Cinta tak harus memiliki tak harus
menyakiti
Cintaku tak harus mati
Cinta tak harus bersama tak harus
menyentuhmu
Membiarkanmu dalam bahagia walau
tak di sampingku itu ketulusan cintaku.
Alunan lagu yang di bawakan oleh Vidi
Aldiano mengalir syahdu dari laptop Linda. Malam telah larut, hanya alunan
melodi yang menemani Linda di tengah kesedihannya kini. Kegalauan menyelimuti
hatinya dan seakan mengundang air matanya untuk mengalir. Ternyata tidak
semudah yang ia bayangkan untuk melupakan sosok cinta pertama. Cinta yang tak
pernah dan mungkin tak akan pernah bisa ia miliki.
Ponsel Linda bergetar menandakan ada
sms masuk, dia membuka perlahan.
Sayank, sudah tidur belum ?
Malam ne kekasih mu ini tak bisa
tidur, karena memikirkanmu.
Sedang apa kau di sana kasih ?
Linda kembali meletakkan ponselnya tanpa berfikir
untuk membalasnya. Tak mudah baginya untuk berpura-pura bahagia pada kekasihnya
walau hanya lewat pesan singkat. Dan tak mungkin juga dia berterus terang pada
kekasihnya tentang apa yang dia rasakan sekarang. Walau di awal menjalin
hubungan ini mereka telah berjanji untuk saling berterus terang.
Sakit rasanya saat cinta yang sudah
lama ingin di bunuhnya kembali tumbuh dan bersemi dalam hati Linda. Cinta
pertama yang ia rasakan sejak 5 tahun lalu kini kembali bersemi saat Linda
menatap matanya. Mata yang indah di balik sebuah kacamata, mata yang selalu
membuatnya merasa tenang dan bahagia.
∞∞∞
Pagi ini Linda terbangun oleh alarm yang dia setting
di ponselnya. Jam dinding di kamar Linda menunjukkan pukul 03.30, Linda duduk
di pinggir ranjangnya. Mencoba menyadarkan dirinya yang sudah terlanjur
terjebak dalam alam mimpi yang menjanjikan. Hari ini Linda akan berjuang
membalaskan dendamnya, lebih tepatnya ambisinya.
Betapa puas hati Linda saat ia bisa
mengalahkannya dalam suatu kompetisi matematika, sebuah pelajaran yang dulu
amat di bencinya. Sama seperti cinta pertamanya yang kini kembali ia cintai
walau dulu ia amat membencinya. Ade namanya, cowok tinggi berkacamata. Setiap
berjumpa dengannya Linda hanya bisa mengalihkan pandangan demi keegoisannya
sendiri.
Ade adalah cowok yang nyaris perfect.
Banyak wanita yang sudah terjebak dan mencintainya. Namun, sampai saat ini tak
satupun wanita yang telah ia pilih untuk menjadi kekasihnya. Linda adalah satu
dari sekian banyak wanita yang terjebak mencintai Ade. Walau Linda tahu bahwa
memiliki Ade adalah suatu hal yang mustahil.
‘Tapi
lu belum bilang ke Ade khan, Lin ?’ Dila merespons cerita Linda saat mereka
berada dalam bus yang dingin itu. Linda hanya menggeleng.
Kini Linda dan Ade bersama dalam satu
bus. Rombongan untuk pergi berjuang ke luar kota. Lomba ini yang saat ia
tunggu, karena di sini ia akan membuktikan kemampuannya, walau harus menjadikan
Ade sebagai rivalnya.
‘Impossible
banget dia juga punya rasa yang sama kaya gua. Lagipula gua sudah ada yang
punya.’ Linda mencoba menyalahkan perasaannya.
‘Gua
yakin semua cowok yang lu pacarin selama ini Cuma pelampiasannya Ade khan ?’
‘Nggak
koq, ah.. mungkin ne cinta sesaat gua ke Ade.’
‘Cinta
sesaat sampe 5 tahun lamanya ? gila lu !’
‘Arrrghhh..
whatever gua gak tahu ’
∞∞∞
‘Badak
bercula satu.. ’ Ade berjalan di
samping Linda. Mungkin dia sengaja ingin menyapa Linda terlebih dahulu. Namun,
Linda hanya menghindar dan semakin Linda menghindar semakin keras dia mengejek
Linda. Linda hanya tak ingin memulai lagi semuanya, cukuplah bagi Linda untuk
mencintai kekasihnya tak ada yang lain. Namun sayang tak bisa.
Hari ini Linda berharap bisa menjadi
yang terbaik. Matematika adalah cara melupakannya karena dengan matematika dia
bisa menjadikan Ade lawannya dan akan membuatnya membenci Ade. Saat penentuan
siapa saja yang akan masuk final di dalam lomba itu Linda berharap akan mejadi
finalist walau berada di peringkat terakhir.
Ade tetap menjadi jawara dan Linda
hanya berada di peringkat 9 dari 10 finalist.
Linda mulai tidak percaya diri, apa lagi hanya akan diambil 5 orang
finalist yang memiliki nilai tertinggi yang akan menjadi juara. Pada babak yang
terakhir ini Linda harus menjawab soal dan mempresentasikannya di depan dewan
juri.
Linda masih harus menunggu giliran
untuk di panggil. Dan saat mengerjakan soal yang hanya diberi waktu 10 menit
itu fikiran Linda melayang pada kekasihnya yang ada di luar kota. Betapa ia
merasa bersalah pada kekasihnya itu, saat kekasihnya terus mendoakannya dari
rumah. Di sini dia malah mencintai pria lain. Maafkan aku sayank. Pekik Linda dalam hati.
Saat memasuki ruang presentasi Ade
berteriak pada Linda ‘Semangat ya badak’.
Linda tersenyum dan menjawab ‘thanks mata
kuda’ walau itu hanya perlahan, dukungan dari Ade membuat Linda semangat
saat masuk ruang presentasi. Walau sebenarnya Linda tak tahu apa yang akan ia
presentasikan, karena selama waktu pengerjaan soal tadi ia hanya melamun saja.
∞∞∞
Juara
pertama jatuh kepada Ade Mahendra Prasetya.
Air mata Linda menetes perlahan, aku
memang tak kan pernah bisa memilikimu dan mengalahkanmu De. Penyesalan
menghantui pikiran Linda, dalam bus yang sebenarnya ramai itu dia menangis di
balik kerudungnya. Menangis karena kekalahannya dan menangis karena menghianati
kekasihnya.
‘Au..
Sapa yang ngejitak gua ?’ Linda terbangun dari tangisannya.
‘Nggak
tau. ’ Dila hanya menggeleng.
‘Elu
ndre ?’ Linda menuduh Andre
pelakunya karena yang berada di belakang kursinya adalah Andre.
‘Ngapain
gua ngejitak lu ?’ Andre mengelak
Linda berdiri dari kursinya dalam bus
itu. Dan melihat Ade sedang duduk jongkok untuk bersembunyi dari Linda.
Akhirnya setelah saat itu suasana canggung antara Linda dan Ade mulai mencair.
Hingga teman teman mereka bersorak. ‘Awas
CLBK lho.. ’
Setelah itu mereka berdua kembali
diam, dan berada dalam dunia masing – masing. Sampai setelah tiba di kota asal
mereka, mereka tetap tak saling tegur sapa lagi.
Hingga
saat ini, Linda merasa semakin galau. Malam mulai memudar mentari mulai
bersinar. Malam itu Linda tak bisa tidur, sepanjang malam ia hanya menangis
hingga matanya persis seperti panda.
∞∞∞
‘Apa
maksud semua ini ? ’ Yudi mulai marah.
‘Jangan
marah dulu sayank. Gua …’ Linda mencoba menjelaskan semua yang terjadi
antara dia dan Ade.
‘Nggak
usah di jelaskan, Gua nggak nyangka lu bakal ngelakuin hal yang kaya gini.
Sekarang lu pilih dia ato gua ? ’ Yudi sedikit emosi.
‘Gua
milih lu, gua sayank sama lu.’ Linda
tertunduk sedih.
‘Gua
anggep itu sebuah janji. Dengerin gua, gua juga sayank ama lu. Gua mohon jangan
buat kecewa karena apa yang lu lakuin. Gua bakal lakuin apa yang lu mau, bahkan
gua rela mati demi lu.’ Yudi menyilangkan jari telunjuk kanannya di depan
dada.
Linda hanya tahu Yudi menyayanginya
dan menunjukan rasa sayangnya itu. Namun, Linda tak pernah tahu seperti apa
perasaan Ade padanya. Linda mencintai keduanya. Apa yang sebenarnya ada di hati
Linda, hanya Linda juga tak tahu. Sejak saat itu Linda kembali menghindari Ade,
dan mencoba menjauhi Ade. Dan Linda juga mengurangi jumlah pertemuannya dengan
Yudi. Entah apa yang akan terjadi diantara mereka bertiga. Hanya waktu yang
akan menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar