Panas, panas banget. Tinggal di
Indonesia yang punya iklim tropis buat musim hujan tahun ini tetap saja terasa
panas. Apa ini akibat globalisasi juga ? entahlah. Yang pasti suhu udara di
stasiun ini sepanas hati Dini. Cemburu telah menguras seluruh amarah serta air
matanya. 5 menit lagi kereta yang akan di tumpangi Dini akan datang dan akan
membawanya ke Surabaya.
Dini
bukan termasuk orang yang mabuk darat. Tapi dia merasa lebih nyaman naik kereta
api daripada naik bis. Lagipula dia sudah pesan tiket kereta api ini sejak
sebulan lalu. Maklum musim mudik lebaran seperti ini tiket kereta api harus di
pesan, Dini memang sengaja memilih kelas bisnis yang tak terlalu rame juga tak
sepi banget.
Akhirnya,
kereta yang akan di tumpangi Dini pun datang . Dini naik dan mencari tempat
duduknya. ‘Semoga aku tak
berlama-lama ada di sini. Ku ingin
segera bertemu kamu.’ Senyum Dini mengembang seiring bunyi sirine
keberangkatan kereta api siang itu.
Madura,
pulau kecil bagian dari provinsi Jawa Timur yang kini menjadi tujuannya.
Sebenarnya dia malas kembali ke pulau kecil itu. Namun acara Reuni SMP nya yang
membuatnya harus kembali ke tempat dia menghabiskan masa kecilnya itu dan
masa-masa cinta monyetnya dulu. Namun dia senang karena dia akan menepati
janjinya pada pria yang pernah dan hingga kini masih di cintainya.
Sudah 5
tahun dia meninggalkan Madura dan dia tak pernah tau dan tak ingin tau sama
sekali kabar pulau itu lagi. Cinta tak di restui yang pernah terjalin antara
dia dan seorang pria asli Madura.
Seperti apakah dia kini ? sudah menikah atau masih setia menunggu nya
seperti apa yang pernah dia katakana pada Dini. Entahlah , sejujurnya dia tak
lagi banyak beharap pada pria itu karna mungkin diapun telah melupakan Dini.
Tapi
bagi Dini, 5 tahun tetap tak merubah perasaannya pada pria itu, tidak sama
sekali. Walau hanya setahun beberapa
bulan dengan dia namun Dini masih saja tak bisa menolak untuk mengakui bahwa
Dini masih mencintai dia. Walau sebenarnya, orang tua Dini telah memilihkan
seorang pria yang mapan untuk menjadi calon suaminya kelak
Achmad
Rofiqi, itu namanya. Pria yang selalu terbayang dalam pikiran Dini sepanjang
perjalanan ini. Perjalanan dari Malang ke Surabaya ini terasa sangat lama dan
melelahkan. Ingin rasanya dia bisa
terbang seperti khayalan-khayalan masa kecilnya dulu . dan ingin rasanya dia
peluk lagi pria itu seperti dulu.
Seperti apakah dia kini ? apa dia masih
menginggat ku ? Wahai pujaan hatiku aku akan datang menepati janji yang pernah aku ucapkan dulu. Aku akan
mengunjungi rumahmu yang hanya pernah ku lihat dari foto-foto di flashdisk
mu.dan kini aku telah berkerja sesuai
janji ku dulu. Ingin ku tenggo’ adek mu yang lucu itu. Seperti apakah
dia kini ? yang hanya pernah aku lihat dari jarak jauh dulu.
Deru
mesin kereta api membahana di telinga Dini,namun dia tetap tertidur pulas tanpa
perdulikan apapun. Dalam tidur nya dia mulai masuk dalam alam mimpi yang sangat
indah dan menyenang kan .
∞اا∞اا∞
Kini Hujan mulai turun deras
mengalir menyiram bumi . Awan tebal masih menyelimuti langit. Segelap perasaan
yang ada pada hati Dini saat Ini . Ada suatu perasaan yang tak wajar dalam
benaknya kini. Entah apakah itu akan berlanjut atau hanya ketakutan Dini saja.
10
menit lagi kereta yang Dini sampai di tempat tujuan. Ponsel yang sedari tadi
tak di hiraukannya mulai meraung tak karuan. Lagu ‘Leaving on A Jet Plane’ yang menjadi ringtone nya ,
walau lagu lawas namun Dini sangat menyukainya. Itu lagu yang dia nyanyikan
saat hari-hari terakhir perpisahannya dengan kekasih hatinya dulu.
BAD
MOOD . nama itu muncul dari layar ponsel Dini. Dengan enggan dia menggangkat
telepon dari orang yang sama sekali tak ia suka. ‘Halo, Assalamualaikum’
‘Waalaikum salam, Dini, kamu ada di mana sekarang sayang ? kata Ayah kamu mau
ke Madura. Ngapain sih sayang kamu kesana ?’ Laki-lakiitu terus menghujani Dini
dengan berjuta pertanyaan. ‘Stop, bisa nggak nanyanya satu persatu saja ?
pusing tau’denger ocehanmu .’ Ujar Dini ketus.
‘Maaf,
aku hanya khawatir’ Pria itu akhirnya mengalah. ‘Aku ada reuni,aku nggak
apa-apa mungkin seminggu setelah lebaran aku akan kembali ke Madiun. Jangan
khawatirkan aku, aku sudah prepare semua , dan sebenarnya aku sudah mengirim
pesan lewat sekertarismu yang genit itu. Sudah ya, Mau turun ne. Wassalamualaikum’
Tit … Telepon di putus.
Setelah
memutus telepon itu Dini memeriksa semua pesan dan misscall. 53 pesan dari BAD
MOOD, 34 misscall , 12 Pesan Suara dan seterusnya . tanpa di baca Dini langsung
memilih untuk men-delete nya. Heran, segitu khawatirnya dia . Andai bukan
karena urusan kantor dan kampus Dini sudah membuang ponselnya itu , dia lelah
dengan pria itu.
Roby
Prasetyo .Manager Bidang Teknisi Umum
Perusahaan Negeri, usianya masih 25 tahun , punya penghasilan tetap, Tampan dan
rajin beribadah dan…… sudah jangan di
lanjutkan,, .. Dia nyaris perfect. Yang pasti the most wanted man oleh ibu-ibu
untuk di jadikan calon suami bagi putri-putrinya. Tapi dengan segala kelebihan
itu , Dini sama sekali tidak tertarik. Karena bagi Dini dia orang yang penuh
dengan kekurangan. Kekurangannya adalah dia terlalu banyak kelebihan.
Pacar
bukan , Tunangan bukan . Tapi sejak 2 tahun ini dia gencar PDKT sama Dini ,
tepatnya Keluarga Dini. Dari orang tua,
kakek nenek, om, tante , adek, sepupu, keponakan , dan seterusnya karena hanya
kepada mereka dia berhasil mendapat kan hati, dan tidak sepeserpun mendapatkan
hati Dini. Karena bagi Dini hanya Kak Fiqi lah yang ia cintai, Titik.
Sopir mobil sewaan sudah menanti
Dini di ruang tunggu. Mobil itu nanti yang akan dia gunakan untuk mengelilingi
Madura Island. I hope I can enjoy this holiday. Dini masuk dalam mobil tanpa basa-basi , semua koper dan tas sudah ada di
bagasi. Kini Dini merebahkaan tubuhnya dalam jok depan mobil itu, berharap bisa
tidur lagi hingga sampai di Pulau Garam.
Hujan
kini mulai mereda, tampak seberkas cahaya menyajikan indahnya pelangi. Seindah apapun pelangi itu, tak seindah
mentari di malam hari saat bersamamu.
∞اا∞اا∞
Bila kamu tak lagi dengan ku, tak tau apa ku
jalani hidupku.
Dasar Gombal. Sepanjang perjalanan menuju pulau itu Dini tak
bisa tidur. Pesan dari Roby yang baru saja di bacanya membuat dia terus
mengomel sepanjang perjalanan. Tanpa dia sadari semakin dia membenci Roby
semakin ada suatu perasaan yang berbeda yang tumbuh di hatinya.
‘Pak, mampir ke minimarket dulu ya , saya mau beli sesuatu.’
Pinta Dini pada supir yang belakangan di ketahui bernama Rokhim. ‘Iya, mbak.’
Pak Rokhim orang asli Madura umurnya sekitar 40 tahunan. Sudah berkeluarga dan
mempunyai 3 orang anak.
Setelah masuk minimarket Dini binggung mau beli apa. Akhirnya dia
putuskan untuk membeli beberapa bungkus roti karena dia lapar, air mineral dan
minuman dingin untuk pak Rokhim. Semua telah masuk ke dalam keranjang. Dini
hendak membayar semua, namun kemudian dia tertarik pada sesuatu. COKLAT. Dengan
ragu dia mengambil beberapa bungkus coklat dan membayar semuanya di kasir.
Kalau dulu sama kamu aku ndak boleh
makan coklat, tapi kenapa aku sekarang pengen banget makan coklat ? kamu sampai
pernah marah sampai seminggu gara-gara aku makan secuil coklat. ‘Kamu ndak
boleh makan coklat ,meskipun Cuma secuil. Ngerti. Kalau kamu ngelanggar kamu
akan tau akibatnya !’kata-kata itu masih aku inget, dan aku simpen sebagai
perintah yang tegas.
Kalau sama dia aku di suruh makan
coklat sebanyak-banyaknya.Katanya coklat mengandung zat yang dapat merangsang
seseorang menjadi bahagia, karena coklat dapat merubah mood seseorang menjadi
lebih baik. Apalagi kalau aku lagi menstruasi kaya’ sekarang, pasti dia belikan
aku satu pack coklat batangan. Meskipun aku ndak pernah nyentuh dan makan
secuilpun dari coklat-coklat yang dia kasih. ‘Coklat ini manis, semanis
senyummu. Aku pengen lihat kamu senyum meskipun Cuma sedetik.’Rayunya,aku
berbeda, aku bukan cewek biasanya yang langsung melting saat dia bilang gitu.
Ndak mempan ntuh ke aku.
Dini makin galau, dia kembali masuk ke dalam jok mobil dan
menghabiskan semua coklat yang Dini beli. Saat melewati minimarket lain Dini
kembali meminta Pak Rokhim untuk berhenti dan dia akan membeli coklat sebanyak
yang dia bisa. Benci tapi Rindu.
Terserah apa pendapatmu tentang aku
nantinya, tapi selama kita berpisah aku telah berusaha menjadi apa yang kamu
mau meskipun kamu tak mengetahuinya. Aku mau berubah karena kamu, karena aku
cinta kamu dari dulu, kini dan selamanya.
‘Mbak, jadi hari ini mau nginep di hotel Ramayana?’ Tanya Pak
Rokhim memulai pembicaraan dan membuyarkan lamunan Dini. ‘Iya Pak. Karena
mengunjungi Madura saya Cuma mau hadir di acara reuni 2 hari lagi. Mumpung di
Madura, saya ndak ngelarang Bapak pulang
kerumah kumpul sama keluarga, apalagi sebentar lagi Lebaran’ Dini tersenyum
simpul. ‘Ndak enak lah mbak, saya sudah di bayar kok mau pulang pergi seenaknya
sendiri.’ Dini mulai berpikir , Kalau
sampai 2 hari kedepan aku berdiam diri di kamar hotel pasti boring banget. ‘Gini
saja pak, saya ikut bapak ke kampong bapak. Itupun kalau bapak ndak keberatan.’
‘Kalau saya sih ndak apa-apa mbak, tapi rumah saya jelek lho..’ ‘Ndak apa-apa
pak, nanti kalau sudah sampai hotel saya tolong di bangunkan ya pak, saya
kenyang banget kebanyakan makan coklat jadi ngantuk nih.. huamb ’ Pak Rokhim hanya
membalas dengan senyuman.
Ternyata betul kata dia kini aku
bisa terseyum . Dini
pun pergi ke alam mimpi yang indah bersama dengan ke galauan yang menerpa
hatinya.
∞اا∞اا∞
‘Mbak, yakin mau ikut ke rumah saya ?’ Pak Rokhim meyakinkan.
‘Iya donk pak, Lihat ne saya sudah siap.’ Dini makin cantik dengan baju
santainya, tapi tetap manis dengan kerudung yang masih menutupi kepalanya.
‘Ndak takut capek tah mbak ?’ Hanya gelengan yang di terima Pak Rokhim sebagai
jawaban. Akhirnya merekapun berangkat ke kampong Pak Rokhim.
Ternyata rumah Pak Rokhim ada di pelosok desa. Meskipun begitu
rumahnya terlihat berbeda dari rumah –rumah yang lain, terkesan lebih mewah dan
megah. Bohong banget kalau Pak Rokhim bilang rumahnya jelek. Sepanjang
perjalanan Dini melihat hamparan sawah dan melewati beberapa perbukitan dan
perkebunan semuanya mengingatkannya pada Kak Fiqi. Walaupun semua yang dia lihat hanya kegelapan ,tapi aku dapat melihat
itu seperti nyata. Seperti aku dan kamu ada di sana mengukir senyum di wajah
kita.
‘Pak di sini ada sungai yang masih alami ndak, saya pengen main
air.’ Pinta Dini pada Pak Rokhim setelah mereka sampai di depan rumah pak
Rokhim. ‘Ada mbak, perkenalkan mbak, ini istri dan anak-anak saya. Malam ini
mbak menginap saja di rumah saya.’ Ujar pak Rokhim sambil memperkenalkan
keluarganya. Dini menyalami mereka satu persatu mereka sangat bahagia menerima
Dini sebagai tamu, dan menganggap Dini seperti keluarganya sendiri.
Sebelum Dini menuju rumah Pak Rokhim tadi , dia membeli beberapa
pack coklat batangan, dan kini dia santap sampai habis bersama anak-anak pak
Rokhim. Betul juga kata Roby, aku bisa
selalu tersenyum saat makan coklat. Dini menggelengkan kepala, dia bingung
mengapa kini dia mulai memikirkan Roby.
Posel Dini berbunyi nyaring, Dini mengangangkat telepon. ‘Aku
besok akan ke Madura menyusulmu, beri tau aku dimana kamu menginap.’ Suara itu
kini tampak berbeda ada sesuatu yang berubah. ‘Halo ? Din?’ Dini terkejut,
ternyata dia melamun dan kini dia merindukannya,Tapi Dini tak ingin dia tahu.
‘Terserah, aku nginep di hotel Ramayana.’ Tit .. Dini langsung mematikan
hubungan komunikasi itu, dia tak ingin suaranya yang gugup terdengar oleh Roby.
Malam itu Dini sama sekali tak dapat memejamkan mata. Dingin
hujan mengguyur rumah itu, tapi Dini tetap diam terpaku menatap rintikan hujan
yang semakin lama semakin deras. Sepasang tangan memegang kedua bahunya, dan
memberi dia kehangatan dengan selimut dan pelukan. Dini ingin marah tapi
pelukan itu terasa menenangkan dan membuatnya tak ingin lepas.
Dini berbalik, Dia mengira bu Rokhim yang memeluknya , tapi
ternyata dugaannya salah besar. Sesosok pria dengan rambut tipis di janggutlah
yang memeluknya. Dini kaget bukan main , dia pun berdiri terpaku. Matanya kini
bekaca-kaca dia ingin membalas pelukan itu, tapi dia sadar bahwa itu sungguh
tak pantas. Bukan Pak Rokhim bukan pula anak-anaknya, tapi Kak Fiqi. Seseorang
yang sangat amat ingin dia temui.
∞اا∞اا∞
Kini Dini merasakan suatu perasaan
yang makin aneh. Tanpa di sangka Roby menyusulnya hingga rumah Pak Rokhim.
Dan kini mereka bertiga, Dini, Roby dan
kak Fiqi duduk saling berhadapan satu sama lain. Dini semakin gugup saat Roby
dan Fiqi saling bercerita. Dini hanya diam dan tak berani mengucapkan sepatah
kata apapun. Dan kini Dini harus menerima keadaan yang membuatnya makin
menyerah dan kecewa.
‘Aku cinta kalian berdua’ Kata
Dini akhirnya. ‘tapi aku tak bisa memilih yang mana yang akan menjadi kekasihku.
Kak Fiqi, aku cinta kakak sejak dulu hingga kini mungkin sampai nanti. Tapi aku
merasa lelah menunggu kakak, kakak tak pernah mencari ku. Aku kesini untuk
meminta kepastian dari kakak’ Dini tak dapat lagi menahan air mata, bibirnya
terus saja berucap semua kata-kata yang selama ini dia pendam sendiri.
‘Tapi aku juga suka sama
kamu mas, aku selama ini kasar sama kamu karena aku tak mau mencintai dua orang
dalam satu hati. Aku memang tak pantas kalian cintai ’ Kedua laki-laki di
hadapannya yang sedari tadi mendengarkannya terkejut dan terharu. Kini mereka
tau apa yang Dini rasakan, semua perasaan Dini yang dia pendam telah
terungkapkan. Dan dia ingin semua mennjadi lebih baik.
‘Aku sudah beristri dan kini dia
hamil tua.’ Ucap kak Fiqi singkat. Dunia
ini begitu kejam, Dini merasa dunia kini ingin membunuhnya.Kekecewaannya pada
pria yang selama ini dia harapkan tak dapat di bendung, Dini menangis. ‘Tapi kenapa kakak tadi malam …’ Dini tak
meneruskan kata-katanya. ‘Semua itu karena Pak Rokhim bercerita kalau kamu cari
aku, aku harap dengan apa yang aku lakukan semalam dapat memuaskan rasa rindumu
padaku.Terimakasih kamu masih setia mencintaiku dan aku harap mulai sekarang
kamu harus mencoba mencintai orang lain’
Ucapan kak Fiqi menusuk hatinya,
kepalanya mulai sakit namun dia tahan. ‘Din, kamu ndak kenapa-kenapa ?’ Roby
mendekatinya dan memeluknya mengusap kepala Dini dengan tangannya dengan
lembut. Damai terasa dalam benak Dini. ‘Aku bangga sama kamu Din, tapi aku
pengin jujur sama kamu sekarang.’ Roby mengusap air mata yang mengalir di pipi
Dini. ‘Dengarkan aku, bukan kamu yang tak pantas kami cintai. Tapi kamilah yang
tak pantas kamu cintai’ Dini mendonggak tanda heran.
‘Kenapa mas bilang gitu ?’ kini
Dini tak sekasar biasanya pada Roby. ‘Aku ini kakak mu, aku anak dari ayah mu.
Ayah mu itu ayahku tapi hanya saja aku tak pernah beliau akui sebagai anak.’
Tangis Dini makin kencang, Ya Allah
keujujuran apa lagi yang harus aku terima. ‘Aku mendekatimu karena aku ingin
membalas dendam, ayah ndak tau kalau aku anaknya karena dia tak pernah bertemu
aku sebelum aku mendekatimu. Kemarin aku mengakui semua nya di keluarga
besarmu.Maafkan aku Din. Aku menyesal’
Dini tak berkata apa-apa
wajahnya semakin pucat. ‘Sekarang Din akuilah apa yang tela terjadi padamu.’
Roby mendesak. Dini sudah merasa sejak dari telepon tadi malam sikap Roby sudah
berubah, dia yakin Roby telah mengetahui semua. Semua yang telah dia pendam
sendiri selama ini.
‘Aku sakit’ Jawab Dini singkat.
‘Sakit apa ? kenapa kamu kesini kalau kamu sakit ?’ Kak Fiqi mulai khawatir.
Dengan perlahan dan di ikuti tangis tertahan Dini menjawab, ‘Aku kangen kakak, aku ingin kepastian dari
kakak. Akupun ingin pamit sama temen-temen SMP ku , temen-temen yang memberi aku
pelajaran tentang arti kehidupan dan kesendirian….. Aku sayang kak Fiqi ama mas
Roby , terimakasih buat se..semua..’ Darah mengalir deras dari hidung Dini,
wajahnya semakin putih karena pucat. Setelah itu semua gelap dan kini Dini
benar benar kesepian, Dua wajah mengantarnya dengan senyum tangis.
Kini awan mulai cerah,
terasa sejuk dan Dini percaya hujan tak akan terasa panas lagi baginya karena
kini telah terungkap semua apa yang selama ini terpendam dalam hati 3 orang
anak manusia itu. Dan Dini pergi dengan senyum dan cintanya pada kedua pria
itu.
To : all that I ever love
By : Andini Puspita Yuniar
Terimakasih buat kak Fiqi sebagai
motivatorku sehingga aku bisa dapet kerja dan bahagiain kedua orang tuaku. Aku
telah buktikan aku bukanlah gadis manja seperti dulu. Dan aku telah mematahkan
kata-katamu kalau aku hanya seorang pelacur yang menjual diri demi harta. Kini
aku menjual usaha ku demi melihat senyum bahagia orang-orang di
sekitarku.Terimakasih atas cinta yang pernah kau ukir dalam hatiku. J
Terima kasih buat mas Roby, yang
selalu memberi perhatian padaku dan membuatku tersenyum di saat terakhir
kehidupanku. Kini aku mencintaimu dan coklat. Mencintai dua hal yang aku benci.
Terimakasih kau telah mengajariku menjadi mandiri terimakasih kau telah
mencintaiku walau aku tak tau apa itu tulus bagiku. Terima kasih buat 2 tahun
yang menyebalkan dalam hidupku. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar