Minggu, 10 Juni 2012

Seyum Ketulusan (Cerpen II)


Panas, panas banget. Tinggal di Indonesia yang punya iklim tropis buat musim hujan tahun ini tetap saja terasa panas. Apa ini akibat globalisasi juga ? entahlah. Yang pasti suhu udara di stasiun ini sepanas hati Dini. Cemburu telah menguras seluruh amarah serta air matanya. 5 menit lagi kereta yang akan di tumpangi Dini akan datang dan akan membawanya ke Surabaya.
                Dini bukan termasuk orang yang mabuk darat. Tapi dia merasa lebih nyaman naik kereta api daripada naik bis. Lagipula dia sudah pesan tiket kereta api ini sejak sebulan lalu. Maklum musim mudik lebaran seperti ini tiket kereta api harus di pesan, Dini memang sengaja memilih kelas bisnis yang tak terlalu rame juga tak sepi banget.
                Akhirnya, kereta yang akan di tumpangi Dini pun datang . Dini naik dan mencari tempat duduknya. ‘Semoga aku tak berlama-lama  ada di sini. Ku ingin segera bertemu kamu.’ Senyum Dini mengembang seiring bunyi sirine keberangkatan kereta api siang itu.
                Madura, pulau kecil bagian dari provinsi Jawa Timur yang kini menjadi tujuannya. Sebenarnya dia malas kembali ke pulau kecil itu. Namun acara Reuni SMP nya yang membuatnya harus kembali ke tempat dia menghabiskan masa kecilnya itu dan masa-masa cinta monyetnya dulu. Namun dia senang karena dia akan menepati janjinya pada pria yang pernah dan hingga kini masih di cintainya.
                Sudah 5 tahun dia meninggalkan Madura dan dia tak pernah tau dan tak ingin tau sama sekali kabar pulau itu lagi. Cinta tak di restui yang pernah terjalin antara dia dan seorang pria asli Madura.  Seperti apakah dia kini ? sudah menikah atau masih setia menunggu nya seperti apa yang pernah dia katakana pada Dini. Entahlah , sejujurnya dia tak lagi banyak beharap pada pria itu karna mungkin diapun telah melupakan Dini.
                Tapi bagi Dini, 5 tahun tetap tak merubah perasaannya pada pria itu, tidak sama sekali.  Walau hanya setahun beberapa bulan dengan dia namun Dini masih saja tak bisa menolak untuk mengakui bahwa Dini masih mencintai dia. Walau sebenarnya, orang tua Dini telah memilihkan seorang pria yang mapan untuk menjadi calon suaminya kelak
                Achmad Rofiqi, itu namanya. Pria yang selalu terbayang dalam pikiran Dini sepanjang perjalanan ini. Perjalanan dari Malang ke Surabaya ini terasa sangat lama dan melelahkan.  Ingin rasanya dia bisa terbang seperti khayalan-khayalan masa kecilnya dulu . dan ingin rasanya dia peluk lagi pria itu seperti dulu.
                Seperti apakah dia kini ? apa dia masih menginggat ku ? Wahai pujaan hatiku aku akan datang menepati  janji yang pernah aku ucapkan dulu. Aku akan mengunjungi rumahmu yang hanya pernah ku lihat dari foto-foto di flashdisk mu.dan kini aku telah berkerja sesuai  janji ku dulu. Ingin ku tenggo’ adek mu yang lucu itu. Seperti apakah dia kini ? yang hanya pernah aku lihat dari jarak jauh dulu.
                Deru mesin kereta api membahana di telinga Dini,namun dia tetap tertidur pulas tanpa perdulikan apapun. Dalam tidur nya dia mulai masuk dalam alam mimpi yang sangat indah dan menyenang kan .
اااا
Kini Hujan mulai turun deras mengalir menyiram bumi . Awan tebal masih menyelimuti langit. Segelap perasaan yang ada pada hati Dini saat Ini . Ada suatu perasaan yang tak wajar dalam benaknya kini. Entah apakah itu akan berlanjut atau hanya ketakutan Dini saja.
                10 menit lagi kereta yang Dini sampai di tempat tujuan. Ponsel yang sedari tadi tak di hiraukannya mulai meraung tak karuan. Lagu ‘Leaving  on A Jet Plane’ yang menjadi ringtone nya , walau lagu lawas namun Dini sangat menyukainya. Itu lagu yang dia nyanyikan saat hari-hari terakhir perpisahannya dengan kekasih hatinya dulu.
                BAD MOOD . nama itu muncul dari layar ponsel Dini. Dengan enggan dia menggangkat telepon dari orang yang sama sekali tak ia suka. ‘Halo, Assalamualaikum’ ‘Waalaikum salam, Dini, kamu ada di mana sekarang sayang ? kata Ayah kamu mau ke Madura. Ngapain sih sayang kamu kesana ?’ Laki-lakiitu terus menghujani Dini dengan berjuta pertanyaan. ‘Stop, bisa nggak nanyanya satu persatu saja ? pusing tau’denger ocehanmu .’ Ujar Dini ketus.
                ‘Maaf, aku hanya khawatir’ Pria itu akhirnya mengalah. ‘Aku ada reuni,aku nggak apa-apa mungkin seminggu setelah lebaran aku akan kembali ke Madiun. Jangan khawatirkan aku, aku sudah prepare semua , dan sebenarnya aku sudah mengirim pesan lewat sekertarismu yang genit itu. Sudah ya, Mau turun ne. Wassalamualaikum’ Tit … Telepon di putus.
                Setelah memutus telepon itu Dini memeriksa semua pesan dan misscall. 53 pesan dari BAD MOOD, 34 misscall , 12 Pesan Suara dan seterusnya . tanpa di baca Dini langsung memilih untuk men-delete nya. Heran, segitu khawatirnya dia . Andai bukan karena urusan kantor dan kampus Dini sudah membuang ponselnya itu , dia lelah dengan pria itu.
                Roby Prasetyo .Manager Bidang Teknisi  Umum Perusahaan Negeri, usianya masih 25 tahun , punya penghasilan tetap, Tampan dan rajin beribadah  dan…… sudah jangan di lanjutkan,, .. Dia nyaris perfect. Yang pasti the most wanted man oleh ibu-ibu untuk di jadikan calon suami bagi putri-putrinya. Tapi dengan segala kelebihan itu , Dini sama sekali tidak tertarik. Karena bagi Dini dia orang yang penuh dengan kekurangan. Kekurangannya adalah dia terlalu banyak kelebihan.
                Pacar bukan , Tunangan bukan . Tapi sejak 2 tahun ini dia gencar PDKT sama Dini , tepatnya Keluarga Dini.  Dari orang tua, kakek nenek, om, tante , adek, sepupu, keponakan , dan seterusnya karena hanya kepada mereka dia berhasil mendapat kan hati, dan tidak sepeserpun mendapatkan hati Dini. Karena bagi Dini hanya Kak Fiqi lah yang ia cintai, Titik.
                Sopir mobil sewaan sudah menanti Dini di ruang tunggu. Mobil itu nanti yang akan dia gunakan untuk mengelilingi Madura Island.  I hope I can enjoy this holiday. Dini masuk dalam mobil tanpa basa-basi , semua koper dan tas sudah ada di bagasi. Kini Dini merebahkaan tubuhnya dalam jok depan mobil itu, berharap bisa tidur lagi hingga sampai di Pulau Garam.
                Hujan kini mulai mereda, tampak seberkas cahaya menyajikan indahnya pelangi. Seindah apapun pelangi itu, tak seindah mentari di malam hari saat bersamamu.
اااا
Bila kamu tak lagi dengan ku, tak tau apa ku jalani hidupku.
Dasar Gombal.  Sepanjang perjalanan menuju pulau itu Dini tak bisa tidur. Pesan dari Roby yang baru saja di bacanya membuat dia terus mengomel sepanjang perjalanan. Tanpa dia sadari semakin dia membenci Roby semakin ada suatu perasaan yang berbeda yang tumbuh di hatinya.
‘Pak, mampir ke minimarket dulu ya , saya mau beli sesuatu.’ Pinta Dini pada supir yang belakangan di ketahui bernama Rokhim. ‘Iya, mbak.’ Pak Rokhim orang asli Madura umurnya sekitar 40 tahunan. Sudah berkeluarga dan mempunyai 3 orang anak.
Setelah masuk minimarket Dini binggung mau beli apa. Akhirnya dia putuskan untuk membeli beberapa bungkus roti karena dia lapar, air mineral dan minuman dingin untuk pak Rokhim. Semua telah masuk ke dalam keranjang. Dini hendak membayar semua, namun kemudian dia tertarik pada sesuatu. COKLAT. Dengan ragu dia mengambil beberapa bungkus coklat dan membayar semuanya di kasir.
Kalau dulu sama kamu aku ndak boleh makan coklat, tapi kenapa aku sekarang pengen banget makan coklat ? kamu sampai pernah marah sampai seminggu gara-gara aku makan secuil coklat. ‘Kamu ndak boleh makan coklat ,meskipun Cuma secuil. Ngerti. Kalau kamu ngelanggar kamu akan tau  akibatnya !’kata-kata itu  masih aku inget, dan aku simpen sebagai perintah yang tegas.
Kalau sama dia aku di suruh makan coklat sebanyak-banyaknya.Katanya coklat mengandung zat yang dapat merangsang seseorang menjadi bahagia, karena coklat dapat merubah mood seseorang menjadi lebih baik. Apalagi kalau aku lagi menstruasi kaya’ sekarang, pasti dia belikan aku satu pack coklat batangan. Meskipun aku ndak pernah nyentuh dan makan secuilpun dari coklat-coklat yang dia kasih. ‘Coklat ini manis, semanis senyummu. Aku pengen lihat kamu senyum meskipun Cuma sedetik.’Rayunya,aku berbeda, aku bukan cewek biasanya yang langsung melting saat dia bilang gitu. Ndak mempan ntuh ke aku.
Dini makin galau, dia kembali masuk ke dalam jok mobil dan menghabiskan semua coklat yang Dini beli. Saat melewati minimarket lain Dini kembali meminta Pak Rokhim untuk berhenti dan dia akan membeli coklat sebanyak yang dia bisa. Benci tapi Rindu.
Terserah apa pendapatmu tentang aku nantinya, tapi selama kita berpisah aku telah berusaha menjadi apa yang kamu mau meskipun kamu tak mengetahuinya. Aku mau berubah karena kamu, karena aku cinta kamu dari dulu, kini dan selamanya.
‘Mbak, jadi hari ini mau nginep di hotel Ramayana?’ Tanya Pak Rokhim memulai pembicaraan dan membuyarkan lamunan Dini. ‘Iya Pak. Karena mengunjungi Madura saya Cuma mau hadir di acara reuni 2 hari lagi. Mumpung di Madura, saya  ndak ngelarang Bapak pulang kerumah kumpul sama keluarga, apalagi sebentar lagi Lebaran’ Dini tersenyum simpul. ‘Ndak enak lah mbak, saya sudah di bayar kok mau pulang pergi seenaknya sendiri.’ Dini mulai berpikir , Kalau sampai 2 hari kedepan aku berdiam diri di kamar hotel pasti boring banget. ‘Gini saja pak, saya ikut bapak ke kampong bapak. Itupun kalau bapak ndak keberatan.’ ‘Kalau saya sih ndak apa-apa mbak, tapi rumah saya jelek lho..’ ‘Ndak apa-apa pak, nanti kalau sudah sampai hotel saya tolong di bangunkan ya pak, saya kenyang banget kebanyakan makan coklat  jadi ngantuk nih.. huamb ’ Pak Rokhim hanya membalas dengan senyuman.
Ternyata betul kata dia kini aku bisa terseyum . Dini pun pergi ke alam mimpi yang indah bersama dengan ke galauan yang menerpa hatinya.
اااا
‘Mbak, yakin mau ikut ke rumah saya ?’ Pak Rokhim meyakinkan. ‘Iya donk pak, Lihat ne saya sudah siap.’ Dini makin cantik dengan baju santainya, tapi tetap manis dengan kerudung yang masih menutupi kepalanya. ‘Ndak takut capek tah mbak ?’ Hanya gelengan yang di terima Pak Rokhim sebagai jawaban. Akhirnya merekapun berangkat ke kampong Pak Rokhim.
Ternyata rumah Pak Rokhim ada di pelosok desa. Meskipun begitu rumahnya terlihat berbeda dari rumah –rumah yang lain, terkesan lebih mewah dan megah. Bohong banget kalau Pak Rokhim bilang rumahnya jelek. Sepanjang perjalanan Dini melihat hamparan sawah dan melewati beberapa perbukitan dan perkebunan semuanya mengingatkannya pada Kak Fiqi. Walaupun semua yang dia lihat hanya kegelapan ,tapi aku dapat melihat itu seperti nyata. Seperti aku dan kamu ada di sana mengukir senyum di wajah kita.
‘Pak di sini ada sungai yang masih alami ndak, saya pengen main air.’ Pinta Dini pada Pak Rokhim setelah mereka sampai di depan rumah pak Rokhim. ‘Ada mbak, perkenalkan mbak, ini istri dan anak-anak saya. Malam ini mbak menginap saja di rumah saya.’ Ujar pak Rokhim sambil memperkenalkan keluarganya. Dini menyalami mereka satu persatu mereka sangat bahagia menerima Dini sebagai tamu, dan menganggap Dini seperti keluarganya sendiri.
Sebelum Dini menuju rumah Pak Rokhim tadi , dia membeli beberapa pack coklat batangan, dan kini dia santap sampai habis bersama anak-anak pak Rokhim. Betul juga kata Roby, aku bisa selalu tersenyum saat makan coklat. Dini menggelengkan kepala, dia bingung mengapa kini dia mulai memikirkan Roby.
Posel Dini berbunyi nyaring, Dini mengangangkat telepon. ‘Aku besok akan ke Madura menyusulmu, beri tau aku dimana kamu menginap.’ Suara itu kini tampak berbeda ada sesuatu yang berubah. ‘Halo ? Din?’ Dini terkejut, ternyata dia melamun dan kini dia merindukannya,Tapi Dini tak ingin dia tahu. ‘Terserah, aku nginep di hotel Ramayana.’ Tit .. Dini langsung mematikan hubungan komunikasi itu, dia tak ingin suaranya yang gugup terdengar oleh Roby.
Malam itu Dini sama sekali tak dapat memejamkan mata. Dingin hujan mengguyur rumah itu, tapi Dini tetap diam terpaku menatap rintikan hujan yang semakin lama semakin deras. Sepasang tangan memegang kedua bahunya, dan memberi dia kehangatan dengan selimut dan pelukan. Dini ingin marah tapi pelukan itu terasa menenangkan dan membuatnya tak ingin lepas.
Dini berbalik, Dia mengira bu Rokhim yang memeluknya , tapi ternyata dugaannya salah besar. Sesosok pria dengan rambut tipis di janggutlah yang memeluknya. Dini kaget bukan main , dia pun berdiri terpaku. Matanya kini bekaca-kaca dia ingin membalas pelukan itu, tapi dia sadar bahwa itu sungguh tak pantas. Bukan Pak Rokhim bukan pula anak-anaknya, tapi Kak Fiqi. Seseorang yang sangat amat ingin dia temui.
اااا
            Kini Dini merasakan suatu perasaan yang makin aneh. Tanpa di sangka Roby menyusulnya hingga rumah Pak Rokhim. Dan  kini mereka bertiga, Dini, Roby dan kak Fiqi duduk saling berhadapan satu sama lain. Dini semakin gugup saat Roby dan Fiqi saling bercerita. Dini hanya diam dan tak berani mengucapkan sepatah kata apapun. Dan kini Dini harus menerima keadaan yang membuatnya makin menyerah dan kecewa.
                ‘Aku cinta kalian berdua’ Kata Dini akhirnya. ‘tapi aku tak bisa memilih yang mana yang akan menjadi kekasihku. Kak Fiqi, aku cinta kakak sejak dulu hingga kini mungkin sampai nanti. Tapi aku merasa lelah menunggu kakak, kakak tak pernah mencari ku. Aku kesini untuk meminta kepastian dari kakak’ Dini tak dapat lagi menahan air mata, bibirnya terus saja berucap semua kata-kata yang selama ini dia pendam sendiri.
 ‘Tapi aku juga suka sama kamu mas, aku selama ini kasar sama kamu karena aku tak mau mencintai dua orang dalam satu hati. Aku memang tak pantas kalian cintai ’ Kedua laki-laki di hadapannya yang sedari tadi mendengarkannya terkejut dan terharu. Kini mereka tau apa yang Dini rasakan, semua perasaan Dini yang dia pendam telah terungkapkan. Dan dia ingin semua mennjadi lebih baik.
                ‘Aku sudah beristri dan kini dia hamil tua.’  Ucap kak Fiqi singkat. Dunia ini begitu kejam, Dini merasa dunia kini ingin membunuhnya.Kekecewaannya pada pria yang selama ini dia harapkan tak dapat di bendung, Dini menangis.  ‘Tapi kenapa kakak tadi malam …’ Dini tak meneruskan kata-katanya. ‘Semua itu karena Pak Rokhim bercerita kalau kamu cari aku, aku harap dengan apa yang aku lakukan semalam dapat memuaskan rasa rindumu padaku.Terimakasih kamu masih setia mencintaiku dan aku harap mulai sekarang kamu harus mencoba mencintai orang lain’
                Ucapan kak Fiqi menusuk hatinya, kepalanya mulai sakit namun dia tahan. ‘Din, kamu ndak kenapa-kenapa ?’ Roby mendekatinya dan memeluknya mengusap kepala Dini dengan tangannya dengan lembut. Damai terasa dalam benak Dini. ‘Aku bangga sama kamu Din, tapi aku pengin jujur sama kamu sekarang.’ Roby mengusap air mata yang mengalir di pipi Dini. ‘Dengarkan aku, bukan kamu yang tak pantas kami cintai. Tapi kamilah yang tak pantas kamu cintai’ Dini mendonggak tanda heran.
                ‘Kenapa mas bilang gitu ?’ kini Dini tak sekasar biasanya pada Roby. ‘Aku ini kakak mu, aku anak dari ayah mu. Ayah mu itu ayahku tapi hanya saja aku tak pernah beliau akui sebagai anak.’ Tangis Dini makin kencang, Ya Allah keujujuran apa lagi yang harus aku terima. ‘Aku mendekatimu karena aku ingin membalas dendam, ayah ndak tau kalau aku anaknya karena dia tak pernah bertemu aku sebelum aku mendekatimu. Kemarin aku mengakui semua nya di keluarga besarmu.Maafkan aku Din. Aku menyesal’
                Dini tak berkata apa-apa wajahnya semakin pucat. ‘Sekarang Din akuilah apa yang tela terjadi padamu.’ Roby mendesak. Dini sudah merasa sejak dari telepon tadi malam sikap Roby sudah berubah, dia yakin Roby telah mengetahui semua. Semua yang telah dia pendam sendiri selama ini.
                ‘Aku sakit’ Jawab Dini singkat. ‘Sakit apa ? kenapa kamu kesini kalau kamu sakit ?’ Kak Fiqi mulai khawatir. Dengan perlahan dan di ikuti tangis tertahan Dini menjawab,  ‘Aku kangen kakak, aku ingin kepastian dari kakak. Akupun ingin pamit sama temen-temen SMP ku , temen-temen yang memberi aku pelajaran tentang arti kehidupan dan kesendirian….. Aku sayang kak Fiqi ama mas Roby , terimakasih buat se..semua..’ Darah mengalir deras dari hidung Dini, wajahnya semakin putih karena pucat. Setelah itu semua gelap dan kini Dini benar benar kesepian, Dua wajah mengantarnya dengan senyum tangis.
 Kini awan mulai cerah, terasa sejuk dan Dini percaya hujan tak akan terasa panas lagi baginya karena kini telah terungkap semua apa yang selama ini terpendam dalam hati 3 orang anak manusia itu. Dan Dini pergi dengan senyum dan cintanya pada kedua pria itu.
To : all that I ever love
By : Andini Puspita Yuniar
Terimakasih buat kak Fiqi sebagai motivatorku sehingga aku bisa dapet kerja dan bahagiain kedua orang tuaku. Aku telah buktikan aku bukanlah gadis manja seperti dulu. Dan aku telah mematahkan kata-katamu kalau aku hanya seorang pelacur yang menjual diri demi harta. Kini aku menjual usaha ku demi melihat senyum bahagia orang-orang di sekitarku.Terimakasih atas cinta yang pernah kau ukir dalam hatiku. J
Terima kasih buat mas Roby, yang selalu memberi perhatian padaku dan membuatku tersenyum di saat terakhir kehidupanku. Kini aku mencintaimu dan coklat. Mencintai dua hal yang aku benci. Terimakasih kau telah mengajariku menjadi mandiri terimakasih kau telah mencintaiku walau aku tak tau apa itu tulus bagiku. Terima kasih buat 2 tahun yang menyebalkan dalam hidupku. J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar