Selasa, 13 Oktober 2015

Impian Anak Pahlawan Devisa



            Allahu Akbar Allahu Akbar ….
            Suara Adzan Shubuh berkumandang, masuk kedalam telinga insan yang masih terlelap dalam mimpi yang menjanjikan. Suara itu menembus dinding kayu rumah tua yang sudah mulai lapuk termakan usia. Remaja jakung yang tidur beralaskan selembar tikar dalam rumah itu masih enggan bangun, dia malah semakin menarik sarung yang dia gunakan sebagai selimut untuk menutupi tubuhnya. Bukannya tidak mendengar seruan untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan itu, tapi dia ingin tau masihkah Ibunya memberinya perhatian mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-17.
            Bukan apa-apa, seperti kebanyakan remaja lainnya Awan hanya ingin mendapatkan kado dari kedua orang tuanya. Seperti teman-temannya, ada yang mendapatkan hadiah sepeda motor merek Ninja, Handphone model terbaru dengan Operating System yang tercanggih, Jam tangan mahal, atau sekedar makan malam bersama di restaurant bersama keluarga. Bisakah aku seperti mereka? Itulah yang selalu ada di dalam benak Awan.
            Ah, jangankan kado semewah itu, hanya sekedar berkumpul bersama pun dia tak bisa dapatkan dari orang-orang yang bisa dia sebut keluarga. Bukan anak yang cerdas dengan segudang prestasi, bukan anak dari orang-orang yang berada, tak pula memiliki wajah rupawan. Hanya hidup sederhana di sebuah desa dari kota yang memiliki julukan Kota Reog. Dengan kehidupan yang apa adanya tidak pernah membuat Awan menyesali semua yang telah terjadi. Awan hanya ingin jadi maunusia yang lebih baik dan tidak selalu dianggap sebelah mata oleh banyak orang.
            “Awan ! Sudah Shubuh , sana ke Masjid. Anak muda kok malas-malasan” Teriakan Ibu dari rumah belakang memaksa Awan bangun dari tidurnya.
            Okelah, itu kalimat yang pertama Ibu ucapkan, bukan Selamat ulang Tahun atau bilang kalau Ibu sayang aku gitu. Gerutu Awan di dalam hati.      
            Awan melangkah agak enggan menuju tempat wudhu masjid, membasuh wajah dengan air yang lumayan dingin cukup membuat matanya kembali terjaga. Sayup-sayup terdengar suara Radit dan Sahid teman Awan membicarakan tentang Mas Aji sudah bukan hal yang spesial lagi bila di desa Awan ada sedikit saja kejadian pastilah tak sampai hitungan 24 jam sudah menyebar seantero desa.
            Iyo, Mas Aji sudah kuliah di kota  juga akhirnya tetep jadi TKI, ya sama seperti Bapak dan Pak De nya. Katanya dia mau berangkat minggu depan.” Suara Sahid yang berat terdengar cukup keras di pagi yang sunyi itu.
            “Padahal itu si Zen temenku seangkatan dulu di SMP itu sekarang jadi satpam pabrik di Surabaya. Kata Ibukku kemarin,Ibunya Zen itu cerita kalau sekarang dia sudah bisa kirim uang, malah katanya disana sudah punya sepeda motor baru. Gak usah jauh-jauh ke Negara orang sudah ada penghasilan.” Radit menimpali pembicaraan.
            “Heh, pagi-pagi kok sudah ngrasani orang toh. Ayo jamaah dulu itu Pak Maridin sudah mau Iqomah.” Awan memutuskan acara gossip ala cowok di pelataran masjid bercat hijau muda itu.
∞∞∞
            “Jadi gimana wan, cuma kamu pemuda dari kampung kita yang sampai saat ini bisa jebol gerbang SMA 1 Ponorogo, SMA terfavorit di kota ini. Mau jadi apa kamu nanti, masak Cuma seperti Mas Aji?”
            Pertanyaan dari Radit yang menohok hati kecil Awan masih terus menjadi beban di pikiran Awan. Benar adanya pertanyaan itu, sudah susah-susah masuk SMA, mahal pula bayarnya, masak Cuma mau jadi orang biasa. Berjuta tanda tanya menari di otak Awan. Hingga Awan tak sadar bahwa Pak Samlan guru Sosiologi sudah masuk kelas.
            Ruang kelas yang penuh nuansa biru mulai tenang, tidak seperti guru lainnya Pak Samlan ini guru yang istimewa. Beliau tak seperti kebanyakan guru lain yang tidak bisa berbaur dengan siswa dan kadang terkesan kaku. Di mata anak IPS khususnya anak IPS 3 ini Pak Samlan  memiliki wibawa, beliau memandang anak-anak IPS sebagai anak-anak yang istimewa pula, bukan anak badung, bodoh, susah diatur seperti anggapan guru-guru lainnya. Anak IPS punya kecerdasan yang berbeda dari anak IPA yang setiap hari berkutat dengan buku-buku tebal berisi mantra-mantra ajaib.   Mulai dari insisivus, tubulus kontortus distal, senyawa amvoter, dan sebagainya yang bisa membuat lidah keseleo bila membacanya.
            “Eh Wan, kamu kenapa benggong ? Mikirin hutang yang numpuk ke Bu Pian ya ?” Sontak gelak tawa membahana diseluruh kelas tapi malah membuat pipi Awan memerah karena ketahuan sedang melamun. Apalagi tersebut nama Bu Pian, penjaga kantin sekolah yang biasanya di jadikan tempat membolosoleh anak-anak IPS saat lagi malas mengikuti pelajaran.
            “Aku pagi ini baca Koran cah, menurut survey angka perceraian di Kabupaten Ponorogo itu meningkat lantaran banyaknya masyarakat yang kerja di luar negeri, menurut kalian piye cah?” Pak Samlan membuka topik pembicaraan.
            “Anu, pak. Gara-gara kangen bojo itu pak, kan jadi TKI gak Cuma bentar pak” Jawab Bagong sekenannya. Nama aslinya Hario tapi karena tubuhnya yang gempal lantas kemudian teman-temannya memanggil dia Bagong.
            “Kangen bojo piye to Gong? “ Sandra bertanya.
            “Kangen anu anu , ih masak gak paham to ?” Bagong menjawab dengan mimic wajah yang aneh. Sebagian besar anak lelaki di kelas itu lantas tertawa, oh bukan seluruh termasuk juga Awan dan Pak Samlan.
            “Tuh kan pikirannya kotor” Sandra mulai cemberut.
            “Yang kotor itu pikiranmu San, anu anu itu kayak sholat berjamaah bersama keluarga, jalan-jalan waktu liburan. Gitu loh” Bagong menjelaskan.
            “ Alibi , tauk ah.” Sandra malu karena sudah berfikir yang aneh soal pembicaraan Bagong.
            “Mungkin gara-gara jarang dapet perhatian pak, kan cinta yang setia akan terkalahkan dengan cinta yang selalu ada.” Ujar Zahrana, gadis berjilbab putih yang suka sekali menonton film Korea.
            Disaat teman-temannya dan Pak Samlan mendiskusikan masalah perceraian dan TKI, Awan kembali tenggelam dalam lamunannnya.
            “Wan, ngelamun apa lagi kamu?” Ucap Vean sambil menyenggol Awan yang tubuhnya lebih kecil darinya.
            Aku anak TKI, Aku gak mau sampai orangtuaku bercerai, aku gak mau nanti aku juga jadi TKI, Aku kangen  Bapakku. Aku pengen Bapakku  berhenti kerja di Negara orang, tapi aku bisa apa? Namun semua kata itu berganti
“Ah, aku rapopo”  Ujar Awan sambil tersenyum kecut.
∞∞∞
            “Aku pengen jadi pengusaha, aku pengen nanti aku bangun Pusat Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) agar nanti di kelola Bapakku, Aku pengen punya outlet Nasi Pecel Pincuk Tumpuk dan Sate Ayam Ponorogo terbesar di Jawa Timur untuk di kelola Ibuku. Aku pengen punya Stasiun televisi yang besar seperti punya Pak Choirul Tanjung.”
∞∞∞
10 tahun kemudian …
            Jalanan kampung ini masih sama seperti yang dulu masih makadaman atau hanya dari sususan batu tanpa bentuk , tanpa aspal. Hanya saja dulu Awan berjalan kaki diatas jalan ini, kini mobil Avanza berwarna Silver metalik menjadi tumpangannya melewati jalan berbatu ini. Tak ada yang menyangka, Awan yang serba biasa saja sekarang sudah cukup luar biasa di kampungnya.
            “Nak, ini tulisannmu to?” Ibunda Awan memberikan secarik kertas yang tinta tulisannya mulai menguning. Coretan tentang impiannya 10 tahun lalu yang hampir semuanya menjadi kenyataan.
            “Hehe.. Iya buk. Maaf ya buk, belum bisa terwujud semua.” Ujar Awan sambil meniup-niup kopi hitam dalam cangkir berwarna putih tulang buatan Ibunya.
            “Ini sudah hebat kok le, anak Bapak yang Cuma jadi pengais rejeki di Negara orang sekarang punya mobil. Bapak sudah gak jadi TKI, sekarang jadi pemilik PJTKI, Ibuk sudah punya warung Sate di Malang sama Surabaya, pegawainya dari pemuda sini juga biar gak cepet-cepet ke Malaysia atau Arab gara-gara kelamaan nganggur. Itu anak Mbok De sudah kamu batu kuliah semua, Pak De sudah kamu kasih sawah buat usaha. Biaya adekmu kuliah nanti juga sudah terjamin.” Jelas Bapak Awan yang 3 tahun setelah Awan masuk ke perguruan tinggi kembali ke Indonesia lantaran sudah terhitung lanjut usia.
            “Maaf ya le, Ibu sama Bapak Cuma ngerepotin kamu. Dulu belum selesai kamu kuliah Bapak Ibu udah gak bisa biayai, kamu malah kerja jadi kuli tinta. Sekarang kuli tintanya sukses punya macem-macem usaha. Ibu bangga sama kamu le” Tangan lembut Ibu mengelus pundak Awan.
            “Alhamdulillah  ya buk, di syukuri aja.” Awan tersenyum
            Tak lama kemudian terdengar suara sepedah motor dari luar. Sepertinya ada tamu yang datang.
            “Assalamualaikum … “ Suara Laila yang merdu terdengar, gadis manis berseragam putih abu-abu dan berjilbab ini masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru.
            Wajah Laila terlihat senang, mengetahui Mas satu-satunya pulang ke Rumah. Laila yang memang sepulang sekolah membawa berita gembira untuk keluarganya semakin tersenyum sumringah.
            “Mas Awan pulang to?” Laila kemudian mencium tangan kedua orang tua dan Mas nya.
            “Iya dek. Kok kelihatan seneng banget ada apa?” Awan melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Laila.
            “Gini mas, esai Laila masuk final mas. Esai yang Laila masukkan ke UGM Management itu Mas, doain Laila ya mas semoga bisa menang. Kalau menang nanti Laila gampang kalau mau kuliah di situ.” Cerita Laila penuh semangat.
            “Iya, mas doain yang terbaik. Mestipun Mas gagal jadi anak Managemen malah Cuma jadi Jurnalis, semoga adek Mas yang paling cantik ini bisa jadi anak Management dan sukses dunia akhiratnya. Amin” Awan membelai kepala adik perempuannya itu.
            “Amin Mas. Jurnalis tapi hebat, tiap pagi dan sore muncul di televisi baca berita. Laila bangga punya kakak seperti mas Awan. Mestipun belum bisa punya televisi sendiri seperti Pak Chairul Tanjung, minimal kan sudah jadi pegawainya Pak Chairul Tanjung. Ya kan pak , bu ? “ Laila terus memuji kakaknya.
            Awan tersenyum, indahnya mimpi bila menjadi nyata lebih indah daripada minpi itu sendiri. Tak dinanya tak di sangka , Awan yang hanya seorang anak pahlawan devisa kini mampu membanggakan orang tua. Mampu mematahkan keraguan para tetangga yang sebagian besar berfikir anak seorang TKI nantinya akan tetap menjadi TKI. Sedikit demi sedikit tetes peluh Awan kini mampu merangkai senyum di bibir kedua orang tuanya.
            Teruslah bermimpi, selama mimpi itu tidak di punggut biaya. Teruslah berusaha selama hayat masih di kandung badan. Bermimpilah setinggi tingginya karena saat impian tertinggi itu tak mampu kau raih, kau telah meraih level impian tinggi lain yang berada di bawahnya. Percayalah bila kau yakin atas satu langkah yang kau tempuh maka sudah terbuka seribu langkah yang lain untukmu agar terus maju.
            Ponorogo, 11 Juli 2014
Mazda Rachma Qunuti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar