Senin, 18 November 2013

Ya Allah, Aku Bermimpi



Ya allah, jika aku boleh bermimpi ….
Dan mimpiku sedikit tidak masuk di akal manusia tapi aku yakin semua akan menjadi mudah di tangan-Mu.
Hari ini hari Senin, 14 Muharram 1435 H / 18 November 2013 pukul 06.35 PM. Saya Mazda Rachma Qunuti mendeklarasikan mimpi saya dan akan berusaha dan semangat untuk meraihnya. Aku Yakin semua akan terwujud perlahan tapi Pasti. InsyaAllah. Ammiinn ……..
Ya allah kembalikan lagi jiwaku yang hilang , tumbuhkanlah jiwa semangat dan antusias yang lebih daripada yang dulu.
1.     Lulus SNMPTN Undangan ITB / ITS
2.    Keterima di ITB / its . Fak. Teknik
3.    Bisa masuk 3 besar peringkat kelas
4.    Bisa masuk 10 besar peringkat Paralel sma
5.     Waktu kuliah bisa IP min. 3,5
6.    Habis S1 langsung S2 BIAYA SENDIRI
7.    Bisa Langsing
8.    Bisa naik pesawat GRATIS
9.    Bisa tidur di hotel berbintang  GRATIS
10. Dapat beasiswa kuliah di luar negeri
11.   Bisa naik Hajikan Ayah Ibu sebelum menikah
12.  Punya bisnis pribadi sebelum umur 30 tahun
13.  Bisa Jalan – jalan ke eropa GRATIS
14.  Bisa nyetir MOGE
15.   Bisa nyetir mobil
16.  Bisa punya pekerjaan tetap sebelum umur 27 tahun dengan Gaji  5 kali lipat dari Gaji terbesar Ayah
17.  Bisa Naik Haji sebelum dan Sesudah menikah BIAYA SENDIRI
18.  Punya Villa di Puncak
19.  Ketemu , ngobrol, salaman , sama Bapak Dahlan Ishkan
20. Saat Nikah Resepsi di Masjid Agung Surabaya Prasmanan
21. Saat umur 20 tahun harus hafal Jus Amma
22.  Artikel masuk ke Koran atau majalah Lokal
23.  Artikel di beli majalah atau Koran Nasional
24. Saat Kuliah bisa dapat penghasilan min. Rp 1.500.000,- per bulan
25.  Jadi ASDOS di Kampus
26. Bisa bukain Usaha buat Ibu di rumah min. Setelah Lulus S1
27.  Min. 10 Tahun dari sekarang  sudah bisa keliling ibu kota provinsi di Indonesia BIAYA SENDIRI
28.JADI REKTOR itB
29.Bisa belikan ayah mobil yang ayah mau bebas pilih
30.             Saat umur 20 tahun tinggi badan 170 berat badan 60 kg
31. Menikah setelah dapat pekerjaan
32. Dapat suami baik yang mengizinkan jadi wanita karir
33. UNTUK JADI REKTOR min. pendidikan S3
34.SAAT SMA , BISA NAIK KE PODIUM LAPANGAN UPACARA UNTUK MENYERAHKAN PIAGAM ATAU PIALA KEPADA KEPALA SEKOLAH UNTUK ALMAMATER TERCINTA
35. Bisa reunian ke pamekasan Maks. semester pertama S1
36.Saat aku 17 tahun sholat dhuha, sholat tahajud sudah jadi kebiasaan. Sholat wajib selalu tepat waktu.

Rabu, 13 November 2013

Malam Kelabu Tanpa Dirimu

Menghabiskan malam hanya dengan tetesan air mata.
Merenungi betapa bodohnya diri ini.
Memaksamu untuk tak merindukanku.
Memaksamu asyik dengan duniamu.
Memaksamu untuk berusaha melupakan diriku.
Karena suatu saat aku akan meninggalkanmu
Bukan karena aku tak lagi mencintaimu
Tapi keadaan yang memaksaku membunuh cinta ini
Aku yang bodoh,
Aku yang tak bisa berhenti merindukanmu
Tak berhenti menangisi ketidak beradaanmu di sisiku
Dan tak pernah bisa melupakanmu walaupun aku memaksa diriku sendiri
Aku tak sanggup lagi , mengertikah kau tentang perasaanku ini ?
Aku tak sanggup  lagi berpura-pura bahagia
Tak sanggup lagi berpura-pura tegar
Aku rapuh, aku lemah dan aku butuh kamu di sisiku
Aku tak perduli apa kata mereka
Mereka tak mengerti tentang perasaanku ini
Sesungguhnya aku ingin pergi dan membawa cintamu untuk selamanya
Daripada aku harus hidup dengan kepura-puraan.
Aku rindu padamu, tidakkah kau mengerti itu ?
Lihatlah bintang di langit yang tertutup awan kelabu sambil tertawa
Itulah aku , aku tertawa dalam penderitaan ,
agar kau tak tahu betapa menderitanya aku tanpa dirimu.
Aku tak tahu lagi apa yang dapat aku lakukan tanpamu.
Tapi , aku hanya ingin kau tahu semenderita apapun aku
Aku ingin kau bahagia walau tak bersamaku
Sadarkah kau bahwa kini aku menangisimu ?
Menangisi kebodohanku ini ?
Menangisi perasaan rindu yang tak bertepi
Yang harus aku sirnakan demi orang lain.
Demi membahagiakan orang lain , tanpa peduli betapa sakitnya hatiku.
Aku merindukanmu, dapatkah kau mendengarnya ?
Apakah kau juga merasakan hal yang sama ?
Setiap malam hanya terbayang senyummu ,
Terbayang candamu saat menghiburku,
Apa kau mengingatku disana ?
Apakah kau berdoa pada Tuhan ?
Berdoa tentangku dan cinta ini ?
Seperti yang aku lakukan .
Tapi dapatkah Tuhan mengerti .
Cinta dan Rindu yang terlarang ini telah menyiksaku .
Tawa dalam derita ini telah membunuh hatiku.
Aku sungguh sangat merindukamu .
Dapatkah kau merasakannya ?

Pamekasan, March 9th , 2012

Senin, 30 September 2013

Sepihan Jati Diri (FLS Part VII)

Malam semakin larut, namun Dinda masih tetap duduk menatap langit yang cerah di atas balkon rumahnya. Malam ini bulan purnama, cukup besar dan terang disanding oleh beberapa bintang tak kalah terangnya. Angin malam mulai menyusup di balik piyama tidurnya yang berwarna merah magenta, membuat bulu kuduk Dinda berdiri.
            Secangkir brown coffee yang mulai dingin mulai diminumnya perlahan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi jari Dinda masih beradu dengan tombol  - tombol keyboard laptopnya. Laptop yang sudah menemaninya selama 4 tahun terakhir ini sudah tampak mulai kelelahan. Seperti tak berpri-kelaptop-an Dinda memaksa Laptop munggilnya itu terus menemaninya.
            Makalah Biologi, mata pelajaran yang penuh dengan teori, nama orang asing dan nama ilmiah, juga berjuta eksperimen yang melelahkan. Namun apa daya, beginilah nasip seorang pelajar SMA. Setiap hari selalu punya teman kencan khusus dan berbeda – beda yaitu tugas. Karena hidup tak seindah dalam novel ataupun film maka tugas membuat makalah Biologi itupun harus segera diselesaikannya.
            “Aduh , lupa dokumentasi waktu eksperimen kemarin. Wah, gawat ini. Mana mungkin ngulang eksperimen. Mana makalahnya harus di kumpulin besok lagi. Arrgghh” Ujar Dinda kesal.
            Dinda memutar otak untuk mencari gambar – gambar dokumentasi palsu dari mbah google. Sayangnya tak seperti yang ia harapkan, eksperimen yang dia kerjakan belum pernah di uji oleh orang lain. Eksperimen itu merupakan metode baru yang di buat oleh Bu Hardwi guru Biologi Dinda.
            Dinda mencoba menghubungi semua teman satu kelompok eksperimennya untuk membantu mencari dokumentasi palsu atau gambar apalah supaya bagian  dokumentasi makalah yang dia susun tidak kosong. Parahnya Dinda lupa sekarang sudah cukup larut jadi semua usahanya nihil. Tak ada satupun temannya yang balik menghubungi cewek tomboy atau sekedar membalas smsnya, atau bahkan mungkin tak satupun temannya yang masih terjaga.
            Tugas makalah yang mendadak ini dibebankan kepada Dinda karena hanya dia yang mampu begadang hingga subuh tiba. Bisa di bilang Dinda itu tipe cewek kelelawar, yang malamnya suka begadang dan siang saat pelajaran ia tidur di dalam kelas.
Itulah mengapa Dinda langsung saja menerima tugas menyelesaikan makalah Biologi dadakan ini tanpa memeriksa kelengkapan datanya. Semua itu hanya karena Dinda tidak mau di sebut numpang nama buat cari nilai walau sebenarnya dia tidak ikut saat melakukan eksperimen.
            Dengan langkah gontai Dinda kemudian menyalakan printer untuk mencetak semua hasil kerjanya malam ini. Menyisipkan beberapa lembar kertas dan mengubungkan printer pada laptopnya.
            “Apapun hasilnya besok yang penting aku sudah usaha malam ini” batin Dinda pasrah.
∞∞∞
            ‘Senyumnnya manis’
            Dinda membaca komentar salah satu teman Facebook-nya dalam foto yang baru saja dia unggah tadi sore. Foto dengan celana selutut dan kaos oblong di tepi danau itu mendapat apresiasi 53 like.
“ Siapa ya yang pagi buta ini masih online, chatroom-nya juga aktif “ Batin Dinda
PUTRA HENDRAWAN WIDODO
Kota asal Ponorogo, berdomisili di Surabaya. Mahasiswa di Universitas Airlangga Surabaya, umur  20 tahun dan status LAJANG.
Dinda terus menelusuri satu persatu informasi mengenai orang asing yang baru saja membuatnya berbunga-bunga akibat komentar di foto Dinda. Seperti layaknya pengamat Dinda meneliti satu persatu data, status, foto dan semua hal yang berhubungan dengan Putra. Dinda melupakan makalah Biologinya yang baru setengah jadi gara- gara cowok ini.
“Lumayan lah, keren , lajang pula” Ujar Linda
Tittit
Chatroom Dinda terbuka, ada pesan dari Putra cowok keren ala Facebook incarannya.
Putra Hendrawan Widodo             : ‘Hai, boleh kenalan?’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Hai juga, boleh.’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Maunya di panggil Dinda, Mutia , Rani atau Tiwi ?’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Dinda aja, mau di panggil Putra, Hendra atau …’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Terserah sih, tapi temen – temen biasa manggil Ido’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Oh, Ido’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Sekolah di SMA Negeri 1 Ponorogo ya. Aku alumni sana loh setaun yang lalu. Sekarang kelas berapa ? ’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Oh ya ? Kelas XI. Sekarang di Unair jurusan apa kak ?’
-       -   -  -
Putra Hendrawan Widodo tidak aktif
            “Kebangetan ini cowok PHP doing. Apaan coba ?” Gerutu Dinda
            Dengan kesal Dinda merapikan semua alat sekolahnya dan berusaha tidur walau sebenarnya dia tidak ngantuk. Akibat secangkir brown coffee  yang tadi dia minum tak sedikitpun rasa kantuk menghampirinya. Namun rasa kesalnya pada makalah biologi, juga pada cowok mahasiswa Unair itu mengalahkan rasa ketidak ngantuk-annya.
∞∞∞
            Meja yang di pojok, telinga tersumbat headset  oh betapa indahnya dunia. Jam pertama dan kedua hari ini terlewati begitu saja dengan cepatnya. Sebenarnya tadi sayup – sayup terdengar bagaimana Pak Wahyudi menjelaskan tentang perputaran elektron terhadap inti dalam suatu atom. Tetap saja tak menggoyahkan iman Dinda untuk tetap menghabiskan semua jam  Kimia dengan tidur di bangku belakang.
            “Gimana makalahnya ? Sudah di jilid belum ?” Tanya Ranti setelah Pak Wahyudi keluar kelas.
            “Gembel, mau di jilid gimana wong gak ada dokumentasinya.” Jawab Dinda sekenanya.
            “Loh gimana sih, kita kan sudah praktek di Laboratorium sama Bu Har buat apalagi di kasih dokumentasi.” Bela Ranti
            “Setauku dimana – mana yang namanya makalah itu pakai dokumentasi. Itu memperkuat bukti kalau kita bener – bener praktek.” Sanggah Dinda
            “Kenapa gak kamu saja yang cari dokumentasinya. Cuma kerja ngetik doang aku juga bisa.” Sindir Ranti
            “Heh, non. Biasa aja deh gak usah nyindir. Aku udah cari semalem di internet, aku hubungi semua anggota kelompok tapi gak ada yang tanggap. Ngetik doang ?  Kalau bukan gara-gara aku sering ngerekam suara guru kalau aku lagi tidur pasti langkah kerja kalian gak karuan. Apaan coba bisanya nuntut doang” Dinda mulai tersulut emosinya.
            “Biasa aja dong Din , masa gak malu cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu” Potong Bayu yang merasa konsentrasi permainan PSnya terganggu oleh suara gaduh cewek – cewek di bangku belakang.
∞∞∞
            “masa gak malu cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu”
            Kata – kata Bayu masih terngiang di pikiran Dinda, karena bukan sekali itu saja dia di sindir seperti itu. Banyak juga orang lain yang pernah mengatakan hal serupa. Pertanyaan – pertanyaan kecil namun penting muncul di benak Dinda.
            ‘Kenapa aku berhijab ? ’
            ‘Tapi kenapa aku urak an ?’
            ‘Kenapa aku masih sering upload foto tanpa hijab di sosial media ?’
            ‘Kenapa masih suka pacaran, suka ganjen sama cowok ?’
            ‘Kenapa aku gak bisa seperti cewek muslimah lainnya ? ’
            ‘Terus apa yang aku tutupi dengan hijab ?’
            Dinda mulai berfikir, dulu pakai jilbab gara – gara TK di sekolah Islam. Waktu SD juga pakai jilbab gara – gara SDnya satu yayasan sama TK yang juga mengharuskan berjilbab di sekolah. Di SMP gak lepas jilbab gara – gara kebiasaan. Sekarang di SMA tetep pakai jilab juga gara – gara kebiasaan.
            Masih menjadi sebuah pertanyaan yang masih mengganjal dibenak Dinda “APAKAH AKU BERJILBAB HANYA KARENA SEBUAH KEBIASAAN DAN WARISAN ?”
∞∞∞
            Siang itu cukup terik, sudah seminggu ini Dinda Mutiarani Pratiwi mencari jati dirinya. Sambil menghisap coklat pasta ia menghampiri Nadya yang sedang duduk bangku di pinggir Lapangan Utama SMA Negeri 1 Ponorogo sambil membaca novel.
            Nadya, cewek cantik dengan jilbabnya yang menutupi dada itu menawarkan senyum yang menyejukkan ketika melihat Dinda menghampirinya. Nadya merupakan salah satu pengurus ekstrakulikuler kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo. Tak heran bila penampilannya sangat feminim dan muslimah banget.
            “Nad, tanya dong” Dinda memulai percakapan dan duduk di samping Nadya.
            “Tugas Kimia ? Kelasku belum ada tugas dari Pak Wahyudi” Nadya kembali fokus pada novel yang di pegangnya.
            “Bukan, aku mau tanya. Kenapa sih kamu pakai jilbab ?” Ujar Dinda to the point.
            “Karena kebutuhan” Jawab Nadya singkat
            “ Maksudnya ? Aku nggak paham” Selidik Dinda sambil menutup novel yang di baca Nadya dengan kedua telapak tangannya.
            “Ih, kamu itu kan berjilbab dari dulu. Kenapa sih tanya begitu ? Kamu masih sehat kan?”
            “Emh, masih sehat kok. Tenang aja. Eh, aku ke kelas duluan ya. Makasih” Dinda kemudian lari meninggalkan Nadya yang masih kebinggungan.
            Dinda kemudian menyusuri koridor kelas XI IPS, dia ingin mengunjungi Lely temanya yang dulu pernah sekelas di kelas X. Di depan kelas XI. IPS 3 Dinda melihat Nuri yang sepertinya baru hari ini berhijab. Dia mengurungkan niatnya bertemu Lely tapi menemui Nuri.
            “Cie .. Nuri berjilbab cie .. Selamat ya ” Goda Dinda
            “Apaan sih , iya makasih” Balas Nuri sambil malu- malu
            “Kenapa berhijab, Nur ? ” Tanya Dinda
            “Ituh sama mas Yogi di suruh berhijab. Terus temen – temen juga banyak yang berhijab” Jawab Nuri bangga.
            “Loh, udah jadian toh sama mas Yogi ?” Tanya Dinda dengan sedikit kaget.
Tak ada jawaban dari Nuri hanya sebuah anggukan dan secuil senyum bangga terbesit di wajahnya. Dinda menyimpulkan Nuri tak sepenuhnya ingin berhijab. Setahu Dinda Nuri dulu pernah mencalonkan diri sebagai model sebuah majalah remaja Jawa Timur, namun setelah terpilih dia malah mengundurkan diri demi mas Yogi.
∞∞∞
            Senyawa utama penyusun sel yaitu asam nukleat dan bla bla bla. Penjelasan Bu Hardwi hanya masuk dari telinga kanan ke telinga kiri Dinda kemudian melayang bebas ke udara. Sejak dulu menurutnya Biologi hanya bisa di serap kalau sedang belajar sendiri, bukan dengan mendongeng masal yang meninabobokan semua siswa. Lagipula pelajaran berat untuk kelas jurusan IPA seharusnya tidak di jadwalkan setelah jam 12 siang karena itu waktu terlemah kesadaran siswa.
            Alunan lagu dari Taylor Swift berjudul Tied Together with a smile mengalun samar dari headset yang Dinda pakai. Ternyata jilbab juga dapat berfungsi untuk menutupi headset yang dia gunakan dari guru pengajar saat mata pelajaran berlangsung.
            Saat Bu Hardwi yang juga istri dokter spesialis jantung ini mulai menerangkan mengenai macam – macam karbohidrat datanglah beberapa orang mahasiswa yang langsung menyalami Bu Har. Walau siang bolong Bu Har kemudian bersemangat bercerita bahwa mahasiswa yang datang siang itu salah satunya bernama Putra Hendrawan Widodo.
            Rasa kantuk Dinda seketika menghilang, tergantikan rasa kagum pada sosok Kak Ido yang ternyata jauh lebih keren daripada fotonya di Facebook. Kak Ido melemparkan senyum dengan sedikit cuek pada seisi kelas. Dan ternyata bukan hanya Dinda yang mengagumi senyum cuek Kak Ido beberapa teman ceweknya juga mulai berbisik perlahan dan menyebut nama Kak Ido.
            Kak Ido dan teman mahasiswa lainnya ternyata sedang mempromosikan sebuah lomba mata pelajaran Matematika yang di adakan di Unair Surabaya. Kebetulan sekali walau benci beberapa pelajaran seperti Biologi, Dinda masih menyukai Matematika. Memang sedikit menganaktirikan Biologi dari semua mata pelajaran pokok di jurusan IPA, tapi tak apalah siang ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa.
            “Adek Dinda nanti ikut ya ? ” Tawar Ido sambil membagikan brosur dan formulir pendaftaran lomba. Tanpa di perintah Dinda mengangguk tanda setuju.
∞∞∞
            “Dinda , aku itu loh sayang kamu. Jadi pacarku yuk ? ” Ido mengungkapkannya secara lancer dan pasti tanpa basa basi.
            “Hah ? Kita baru akrab belum genap sebulan loh kak.” Jawab Dinda setengah kaget.
            “Tapi sejujurnya kamu suka sama aku kan ?” Selidik Ido.
            Dinda hanya mengangguk mengiyakan. Hari ini adalah pengumuman Babak Final Lomba Matematika yang diadakan oleh Unair. Bu Widya pendampingnya pulang terlebih dahulu karena ada kepetingan keluarga. Alhasil, besok dia menghadiri acara penyerahan hadiah Lomba sendiri tanpa guru pendamping. Bu Widya hanya meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk biaya menginap malam ini di hotel.
            Dengan pasrah Dinda menerima keputusan guru pendampingnya itu. Dinda berhasil mendapat juara 3 dalam perlombaan tersebut. Hasil yang cukup lumayan karena dia satu – satunya delegasi SMA Negeri 1 Ponorogo yang berhasil masuk babak Final.
Sebenarnya malam itu bisa saja gadis yang juga kelahiran kota Surabaya itu menginap di rumah saudaranya. Namun, dia memilih untuk menginap di hotel dengan uang saku dari sekolah dan orangtuanya. Sekaligus dia ingin jalan – jalan bersama kak Ido setelah Laki-laki itu menyelesaikan tugas kepanitiaannya.
Dinda dengan setia menunggu di bangku salah satu ruang kelas di Unair. Setelah Kak Ido menyelesaikan semua kewajibannya, mereka kemudian beranjak menuju pusat kota Surabaya. Setelah mendapatkan kamar hotel yang diinginkan lalu mereka mulai mengunjungi Matos dan mall – mall lainnya.
Tidak ingin membeli apa – apa sebenarnya, hanya ingin merayakan keberhasilan aja. Malam itu begitu indah mereka habiskan berdua saja. Saat semua mall sudah mulai tutup mereka kembal ke hotel yang akan diinapi Dinda malam itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, namun kota Surabaya belum mati. Termasuk juga di hotel Ramayana itu masih ramai orang berlalu lalang. Kak Ido ingin mengantar Dinda hingga sampai di depan kamarnya. Mereka mulai menapaki lantai 3 hotel, baru beberapa langkah keluar dari lift mereka di suguhi pemandangan yang tak patut di lihat.
Gadis masih menggunakan rok abu – abu, jaket belang ungu putih dan jilbab yang mulai berantakan sedang bercumbu di koridor hotel. Bibirnya bertaut, menghisap dan mengulum bibir pria berjas hitam dan berpenampilan perlente semacam bos kantoran. Mereka terlalu asyik hingga tak mengetahui bahwa sedari tadi Ido dan Dinda menyaksikan perbuatan mesum mereka.
Ido langsung menarik Dinda masuk kembali kedalam lift. Dalam keheningan lift Dinda mulai terisak.
“Aku takut Kak . . Aku mau cek out aja dari hotel ini” Dinda akhirnya mulai bicara.
“Iya nanti aku bilang ke petugasnya, kita cari hotel lain saja. Sudah jadi rahasia umum nda kejadian semacam tadi.” Igo mulai menenangkan.
“Buat apa dia berjilbab ? Munafik banget. Dia nutupin kedoknya yang jadi cewek nakal dengan jilbab.”
“Gak sepenuhnya salah mereka nda.” Igo mencoba memahami perasaan Dinda yang campur aduk.
“Kak, kita putus” Bisik Dinda  lirih, mata mereka beradu menimbulkan berjuta tanda tanya besar , kekecewaan dan perasaan lain yang tak dapat dijelaskan.
“Kita baru pacaran 6 jam ? ” Igo sedikit kaget
“Aku takut kita seperti itu.” Dinda mencoba memberi alasan.
“Kamu gak percaya sama aku ?” Igo makin menatap lekat mata bulat Dinda.
Dinda yang biasanya berprilaku seperti laki – laki itu sedang berada di titik terlemahnya sebagai wanita. Dia melepaskan sentuhan Igo di kedua bahunya dan mengalihkan padangan dari mata Igo yang tajam.
“Ini keputusanku kak, maaf” Dinda menunduk lesu.
Igo mengela nafas panjang.
“Aku juga merasa malu kak, pakai jilbab tapi boncengan sama cowok. Pakai jilbab tapi pegangan tangan. Bahkan andai di teruskan kita mungkin bisa melakukan lebih dari apa yang kita lihat tadi. Aku takut. Ini lebih aman Kak, aku mohon.” Dinda menjelaskan panjang lebar.
∞∞∞
Dinda Mutiarani Pratiwi juara 3 Lomba Matematika Statistika tingkat Jawa Timur Universitas Airlangga.
Dinda tampil lebih anggun dengan Jilbab yang menutupi dada, dan senyum yang mengembang manis. Langkah pastinya menuju podium menyerahkan piala kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Ponorogo.. Bangga, sedih, trauma, senang semua menjadi satu. Tapi hati kecilnya memaksa bibirnya untuk tetap tersenyum.
Semua kejadian dikoridor hotel Ramayana malam itu menyadarkan bahwa jilbab bukan hanya menutupi kepalanya. Tapi semua tingkah , tutur kata , sikap dan perbuatan. Kini Dinda mencoba memulai semua dari awal, memperbaiki dari awal.
Dia mulai mencintai jilbabnya, semua pengaruhnya. Bukan karena siapapun, bukan karena jilbab sebuah kebiasaan ataupun warisan. Tapi karena jilbab adalah sebuah kebutuhan muslimah seperti dirinya. Ucapan Nadya benar adanya, semua cinta harus mulai dari dalam hati. Semua cinta harus dengan ikhlas.
Bagaimana dengan Kak Ido, ya dia masih meneruskan studynya tetap menjaga perasaan masing-masing. Hingga suatu saat nanti menjadi indah dan halal untuk Dinda dan Ido. Suatu saat nanti, jika Tuhan berkehendak karena jodoh tak akan pergi dan lari. Sampai nanti dengan setia Dinda akan menjaga kesucian dirinya untuk kekasih masa depannya dengan jilbab-jilbabnya.
Ponorogo, 19 September 2013
Mazda Rachma Qunuti



Selasa, 23 Juli 2013

MOVE ON (Love Story Part VI)


Siang itu cukup terik, matahari seolah lebih bersemangat menyinari bumi. Sesemangat temen- temen Rohis SMAN 1 Ponorogo yang sedang berpencar untuk mencari sponsor untuk acara Pondok Ramadhan 1434 H. Termasuk juga Linda dan Lely yang sedari tadi mondar – mandir menyisiri sepanjang  jalan Jaksa Agung mencari alamat toko yang di harapkan mau menjadi sponsor atau sekedar donatur untuk acara yang mereka tangani.
          “Sudah semua Lel, balik ke sekolah yuk . . Hari ini Nihil kayaknya ” Ujar Linda pasrah.
          “Iya udah, pokonya di toko yang pojok itu kita balik hari jumat, yang bakso itu kita balik ntar  jam 2an ya .. ”
          “Cari sponsor gak segampang yang aku fikir ya tenyata . ” Linda mulai mengeluh.
          “ Ayolah, semangat masih ada puluhan toko yang belum kita datengi, santai aja lagi. Mosok kabeh podo emoh ? ” Lely mencoba menyemangati sobatnya ini.
          “Okelah Semangat . ”
∞∞∞
          Sudah dua hari Linda dan kawan – kawannya mengelilingi Ponorogo untuk mencari sponsor. Selain itu Linda juga mendapat tugas tambahan untuk mengantar undangan ke beberapa orang untuk menjadi pemateri pondok Ramadhan. Di hari kedua Linda mulai kelelahan, berangkat jam 8 pagi dan pulang hingga jam 3 sore hanya berputar – putar, keluar masuk toko, ah semacam itulah.
          “Buk, capek . Aku tidur ya ?” Linda mengeluh pada ibunya sore itu.
          Ndak mandi dulu ?”
          Ndak, ntar aja, udah sholat kok. ” Linda mulai merebahkan tubuhnya.
          Linda lupa sudah berapa lama dia tidur. Yang dia tau adiknya membangunkannya bersamaan dengan adzan magrib.
          Mbak, woy !  Jek teddung moloh ” Dwi menarik selimut kakaknya.
          “Mmmhh … Ngatuk dek ..” Linda kembali menarik selimutnya.
          “Udah magrib tauk. semua ke masjid loh, pintunya gak di kunci. Dasar tidur kok kayak orang mati. Assalamualaikum” Dwi meninggalkan kakak perempuannya yang masih setengah sadar.
∞∞∞
          Jam di laptop Linda sudah menunjukkan jam 10 malam, tapi Linda belum merasakan ngantuk sekalipun. 
          Ah.. gara-gara tadi sore tidurnya kepanjangan nih. Mau ngapain lagi ini semua udah pada tidur. Batin Linda
          Iseng – iseng Linda membuka software photo editing yang dia punya. Membuka satu persatu album foto, melihat satu persatu dari ratusan foto yang tersimpan di laptopnya. Sampai di Hidden Folder, Linda menuliskan password untuk hidden folder-nya tersebut.
          “Ah, kakak kece … ” Linda membuka beberapa foto kakak kelas yang dia kagumi sambil tersenyum kecil.
          “Mantan , Ah … gue kenapa belum bisa move on  ?” Linda mulai melihat beberapa foto kebersamaan dia dan mantannya itu. Tanpa dia sadari beberapa titik air mata jatuh membasahi pipi.
          “Gue buat slide show dari foto ini ah, semoga aja dia sadar kalau gue masih sayang dia.” Senyum tersungging di bibirnya.
          Tangan Linda mulai beradu dengan mouse dan keyboard Laptopnya. Editing dan nge-cut beberapa lagu, lalu di isi dengan foto dan beberapa slide berisi kata- kata untuk mantannya.
          Jam  sudah menunjukkan pukul 2.30 dini hari, Linda baru bisa menyelesaikan project video slide show amatiran. Linda memindahnya kedalam Flash disk 4 GB nya.
          Kok udah pagi , nanggung mau tidur. Kalau kesiangan bisa telat cari sponsor. Batin Linda
          Akhirnya Linda memutuskan untuk sholat malam, kemudian mendengarkan music dari MP3 player nya hingga subuh tiba.
∞∞∞
          F**** S*** P****** : Kapan rapotan ?
          Mazda Rachma Qunuti : Besok.
         
          Kok masi perhatian ya? Padahal udah punya gandengan di sana. Linda mulai geer.
          Akhirnya, karena Linda merasa Mantannya itu masih ada perhatian dengan berani Linda mengirim Video itu, namun sayang pihak facebook tidak meridhoi karena besarnya muatan dari vidio itu .
 Arrgghh ,, gak tidur semaleman demi ini dan ternyata ga terkirim. Pekik Linda dalam hati.
          Berbekal chatting di facebook akhirnya Linda mengirim pesan singkat pada mantannya.  Dan ternyata yang membalas adalah gadis yang katanya kini mantannya sayang, dengan bahasa yang 4L@¥ perempuan itu membalas.
          Kata udah Kelas 3 SMK kok alaynya belum sembuh ya ? . Batin Linda setelah smsan dengan perempuan itu.
          Tak lama kemudian ada pesan singkat dari nomer yang tidak Linda kenal. Mas Yudi ternyata, Linda dengan ogah – ogahan menjawab. Mood nya berubah menjadi jelek gara – gara cewek alay itu. Mas Yudi marah dan menganggap Linda mencoba merusak hubungannya dengan cewek alay itu.
∞∞∞
          Kalau emang sudah gak sayang, kenapa nge-chat segala ? Aku ini di anggep apa? Aku memang sayang kamu, gak berhak juga kamu ginikan aku.Aku gak akan berubah jadi alay seperti cewek itu biar kamu balik sama aku. Ihh ogah..
          Kalau kamu Tanya kenapa aku susah banget move on dari kamu aku bakal jawab gini . Dulu , setelah berapa bulan pacaran  aku baru mau buang surat cinta dari mantan-mantanku ? Baru setelah berapa bulan aku hapus fotonya dari laptop dan ponselku ? Kalau gak gara – gara kamu paksa karena kamu  cemburu aku juga gak bakal ngelakuin itu.
          Berapa lama aku betah suka sama seseorang ? 5 tahun ! itu bukan waktu yang singkat. Kamu yang bodoh ! Menyia nyiakan cewek yang setia seperti aku. Dan lihat seperti apa cewekmu yang sekarang ? Kalau cewek barumu lebih baik dari aku, aku bisa terima. Oh God , Sadarlah dia bukan wanita baik !
          Bukan aku masih mengharapkanmu kembali kepelukanku. Oh ndak, aku Cuma pengen kamu bahagia, aku gak mau kamu nantinya sakit hati gara-gara cewek ini.  Selama ini , kamu fikir yang sakit Cuma kamu ? aku bahkan lebih , berapa kali kamu buat aku menangis ? Entahlah aku lupa.
          Aku memang cuek, aku sibuk , aku akui itu tapi aku gak pernah lupa kamu. Berapa kali kamu memuji wanita lain cantik ? Berapa kamu membonceng wanita lain ? Dan semua itu aku Cuma diam aja.
          Baru sekali aku kagum agak parah ke cowok kamu udah marah gak karuan. Cemburu , aku tau cemburu itu tanda sayang. Tapi, lihat katanya sayang kenapa berpaling secepat itu?
          Hanya sekedar kau tau, walau nanti aku sudah punya penggantimu aku juga gak bakal lupain kamu dan mantan- mantanku yang lain.   Dengar, Move on itu berat bila kau benar- benar menyayanginya. Aku tau aku bodoh pernah mau kamu mainkan. Karena yang ku tau kini kamu gak mengerti apa arti cinta dan sayang.
          Selamat melanjutkan hidup, selamat buka usaha baru ya .. jadi counter baru, bank baru, ojek baru buat cewek barumu,. Ingatlah aku gak pernah berharap kamu kembali. Aku Cuma butuh waktu agar terbiasa tanpa kamu, butuh waktu membunuh semua rasa yang yang tercipta untukmu.
                                                                             Ponorogo, 22 Juni 2013

          Linda menutup diarynya dan mulai tidur , mengistirahatkan otak dan tubuhnya. Besok dan seterusnya adalah hari besar yang harus dia tempuh. Masih banyak hal positive yang bisa di kerjakan daripada meratapi masa lalu yang suram.
Ponorogo, 23 Juni 2013
Sukseskan Move On 2013 !
Mazda Rachma Qunuti.