Allahu Akbar Allahu Akbar ….
Suara Adzan Shubuh berkumandang,
masuk kedalam telinga insan yang masih terlelap dalam mimpi yang menjanjikan.
Suara itu menembus dinding kayu rumah tua yang sudah mulai lapuk termakan usia.
Remaja jakung yang tidur beralaskan selembar tikar dalam rumah itu masih enggan
bangun, dia malah semakin menarik sarung yang dia gunakan sebagai selimut untuk
menutupi tubuhnya. Bukannya tidak mendengar seruan untuk semakin mendekatkan
diri pada Tuhan itu, tapi dia ingin tau masihkah Ibunya memberinya perhatian
mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-17.
Bukan apa-apa, seperti kebanyakan
remaja lainnya Awan hanya ingin mendapatkan kado dari kedua orang tuanya.
Seperti teman-temannya, ada yang mendapatkan hadiah sepeda motor merek Ninja,
Handphone model terbaru dengan Operating System yang tercanggih, Jam tangan
mahal, atau sekedar makan malam bersama di restaurant bersama keluarga. Bisakah aku seperti mereka? Itulah yang
selalu ada di dalam benak Awan.
Ah, jangankan kado semewah itu,
hanya sekedar berkumpul bersama pun dia tak bisa dapatkan dari orang-orang yang
bisa dia sebut keluarga. Bukan anak yang cerdas dengan segudang prestasi, bukan
anak dari orang-orang yang berada, tak pula memiliki wajah rupawan. Hanya hidup
sederhana di sebuah desa dari kota yang memiliki julukan Kota Reog. Dengan
kehidupan yang apa adanya tidak pernah membuat Awan menyesali semua yang telah
terjadi. Awan hanya ingin jadi maunusia yang lebih baik dan tidak selalu
dianggap sebelah mata oleh banyak orang.
“Awan ! Sudah Shubuh , sana ke
Masjid. Anak muda kok malas-malasan”
Teriakan Ibu dari rumah belakang memaksa Awan bangun dari tidurnya.
Okelah,
itu kalimat yang pertama Ibu ucapkan, bukan Selamat ulang Tahun atau bilang
kalau Ibu sayang aku gitu. Gerutu Awan di dalam hati.
Awan melangkah agak enggan menuju
tempat wudhu masjid, membasuh wajah dengan air yang lumayan dingin cukup
membuat matanya kembali terjaga. Sayup-sayup terdengar suara Radit dan Sahid
teman Awan membicarakan tentang Mas Aji sudah bukan hal yang spesial lagi bila
di desa Awan ada sedikit saja kejadian pastilah tak sampai hitungan 24 jam
sudah menyebar seantero desa.
“Iyo,
Mas Aji sudah kuliah di kota juga
akhirnya tetep jadi TKI, ya sama seperti Bapak dan Pak De nya. Katanya dia mau berangkat minggu depan.” Suara Sahid yang
berat terdengar cukup keras di pagi yang sunyi itu.
“Padahal itu si Zen temenku
seangkatan dulu di SMP itu sekarang jadi satpam pabrik di Surabaya. Kata Ibukku
kemarin,Ibunya Zen itu cerita kalau sekarang dia sudah bisa kirim uang, malah katanya
disana sudah punya sepeda motor baru. Gak usah jauh-jauh ke Negara orang sudah
ada penghasilan.” Radit menimpali pembicaraan.
“Heh, pagi-pagi kok sudah ngrasani orang
toh. Ayo jamaah dulu itu Pak Maridin sudah mau Iqomah.” Awan memutuskan acara
gossip ala cowok di pelataran masjid bercat hijau muda itu.
∞∞∞
“Jadi gimana wan, cuma kamu pemuda
dari kampung kita yang sampai saat ini bisa jebol gerbang SMA 1 Ponorogo, SMA
terfavorit di kota ini. Mau jadi apa kamu nanti, masak Cuma seperti Mas Aji?”
Pertanyaan dari Radit yang menohok
hati kecil Awan masih terus menjadi beban di pikiran Awan. Benar adanya
pertanyaan itu, sudah susah-susah masuk SMA, mahal pula bayarnya, masak Cuma
mau jadi orang biasa. Berjuta tanda tanya menari di otak Awan. Hingga Awan tak
sadar bahwa Pak Samlan guru Sosiologi sudah masuk kelas.
Ruang kelas yang penuh nuansa biru
mulai tenang, tidak seperti guru lainnya Pak Samlan ini guru yang istimewa.
Beliau tak seperti kebanyakan guru lain yang tidak bisa berbaur dengan siswa
dan kadang terkesan kaku. Di mata anak IPS khususnya anak IPS 3 ini Pak Samlan memiliki wibawa, beliau memandang anak-anak
IPS sebagai anak-anak yang istimewa pula, bukan anak badung, bodoh, susah
diatur seperti anggapan guru-guru lainnya. Anak IPS punya kecerdasan yang
berbeda dari anak IPA yang setiap hari berkutat dengan buku-buku tebal berisi mantra-mantra
ajaib. Mulai dari insisivus, tubulus kontortus distal, senyawa amvoter, dan
sebagainya yang bisa membuat lidah keseleo bila membacanya.
“Eh Wan, kamu kenapa benggong ?
Mikirin hutang yang numpuk ke Bu Pian ya ?” Sontak gelak tawa membahana diseluruh
kelas tapi malah membuat pipi Awan memerah karena ketahuan sedang melamun.
Apalagi tersebut nama Bu Pian, penjaga kantin sekolah yang biasanya di jadikan
tempat membolosoleh anak-anak IPS saat lagi malas mengikuti pelajaran.
“Aku pagi ini baca Koran cah, menurut survey angka perceraian di
Kabupaten Ponorogo itu meningkat lantaran banyaknya masyarakat yang kerja di
luar negeri, menurut kalian piye cah?”
Pak Samlan membuka topik pembicaraan.
“Anu, pak. Gara-gara kangen bojo itu pak, kan jadi TKI gak Cuma
bentar pak” Jawab Bagong sekenannya. Nama aslinya Hario tapi karena tubuhnya
yang gempal lantas kemudian teman-temannya memanggil dia Bagong.
“Kangen bojo piye to Gong? “ Sandra bertanya.
“Kangen anu anu , ih masak gak paham
to ?” Bagong menjawab dengan mimic
wajah yang aneh. Sebagian besar anak lelaki di kelas itu lantas tertawa, oh
bukan seluruh termasuk juga Awan dan Pak Samlan.
“Tuh kan pikirannya kotor” Sandra
mulai cemberut.
“Yang kotor itu pikiranmu San, anu anu
itu kayak sholat berjamaah bersama keluarga, jalan-jalan waktu liburan. Gitu
loh” Bagong menjelaskan.
“ Alibi , tauk ah.” Sandra malu
karena sudah berfikir yang aneh soal pembicaraan Bagong.
“Mungkin gara-gara jarang dapet
perhatian pak, kan cinta yang setia akan terkalahkan dengan cinta yang selalu
ada.” Ujar Zahrana, gadis berjilbab putih yang suka sekali menonton film Korea.
Disaat teman-temannya dan Pak Samlan
mendiskusikan masalah perceraian dan TKI, Awan kembali tenggelam dalam
lamunannnya.
“Wan, ngelamun apa lagi kamu?” Ucap
Vean sambil menyenggol Awan yang tubuhnya lebih kecil darinya.
Aku
anak TKI, Aku gak mau sampai orangtuaku bercerai, aku gak mau nanti aku juga
jadi TKI, Aku kangen Bapakku. Aku pengen
Bapakku berhenti kerja di Negara orang,
tapi aku bisa apa? Namun semua kata itu berganti
“Ah,
aku rapopo” Ujar Awan sambil tersenyum kecut.
∞∞∞
“Aku pengen jadi pengusaha, aku
pengen nanti aku bangun Pusat Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) agar nanti di
kelola Bapakku, Aku pengen punya outlet Nasi Pecel Pincuk Tumpuk dan Sate Ayam
Ponorogo terbesar di Jawa Timur untuk di kelola Ibuku. Aku pengen punya Stasiun
televisi yang besar seperti punya Pak Choirul Tanjung.”
∞∞∞
10
tahun kemudian …
Jalanan kampung ini masih sama
seperti yang dulu masih makadaman
atau hanya dari sususan batu tanpa bentuk , tanpa aspal. Hanya saja dulu Awan
berjalan kaki diatas jalan ini, kini mobil Avanza berwarna Silver metalik
menjadi tumpangannya melewati jalan berbatu ini. Tak ada yang menyangka, Awan
yang serba biasa saja sekarang sudah cukup luar biasa di kampungnya.
“Nak, ini tulisannmu to?” Ibunda Awan memberikan secarik
kertas yang tinta tulisannya mulai menguning. Coretan tentang impiannya 10
tahun lalu yang hampir semuanya menjadi kenyataan.
“Hehe.. Iya buk. Maaf ya buk, belum
bisa terwujud semua.” Ujar Awan sambil meniup-niup kopi hitam dalam cangkir
berwarna putih tulang buatan Ibunya.
“Ini sudah hebat kok le, anak Bapak yang Cuma jadi pengais
rejeki di Negara orang sekarang punya mobil. Bapak sudah gak jadi TKI, sekarang
jadi pemilik PJTKI, Ibuk sudah punya warung Sate di Malang sama Surabaya,
pegawainya dari pemuda sini juga biar gak cepet-cepet ke Malaysia atau Arab
gara-gara kelamaan nganggur. Itu anak
Mbok De sudah kamu batu kuliah semua,
Pak De sudah kamu kasih sawah buat
usaha. Biaya adekmu kuliah nanti juga sudah terjamin.” Jelas Bapak Awan yang 3
tahun setelah Awan masuk ke perguruan tinggi kembali ke Indonesia lantaran
sudah terhitung lanjut usia.
“Maaf ya le, Ibu sama Bapak Cuma ngerepotin kamu. Dulu belum selesai kamu
kuliah Bapak Ibu udah gak bisa biayai, kamu malah kerja jadi kuli tinta.
Sekarang kuli tintanya sukses punya macem-macem usaha. Ibu bangga sama kamu le” Tangan lembut Ibu mengelus pundak
Awan.
“Alhamdulillah ya buk, di syukuri aja.” Awan tersenyum
Tak lama kemudian terdengar suara
sepedah motor dari luar. Sepertinya ada tamu yang datang.
“Assalamualaikum … “ Suara Laila
yang merdu terdengar, gadis manis berseragam putih abu-abu dan berjilbab ini
masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru.
Wajah Laila terlihat senang,
mengetahui Mas satu-satunya pulang ke Rumah. Laila yang memang sepulang sekolah
membawa berita gembira untuk keluarganya semakin tersenyum sumringah.
“Mas
Awan pulang to?” Laila kemudian
mencium tangan kedua orang tua dan Mas nya.
“Iya dek. Kok kelihatan seneng
banget ada apa?” Awan melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Laila.
“Gini mas, esai Laila masuk final
mas. Esai yang Laila masukkan ke UGM Management itu Mas, doain Laila ya mas
semoga bisa menang. Kalau menang nanti Laila gampang kalau mau kuliah di situ.”
Cerita Laila penuh semangat.
“Iya, mas doain yang terbaik.
Mestipun Mas gagal jadi anak Managemen malah Cuma jadi Jurnalis, semoga adek
Mas yang paling cantik ini bisa jadi anak Management dan sukses dunia
akhiratnya. Amin” Awan membelai kepala adik perempuannya itu.
“Amin Mas. Jurnalis tapi hebat, tiap
pagi dan sore muncul di televisi baca berita. Laila bangga punya kakak seperti
mas Awan. Mestipun belum bisa punya televisi sendiri seperti Pak Chairul
Tanjung, minimal kan sudah jadi pegawainya Pak Chairul Tanjung. Ya kan pak , bu
? “ Laila terus memuji kakaknya.
Awan tersenyum, indahnya mimpi bila
menjadi nyata lebih indah daripada minpi itu sendiri. Tak dinanya tak di sangka
, Awan yang hanya seorang anak pahlawan devisa kini mampu membanggakan orang
tua. Mampu mematahkan keraguan para tetangga yang sebagian besar berfikir anak
seorang TKI nantinya akan tetap menjadi TKI. Sedikit demi sedikit tetes peluh
Awan kini mampu merangkai senyum di bibir kedua orang tuanya.
Teruslah bermimpi, selama mimpi itu
tidak di punggut biaya. Teruslah berusaha selama hayat masih di kandung badan.
Bermimpilah setinggi tingginya karena saat impian tertinggi itu tak mampu kau
raih, kau telah meraih level impian tinggi lain yang berada di bawahnya.
Percayalah bila kau yakin atas satu langkah yang kau tempuh maka sudah terbuka
seribu langkah yang lain untukmu agar terus maju.
Ponorogo, 11 Juli 2014
Mazda
Rachma Qunuti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar