Minggu, 10 Juni 2012

Bunda, Ayah mana ? (Cerpen VI)


‘Bunda,ayah mau kemana?’ Merlin kecil menangis di depan Bundanya yang terjatuh dengan bibir berdarah. ‘Ayah mau beli coklat buat Merlin. Merlin tidur saja ya.’ Bunda Merlin berusaha tersenyum.
Merlin kecil mengangguk , dia pun pergi tidur dengan boneka teddy bear berwarna putih pemberian Ayahnya. Meninggalkan Bunda nya yang menangis di ruang keluarga itu sendirian.
            Di ranjang kecil itu Merlin mulai berbaring mencoba tidur, sebelun tidur dia berdoa terlebih dahulu seperti apa yang selalu Bunda ajarkan padanya. Setelah berdoa Merlin mencium boneka itu, dia peluk boneka itu erat – erat dan dia pun pergi ke alam indah yang hanya ada dirinya dan teddy bear di dalamnya.
∞∞∞
            Seusai bangun tidur Merlin kecil mencium pipi Bundanya dan bertanya ,‘ Bunda, Ayah mana ?’. Bunda menggendong gadis yang baru berusia 5 tahun itu dan memeluk erat gadis itu. Bunda membelai rambutnya yang panjang dan bergelombang dan berbisik,
 ‘Ayah sudah berangkat kerja, coklatnya ada di lemari es. Semua coklat itu buat Merlin.’. Merlin kecil nan lugu itu bersorak kegirangan.
‘Kalau Ayah pulang nanti , Merlin mau makan coklat ama Ayah. Bunda, coklatnya di simpan ya, jangan sampai di makan teddy . hehe ’
            Senyuman dari bibir mungil itu makin membuat hati Bunda teriris, Bunda sadar dia tak akan bisa terus menerus berbohong kepada Merlin tentang apa yang terjadi sebenarnya.
‘Bunda kenapa bibir Bunda warnanya biru ? ngak seperti punya Merlin ?. ’ Merlin menyentuh bibir Bunda yang memar.
‘Au, sakit nak. ’ Bunda meringis kesakitan.
‘Maafin Merlin ya Bunda.’Merlin merasa bersalah atas apa yang baru saja dia lakukan pada Bunda.
            Bunda tersenyum melihat tingkah anak gadisnya, dia mendudukan Merlin di kursi meja makan.
‘Merlin makan dulu ya, ini ada ayam goreng kesukaan Merlin.’
            Bunda menyuapi Merlin dengan sabar, dan perhatian. Sampai kapanpun Merlin tak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bunda tak ingin kehilangan Merlin yang ceria bila dia menceritakan yang sebenarnya pada Merlin.
∞∞∞
‘Bunda, Ayah mana ?’ Merlin kini terlihat muram tatkala bertanya hal yang sama kepada Bundanya.
            Hari ini sudah ke 7 kalinya Merlin bertanya. Merlin tak pernah bertemu Ayahnya selama 7 hari, Bunda selalu bilang kalau Ayah kerja mencari uang untuk Merlin. Tapi apa Ayah tidak rindu pada Merlin dan Bunda. Merlin kecil mulai menangis sambil memeluk bonekanya.
‘Nanti ayah pulang, Merlin makan dulu ya’ Bunda membujuknya.
‘Merlin nggak mau makan kalau Ayah nggak pulang. Merlin mau makan di suap Ayah’
‘Merlin sayang, Merlin nggak boleh gitu, nanti kalau Ayah pulang tapi Merlin sakit gimana?’
‘Merlin nggak mau tahu, Merlin kangen Ayah’
            Merlin meninggalkan Bundanya, sejak hari itu Merlin tak pernah lagi bertanya Ayahnya pergi kemana. Dan hari demi hari hubungan Merlin dan Bunda juga tak seakrab dulu. Merlin menganggap Bunda telah menipunya, Bunda selalu berjanji Ayah akan pulang. Tapi, sampai saat ini Ayah tak pernah datang.
∞∞∞
‘Bunda, Ayah sebenarnya kemana sih ?’ Merlin menyapa Bundanya pagi itu yang sedang menyiapkan sarapan.
‘Kamu sudah bangun sayang ?’ Bunda mencoba merangkul Merlin, tapi dengan keras Merlin menolaknya.
‘Merlin nggak mau di peluk, yang Merlin mau itu Ayah.’
‘Ayah sebentar lagi pulang kok sayang.‘
‘Bunda selalu saja bilang gitu, Merlin sudah besar Bunda. Sebentar lagi Merlin jadi sarjana. Apa Bunda tega masih ngebohongi Merlin ? Apa Bunda tega membiarkan Merlin setiap hari menghitung coklat di lemari es, coklat yang sedari dulu pengen Merlin makan bersama Ayah? Apa Bunda pernah berfikir betapa sakitnya hati Merlin selama bertahun – tahun Merlin di ejek teman – teman Merlin karena Ayah nggak pulang ? Apa sampai saat ini Bunda tega ?’Merlin mulai emosi dan menangis.
            Bunda melihat anak gadis nya yang manis kini berkata seperti itu, ternyata itu yang Merlin rasakan selama ini. Merlin selalu menutup diri dan sering Bunda melihat matanya sembab. Apa yang di lakukan Bunda selama ini tak sepenuhnya benar.
‘Merlin sayang , Ayah juga rindu sama Merlin. Ayah juga pengen pulang, tapi ayah masih sibuk.’
‘Bunda jangan bohongi Merlin, Merlin mohon katakan yang sebenarnya. Bunda , kalau Bunda nggak jujur Merlin akan semakin menderita Bunda. Banyak pria yang ingin melamar Merlin, tapi Merlin tolak soalnya Merlin pengen Ayah yang mencarikan calon buat Merlin. Dan menjadi wali Merlin kalau Merlin nikah nanti, Bunda. Bunda please.’
            Bunda menarik nafas perlahan, sudah saatnya Merlin tahu yang sebenarnya. Sudah cukup lama Bunda menyimpan rahasia ini rapat – rapat.
‘Merlin, kamu tahu pak Bagiyo khan sayang ? Bapaknya Puri sahabatmu sejak kecil. Dia Ayah mu nak, Bunda minta cerai dari Ayahmu waktu kamu berumur 5 tahun dulu. Karena ternyata Ayahmu berselingkuh sejak kamu di dalam kandungan Bunda. Bunda nggak mau cerita sama kamu selama ini, karena Bunda nggak mau kamu benci Puri bahkan Ayahmu sendiri. Maafkan Bunda sayang..’
            Bunda dan Merlin sama – sama menangis. Merlin merasa bersalah telah membentak Bunda. Bunda hanya ingin yang terbaik untuknya, Ayah yang selama ini dia nanti adalah Ayah sahabatnya sendiri. Merlin berlari ke arah lemari es dan membuang semua coklat di dalamnya.
            Hujan lebat pagi itu menjadi saksi bisu betapa hancurnya hati dua anak manusia ini. Perih seperti tersayat sembilu, dan hancur berkeping  -  keping.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar