Minggu, 10 Juni 2012

Masih Memantul (Cerpen III)


Bola itu masih tetap memantul dan akan terus memantul sampai batas akhir pemainan ini. “Dina !” “Dina!” “Dina!”, Gedung Olahraga itu penuh dengan teriakan pendukung DINA. Walaupun sebenarnya bukan hanya Dina saja yang bermain. Bola itu masuk dengan mulusnya ke dalam ring, 3 point. “Yes, I get one more” seru Dina , Penonton pun semakin riuh saja , tak terasa waktu telah berjalan sejauh ini, 30 detik lagi pertandingan akan berakhir. Dan kemenangan tetap di tangan SMA Antartika 1.
“Selamat, kalian lagi lagi menjadi juara pertama. Janganlah berbangga diri terlebih dahulu, karena Mr. yakin musuh-musuh kita sekarang sedang berusaha untuk mendapat juara. Maka kita sekarang harus mempertahankan keberhasilan kita itu. Semangat!” “Semangat Antartika! “ seru tim basket putri utama SMA Antartika 1.Tapi di balik itu semua ada satu kebencian, rasa iri dan dendam yang mendalam.
∞∞∞
“Selamat ya sayang, kamu hebat.” Randy merangkul mesra Dina. “Iya, syukurlah. Ini berkat tim Dina yang kompak dan doa dari semua pihak, termasuk kamu beib.” Dina senyum manja. “Gimana kalau kita rayakan ini semua nanti malem, kita makan malem , nonton , and hang out di tempat biasa.” Usul Randy. “Hmm.. gimana ya? Nggak usah lah beib. Dina capek banget mau istirahat.” ”Ya sudah, Everything for you my angel.” Randy mengecup kening Dina.
Alangkah bahagianya Dina, tidak pernah terbayangkan olehnya dia kini menjadi shooting guard terbaik se SMA Antartika dengan menyumbangkan 21 point dari 25 point yang diperoleh. Dari nilai itupun Sekolah Lain sudah terpaut jauh sekali , hasil pertandingan tadi 15-25, terpaut 10 angka. Meskipun kebahagian ini luar biasa bagi nya namun tetap biasa-biasa saja bagi orangtuanya. Yang tidak pernah dan tidak akan pernah setuju Dina main basket apapun alasannya.
“Ma, Dina mau tidur dulu ya.” Ucap Dina sesampainya di rumah. “Mau tidur? Sekarang jam berapa Dina ? Kamu nggak mau belajar?”. “Nggak ma, Dina capek.”. “Ini ni gara-gara basket kamu sekarang jadi males belajar, jarang ikut les. Kamu nggak kasian sama guru-guru itu? Yang sudah jauh-jauh datang kesini buat nambah ilmu kamu, eh kamunya sibuk latihan basket terus. Dina, Dina , kamu dengerin mama nggak sih din?” Tapi sayang Dina sudah terbang ke alam mimpi yang indah.
∞∞∞
Matahari sudah menjulang tinggi namun Dina masi enggan meninggalkan kasurnya yang empuk itu. Sedangkan Seto sahabat baik Dina sudah siap berangkat. “Permisi Tante, Om, Bang, selamat pagi. Dina nya ada?” Sapa Seyo kepada Keluarga Brahmanto yang sedang sarapan itu. “Pagi Seto, Dina sepertinya masih tidur, ayo ikut kita sarapan dulu yuk.” Ajak Nyonya Brahmanto. “Nggak usah tante,saya kebetulan sudah sarapan, boleh keatas liat Dina nggak tante?” ujar Seto dengan gaya nya yang mirip perempuan. “Kamu itu to , kayak yang baru masuk rumah kita aja. Sudah sana bangunin ntuh kebo di kamarnya”  Abang Andre ikut menjawab.
Tanpa basa-basi lagi Seto masuk ke kamar Dina. Bukannya semerbak bunga tujuh rupa yang wangi yang tercium saat dia masuk kamar Dina, tapi bau keringet yang melebihi bau bunga bangkai menyeruak dari kamar Dina. “Busyet, hey nyonya bangun! Nggak malu ama kebo di sawah tuh pada sudah mandi ? “ Seto membangunkan sahabatnya itu. “Ekhheemm” Dina hanya merubah posisi tidurnya. “Gila , lu kentut ya ?” Seto menutup lubang hidungnya dengan jari telunjuk. Dina hanya menyengir nggak jelas.
“Ayo’ ah nya bangun donk. Ntar kita terlambat lho…”Seto menarik narik tubuh Dina. Nggak terlalu berat sih buat cowok seukuran Seto tapi gaya nya yang kemayu dan Tubuh Dina yang lengket dan bau membuat acara tarik menarik itu malah seperti Adeagan-adegan di karton TOM and Jerry
‘Iya gue bangun, tunggu gua d mobil aja sono !’ akhir.a Dina mulai emosi. ‘Baik,nona’ dengan berat hati dan langkah gontai Seto keluar dari kamar Dina. Cantik sih cantik , tapi kelakuan kayak gitu sih, bikin cowok – cowok yang naksir bakal ilfil.
∞∞∞
‘Din, Lo tau nggak sih, tadi pagi gua dapet gossip hot terbaru , terakurat hari ini. Mau tau nggak ?’ Rayu Seto pada Dina. ‘Ogah, Huamb’ Dina menolak mentah-mentah. ‘Lagian lo itu cowok Seto, gila. Doyan banget ama gossip – gossip murahan kayak gitu.’ Gerutu Dina. ‘Eits, Honey Bunny Sweetie ini gossip buka sembarang gossip lho. Ada buktinya non, coba deh liat ini bentar.’ Seto menunjukkan foto muda –mudi sedang berpelukan mesra duduk di sebuah bangku taman di ponselnya kepada Dina.
Dina terbelalak bukan main, matanya yang tadi hampir tidak bisa di buka kini tak bisa di kedipkan demi melihat foto itu. Foto semacam itu memang sudah biasa bagi anak-anak muda zaman sekarang, berpelukan, berciuman bahkan lebih dari itu pun ada. Tapi yang berbeda kali ini adalah pelakunya, Randy kekasih hati Dina.
‘Dina ? Hallow ?’ Seto tidak mengerti sepanjang perjalanan menuju kesekolah Dina kini menjadi diam membisu, tidak seperti biasanya. Padahal gua khan mau ngasih tau ke Dina kalau si centil Mona ketua cherrs itu punya pacar baru. Apa ada yang salah ya dari gambar tadi ?. Seto mengamati gambar di layar ponselnya seteliti mungkin. Oh my God, Randy. Kini Seto tau penyebabnya, Aduh bego’ banget sih gua, gimana nih kalau sampai Dina Kalap ?
Detak jantung mereka beradu cepat. Dina emosi karena melihat sang kekasih yang selama ini dia percaya berani seligkuh dengan musuh bebuyutannya sejak kecil. Dan sahabatnya, Dina pun tak tau apa yang akan dia lakukan pada Seto.Kalau bukan Seto yang membeberkan semua mungkin Dina takkan pernah tau apa yang terjadi di belakangnya. Tapi, apa sebegitu plin-plannya Seto sampai tak ingat kalau Randy itu pacarnya ? bukankah seharusnya dia tau kalau ini akan melukai hatinya.
Surabaya mulai tergenang air hujan. Rintik Hujan halus menyirami kota pahlawan itu, menyejukan semua hati kecuali satu. Hati Dina yang perih bagai disayat sembilu.
∞∞∞
Dina sudah mengitari sekolah sebanyak 3 kali, tentu saja tak lepas dari Seto. Amarahnya tetap saja membludak, meskipun sedari tadi Seto telah memohon dan meminta maaf darinya. Yang di carinya kini bukanlah Randy, tapi Mona. Dia orang ketiga diantara dia dan Randy,dan dia yang harus disalahkan.
Dan yang harus Dina terima adalah mereka hari ini sama-sama tidak masuk dengan alasan sakit. Busyit, kemaren Randy masih sehat – sehat saja , bahkan masih sempet ngajak jalan. Dasar bajingan. Dina menggerutu, nafasnya kembang kempis tak karuan. Ingin rasanya dia berteriak memaki kedua orang itu.
Dina akhirnya menyerah, hari ini dia izin tidak mengikuti pelajaran full. Dia pergi ke lapangan basket, menggunakan pakaian basketnya. Dia bermain dan terus bermain di tengah lapangan itu meski hujan makin deras mengguyur tubuhnya. Seto sebenarnya iba, dia merasa ini semua salahnya.
Kamu laki-laki Seto, kamu harus berani. Untuk apa kamu selama ini ada di sisinya tapi kamu tak pernah bisa mengungkapkan apa yang kamu rasa. Seto menyalahkan diri sendiri yang tak pernah bisa menjadi apa yang Dina mau, sekeras dia berusaha maka sekeras itu pula sakit yang ia rasa.
Semua usaha Seto seakan sia-sia, dulu sebelum Randy jatuh cinta pada Dina dan akhirnya meminta Dina menjadi pacarnya. Seto memiliki sedikit keyakinan dapat memiliki hati Dina , tapi semua usaha yang dia buat menjadi hancur lebur tak karuan.
Tapi kini, Seto merasa sudah saatnya dia angkat bicara. Dia yang sedari tadi duduk di tepi lapangan menyaksikan Dina bermain sambil menangis mulai berdiri. Dia lepas jaket kulit yang sedari tadi dia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Dia mulai berlari ke tengah lapangan itu juga.
Sungguh, bola basket yang sedari tadi Dina mainkan kini terpantul entah kemana. Tak pernah Dina duga, Seto yang kemayu ternyata memiliki tubuh yang atletis, bajunya yang tersiram hujan tak mampu lagi menutupi six pack perfect yang telah terbentuk dalam tubuh Seto. Dina terdiam terpaku, kini tubuh itu memeluknya, mengusap lembut kepalanya dengan kedua tangan kekar yang biasanya di gunakan untuk memegang kipas.
Oh my God , suara yang berbeda itu membisikan kata di telinga Dina. Kamu gadis yang kuat, sekarang mari kita menepi semua takkan selesai jika kau hanya menangis disini. Senyum mengembang di bibir Dina, Tubuh itu seakan tak bertenaga mengikuti semua komando dari Seto. Tuhan, ini kah cinta ?
∞∞∞
Sore itu jalanan becek tak menyurutkan Dina untuk pergi ke rumah Randy,tanpa minta antar supir dan tanpa teman. Karena Dina hanya bilang izin mau ke mall, jadi sudah biasa pergi sendiri. Seto pun tak di ajaknya, dia yakin Seto akan menjadi batu penghalang besar apabila dia ikut bersama Dina.
Sesampainya di rumah Randy, Dina menjadi seperti orang linglung. Ponsel  Randy tidak aktif sejak tadi pagi, dan kini dua janur muda melengkung di pagar  rumah Randy yang megah itu. Dina melangkah dengan tergesa-gesa, Ran, jangan bilang lo mau merit, gua gak sanggup ran. Gua terlanjur cinta ama lo. God , help me.. Dina tak henti-hentinya memohon.
‘Saya Trima nikahnya Monalisa Ayuningtyas dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai’ Kata-kata itu lancar keluar dari mulut Randy. Dina lemas seketika, akad nikah itu memang sederhana hanya dihadiri orang-orang terdekat Randy , dan.. Mona. Tapi itu mampu meruntuhkan ketegaran hati Dina.
Semua mata kini memandang Dina yang tengah duduk bersimpuh di ambang pintu. Dengan sekuat tenaga dia telah berusaha tetap berdiri tegak namun dia tak mampu. Mona dan Randy kini telah berdiri di depannya, mau tak mau dia harus turut berdiri.
‘Beri satu alasan Ran.. ’ Dina berbicara sambil terisak. ‘Aku..’ Mona menutup bibir Randy dengan tulunjuknya. ‘Biar aku. Kamu itu orang ketiga antara aku dan Randy , Andina Putri . Aku hamil sudah 3 bulan. Aku sudah jadi pacarnya lebih dulu daripada kamu. ’ Mona tersenyum bangga.
Tamparan mulus mendarat di pipi Mona. ‘Dasar pelacur murahan. Kamu Ran , kamu bajingan ! ’ Dina pergi dengan amarah dan tangis menjadi satu. Kenapa sebegitu bodohnya dia dulu mau jadi kekasih Randy. Kini dia mengemudikan mobil dengan sembarangan, dengan kecepatan diatas kecepatan maksimal.
Hujan kembali turun sederas air mata Dina, di tempat lain. Perasaan taktenang muncul dalam batin Seto. Sebenarnya sejak dulu dia tau kalau Randy telah memiliki kekasih, tapi dia tak mengutarakannya karena dia takut Dina semakin menjauhinya. Seto yang khawatir menghubungi ponsel Dina tapi tak ada jawaban.
∞∞∞
Ponsel Seto bordering. Ada pesan baru dari Bang Andre .
Dina masuk rumah sakit kecelakaan. Sekarang cepat ke sini sedari tadi dia memanggil-manggil namamu.
Tanpa berpikir panjang Seto langsung mengendarai mobilnya menuju rumah sakit yang di
maksud bang Andre.  Pikirannya melayang tentang apa yang terjadi kepada Dina. Sesegera mungkin dia ingin menemuinya. God, keep her beside you.
            Dina terbaring lemas di ranjang rumah sakit ketika Seto datang. Dina tersenyum ‘Seto,peluk gua’ pinta Dina. Seto memeluknya dengan lembut. ‘Kaki gua patah,Gua nggak bakal jadi shooting guard terbaik lagi. Lu mau nggak jadi pemain basket buat gua ?’ Seto senang dan mengangguk.
∞∞∞
                Kini Seto yang tengah bergulat dengan bola basket itu, memantul kesana kemari. Kini Seto adalah Kapten basket putra SMA Antartika 1 , dia bermain dengan kerennya. Dari atas kursi roda Dina berteriak. ‘Seto, cowok gua lu hebat.. semangat sayang’ Seolah hanya dialah pemilik Lapangan basket itu. Seto hanya melambaikan tangannya kearah Dina yang kiini tersipu malu.
            Hujan masih tetap mengguyur Surabaya, sederas cinta yang kini mengalir antara Seto dan Dina. Cinta yang terjalin atas dasar persahabatan dan kesetiaan. Dan karena cinta mereka tulus menerima apa adanya . Keep our love forever. J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar