggah Dinda
“Kenapa gak kamu saja yang cari
dokumentasinya. Cuma kerja ngetik doang aku juga bisa.” Sindir Ranti
“Heh, non. Biasa aja deh gak usah
nyindir. Aku udah cari semalem di internet, aku hubungi semua anggota kelompok
tapi gak ada yang tanggap. Ngetik doang ?
Kalau bukan gara-gara aku sering ngerekam suara guru kalau aku lagi
tidur pasti langkah kerja kalian gak karuan. Apaan coba bisanya nuntut doang”
Dinda mulai tersulut emosinya.
“Biasa aja dong Din , masa gak malu
cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu” Potong Bayu yang merasa
konsentrasi permainan PSnya terganggu oleh suara gaduh cewek – cewek di bangku
belakang.
∞∞∞
“masa
gak malu cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu”
Kata – kata Bayu masih terngiang di
pikiran Dinda, karena bukan sekali itu saja dia di sindir seperti itu. Banyak
juga orang lain yang pernah mengatakan hal serupa. Pertanyaan – pertanyaan
kecil namun penting muncul di benak Dinda.
‘Kenapa aku berhijab ? ’
‘Tapi kenapa aku urak an ?’
‘Kenapa aku masih sering upload foto tanpa hijab di sosial media
?’
‘Kenapa masih suka pacaran, suka
ganjen sama cowok ?’
‘Kenapa aku gak bisa seperti cewek
muslimah lainnya ? ’
‘Terus apa yang aku tutupi dengan
hijab ?’
Dinda mulai berfikir, dulu pakai
jilbab gara – gara TK di sekolah Islam. Waktu SD juga pakai jilbab gara – gara
SDnya satu yayasan sama TK yang juga mengharuskan berjilbab di sekolah. Di SMP
gak lepas jilbab gara – gara kebiasaan. Sekarang di SMA tetep pakai jilab juga
gara – gara kebiasaan.
Masih menjadi sebuah pertanyaan yang
masih mengganjal dibenak Dinda “APAKAH AKU BERJILBAB HANYA KARENA SEBUAH
KEBIASAAN DAN WARISAN ?”
∞∞∞
Siang itu cukup terik, sudah
seminggu ini Dinda Mutiarani Pratiwi mencari jati dirinya. Sambil menghisap
coklat pasta ia menghampiri Nadya yang sedang duduk bangku di pinggir Lapangan
Utama SMA Negeri 1 Ponorogo sambil membaca novel.
Nadya,
cewek cantik dengan jilbabnya yang menutupi dada itu menawarkan senyum yang
menyejukkan ketika melihat Dinda menghampirinya. Nadya merupakan salah satu
pengurus ekstrakulikuler kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo. Tak heran
bila penampilannya sangat feminim dan muslimah banget.
“Nad, tanya dong” Dinda memulai
percakapan dan duduk di samping Nadya.
“Tugas Kimia ? Kelasku belum ada
tugas dari Pak Wahyudi” Nadya kembali fokus pada novel yang di pegangnya.
“Bukan, aku mau tanya. Kenapa sih
kamu pakai jilbab ?” Ujar Dinda to the
point.
“Karena kebutuhan” Jawab Nadya
singkat
“ Maksudnya ? Aku nggak paham”
Selidik Dinda sambil menutup novel yang di baca Nadya dengan kedua telapak
tangannya.
“Ih, kamu itu kan berjilbab dari
dulu. Kenapa sih tanya begitu ? Kamu masih sehat kan?”
“Emh, masih sehat kok. Tenang aja.
Eh, aku ke kelas duluan ya. Makasih” Dinda kemudian lari meninggalkan Nadya
yang masih kebinggungan.
Dinda kemudian menyusuri koridor
kelas XI IPS, dia ingin mengunjungi Lely temanya yang dulu pernah sekelas di
kelas X. Di depan kelas XI. IPS 3 Dinda melihat Nuri yang sepertinya baru hari
ini berhijab. Dia mengurungkan niatnya bertemu Lely tapi menemui Nuri.
“Cie .. Nuri berjilbab cie ..
Selamat ya ” Goda Dinda
“Apaan sih , iya makasih” Balas Nuri
sambil malu- malu
“Kenapa berhijab, Nur ? ” Tanya
Dinda
“Ituh sama mas Yogi di suruh
berhijab. Terus temen – temen juga banyak yang berhijab” Jawab Nuri bangga.
“Loh, udah jadian toh sama mas Yogi
?” Tanya Dinda dengan sedikit kaget.
Tak
ada jawaban dari Nuri hanya sebuah anggukan dan secuil senyum bangga terbesit
di wajahnya. Dinda menyimpulkan Nuri tak sepenuhnya ingin berhijab. Setahu
Dinda Nuri dulu pernah mencalonkan diri sebagai model sebuah majalah remaja
Jawa Timur, namun setelah terpilih dia malah mengundurkan diri demi mas Yogi.
∞∞∞
Senyawa utama penyusun sel yaitu
asam nukleat dan bla bla bla. Penjelasan Bu Hardwi hanya masuk dari telinga
kanan ke telinga kiri Dinda kemudian melayang bebas ke udara. Sejak dulu
menurutnya Biologi hanya bisa di serap kalau sedang belajar sendiri, bukan
dengan mendongeng masal yang meninabobokan semua siswa. Lagipula pelajaran
berat untuk kelas jurusan IPA seharusnya tidak di jadwalkan setelah jam 12
siang karena itu waktu terlemah kesadaran siswa.
Alunan lagu dari Taylor Swift
berjudul Tied Together with a smile mengalun samar dari headset yang Dinda
pakai. Ternyata jilbab juga dapat berfungsi untuk menutupi headset yang dia
gunakan dari guru pengajar saat mata pelajaran berlangsung.
Saat Bu Hardwi yang juga istri
dokter spesialis jantung ini mulai menerangkan mengenai macam – macam
karbohidrat datanglah beberapa orang mahasiswa yang langsung menyalami Bu Har.
Walau siang bolong Bu Har kemudian bersemangat bercerita bahwa mahasiswa yang
datang siang itu salah satunya bernama Putra Hendrawan Widodo.
Rasa kantuk Dinda seketika
menghilang, tergantikan rasa kagum pada sosok Kak Ido yang ternyata jauh lebih
keren daripada fotonya di Facebook. Kak Ido melemparkan senyum dengan sedikit
cuek pada seisi kelas. Dan ternyata bukan hanya Dinda yang mengagumi senyum
cuek Kak Ido beberapa teman ceweknya juga mulai berbisik perlahan dan menyebut
nama Kak Ido.
Kak Ido dan teman mahasiswa lainnya
ternyata sedang mempromosikan sebuah lomba mata pelajaran Matematika yang di
adakan di Unair Surabaya. Kebetulan sekali walau benci beberapa pelajaran
seperti Biologi, Dinda masih menyukai Matematika. Memang sedikit
menganaktirikan Biologi dari semua mata pelajaran pokok di jurusan IPA, tapi
tak apalah siang ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa.
“Adek Dinda nanti ikut ya ? ” Tawar
Ido sambil membagikan brosur dan formulir pendaftaran lomba. Tanpa di perintah
Dinda mengangguk tanda setuju.
∞∞∞
“Dinda , aku itu loh sayang kamu.
Jadi pacarku yuk ? ” Ido mengungkapkannya secara lancer dan pasti tanpa basa
basi.
“Hah ? Kita baru akrab belum genap
sebulan loh kak.” Jawab Dinda setengah kaget.
“Tapi sejujurnya kamu suka sama aku
kan ?” Selidik Ido.
Dinda hanya mengangguk mengiyakan.
Hari ini adalah pengumuman Babak Final Lomba Matematika yang diadakan oleh
Unair. Bu Widya pendampingnya pulang terlebih dahulu karena ada kepetingan
keluarga. Alhasil, besok dia menghadiri acara penyerahan hadiah Lomba sendiri
tanpa guru pendamping. Bu Widya hanya meninggalkan beberapa lembar uang ratusan
ribu untuk biaya menginap malam ini di hotel.
Dengan pasrah Dinda menerima
keputusan guru pendampingnya itu. Dinda berhasil mendapat juara 3 dalam
perlombaan tersebut. Hasil yang cukup lumayan karena dia satu – satunya delegasi
SMA Negeri 1 Ponorogo yang berhasil masuk babak Final.
Sebenarnya
malam itu bisa saja gadis yang juga kelahiran kota Surabaya itu menginap di
rumah saudaranya. Namun, dia memilih untuk menginap di hotel dengan uang saku
dari sekolah dan orangtuanya. Sekaligus dia ingin jalan – jalan bersama kak Ido
setelah Laki-laki itu menyelesaikan tugas kepanitiaannya.
Dinda
dengan setia menunggu di bangku salah satu ruang kelas di Unair. Setelah Kak
Ido menyelesaikan semua kewajibannya, mereka kemudian beranjak menuju pusat
kota Surabaya. Setelah mendapatkan kamar hotel yang diinginkan lalu mereka
mulai mengunjungi Matos dan mall – mall lainnya.
Tidak
ingin membeli apa – apa sebenarnya, hanya ingin merayakan keberhasilan aja.
Malam itu begitu indah mereka habiskan berdua saja. Saat semua mall sudah mulai
tutup mereka kembal ke hotel yang akan diinapi Dinda malam itu.
Jam
sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, namun kota Surabaya belum mati. Termasuk
juga di hotel Ramayana itu masih ramai orang berlalu lalang. Kak Ido ingin
mengantar Dinda hingga sampai di depan kamarnya. Mereka mulai menapaki lantai 3
hotel, baru beberapa langkah keluar dari lift mereka di suguhi pemandangan yang
tak patut di lihat.
Gadis
masih menggunakan rok abu – abu, jaket belang ungu putih dan jilbab yang mulai
berantakan sedang bercumbu di koridor hotel. Bibirnya bertaut, menghisap dan
mengulum bibir pria berjas hitam dan berpenampilan perlente semacam bos
kantoran. Mereka terlalu asyik hingga tak mengetahui bahwa sedari tadi Ido dan
Dinda menyaksikan perbuatan mesum mereka.
Ido
langsung menarik Dinda masuk kembali kedalam lift. Dalam keheningan lift Dinda
mulai terisak.
“Aku
takut Kak . . Aku mau cek out aja dari hotel ini” Dinda akhirnya mulai bicara.
“Iya
nanti aku bilang ke petugasnya, kita cari hotel lain saja. Sudah jadi rahasia
umum nda kejadian semacam tadi.” Igo mulai menenangkan.
“Buat
apa dia berjilbab ? Munafik banget. Dia nutupin kedoknya yang jadi cewek nakal
dengan jilbab.”
“Gak
sepenuhnya salah mereka nda.” Igo mencoba memahami perasaan Dinda yang campur
aduk.
“Kak,
kita putus” Bisik Dinda lirih, mata
mereka beradu menimbulkan berjuta tanda tanya besar , kekecewaan dan perasaan
lain yang tak dapat dijelaskan.
“Kita
baru pacaran 6 jam ? ” Igo sedikit kaget
“Aku
takut kita seperti itu.” Dinda mencoba memberi alasan.
“Kamu
gak percaya sama aku ?” Igo makin menatap lekat mata bulat Dinda.
Dinda
yang biasanya berprilaku seperti laki – laki itu sedang berada di titik
terlemahnya sebagai wanita. Dia melepaskan sentuhan Igo di kedua bahunya dan
mengalihkan padangan dari mata Igo yang tajam.
“Ini
keputusanku kak, maaf” Dinda menunduk lesu.
Igo
mengela nafas panjang.
“Aku
juga merasa malu kak, pakai jilbab tapi boncengan sama cowok. Pakai jilbab tapi
pegangan tangan. Bahkan andai di teruskan kita mungkin bisa melakukan lebih
dari apa yang kita lihat tadi. Aku takut. Ini lebih aman Kak, aku mohon.” Dinda
menjelaskan panjang lebar.
∞∞∞
Dinda
Mutiarani Pratiwi juara 3 Lomba Matematika Statistika tingkat Jawa Timur Universitas
Airlangga.
Dinda
tampil lebih anggun dengan Jilbab yang menutupi dada, dan senyum yang
mengembang manis. Langkah pastinya menuju podium menyerahkan piala kepada
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Ponorogo.. Bangga, sedih, trauma, senang semua
menjadi satu. Tapi hati kecilnya memaksa bibirnya untuk tetap tersenyum.
Semua
kejadian dikoridor hotel Ramayana malam itu menyadarkan bahwa jilbab bukan
hanya menutupi kepalanya. Tapi semua tingkah , tutur kata , sikap dan
perbuatan. Kini Dinda mencoba memulai semua dari awal, memperbaiki dari awal.
Dia
mulai mencintai jilbabnya, semua pengaruhnya. Bukan karena siapapun, bukan
karena jilbab sebuah kebiasaan ataupun warisan. Tapi karena jilbab adalah
sebuah kebutuhan muslimah seperti dirinya. Ucapan Nadya benar adanya, semua cinta
harus mulai dari dalam hati. Semua cinta harus dengan ikhlas.
Bagaimana
dengan Kak Ido, ya dia masih meneruskan studynya tetap menjaga perasaan
masing-masing. Hingga suatu saat nanti menjadi indah dan halal untuk Dinda dan
Ido. Suatu saat nanti, jika Tuhan berkehendak karena jodoh tak akan pergi dan
lari. Sampai nanti dengan setia Dinda akan menjaga kesucian dirinya untuk
kekasih masa depannya dengan jilbab-jilbabnya.
Ponorogo, 19 September 2013
Mazda Rachma Qunuti