Minggu, 10 Juni 2012

Apa Kata Bintang (Cerpen IV)


          Speedometer di motorku menunjukkan kecepatan 80km/jam. Hujan yang mengguyur kota Pamekasan pun tak membuatku berniat mengurangi kecepatanku dalam mengendarai sepeda motor kesayanganku ini. Dadaku kini sesak dengan luapan emosi, air mataku terus mengalir deras hingga membuatku sulit melihat. Betapa bodohnya aku selama ini mempercayainya. Rumah kak Wahyu yang menjadi tujuanku kini, hanya kak Wahyu lah yang selalu membuatku tenang selama ini.
          ‘Kak, buka pintunya ini adek.’ Aku mengetuk pintu rumah kak Wahyu, tubuhku mengigil kedinginan, bibirku gemetar memanggil kak Wahyu. Kak Wahyu membukakan pintu untukku dan membawaku masuk kedalam rumahnya. Dia memintaku duduk di kursi ruang tamu rumahnya. Tanpa basa-basi dia memberiku sepotong handuk tebal berwarna merah jambu, lalu dia pergi. Tak lama kemudian, dia kembali membawa secangkir teh yang aromanya mengoda dan asapnya mengepul.
          ‘Minum dulu tehnya, Dek’ Kak Wahyu duduk disampingku. Hujan diluar sana tak kunjung reda membuatku ingin kembali menangis. Sebisa mungkin ku tahan air mataku namun aku tak bisa. Aku menangis lagi, aku ingin menceritakan semua pada kak Wahyu. Namun, saat mulutku hendak berkata kak Wahyu menutup dengan telunjuknya. ‘Jangan cerita dulu, gantilah pakaian mu. ’
          Kak Wahyu membimbingku menuju sebuah kamar, dia berkata ‘Pilihlah pakaian mendiang Ibuku yang kamu suka dalam lemari itu, lalu ganti pakaianmu. Aku tunggu di ruang tamu.’ Aku mengusap air mataku, dam mulai memilih pakaian di lemari yang di tunjuk kak Wahyu. Pakaian dalam lemari itu tertata rapi, tidak seperti pakaian yang tidak punya pemilik, dan aku pun memilih satu untuk ku pakai.
          Kak Wahyu dan Ayahnya, Om Rohman menungguku di ruang tamu. Aku baru mengenal kak Wahyu 5 bulan lalu saat dia sekeluarga berkunjung ke rumahku. Ayah kak Wahyu adalah saudara  jauh Ayahku yang dulu tinggal di Manado. Ayah tak pernah sedikitpun bercerita tentang keluarga kak Wahyu padaku hingga ku tau ternyata mereka masih family ku.
          ‘Duduklah disini Dhara, Om ingin berbicara denganmu’ aku pun dudukdi samping kak Wahyu. ‘Om, Dhara mohon jangan laporkan masalah ini ke Ayah ibu.’ Om Rohman hanya tersenyum. ‘Baiklah, om ada acara urusan di kantor kelurahan. Kalau kau ingin menginap, tidurlah di kamar tadi.’ Om Rohman berdiri aku dan kak Wahyu mencium tangannya. Beliau pergi meninggalkan ku dan kak Wahyu berdua.
∞∞∞
        Malam itu aku membuat nasi goreng untuk makan malam aku dan kak Wahyu. Saat makan pun aku masih terbayang peristiwa tadi siang, melihat seonggok nasi di hadapan ku kini aku menjadi mual. Kak Wahyu melihat dan mengerti, dia menggambil nasi dari piringku dan memakannya dengan lahap.
          Aku hanya bisa melongo melihat kak Wahyu  makan sampai begitu lahapnya. ‘Bego’ banget kamu, gara – gara patah hati nggak mau makan. Nasi gorengnya enak banget lho. yummy’ Sebenarnya aku lapar, lapar banget. Tapi ya sudahlah, kutahan saja cacing di perutku yang mulai mendemo.
          Di meja makan itu aku hanya menemani kak Wahyu makan 2 porsi nasi goring sekaligus. Mata ku tak luput memandanginya, yang di pandangi malah cengegesan. ‘Kak, kalau udah makannya kita jalan-jalan ya.’ Kak Wahyu tidak menjawab dan membuatku makin kesal.
          Tak lama kemudian, kak Wahyu selesai makan supernya. Aku membereskan piring bekas makan kak Wahyu. Kak Wahyu mengeluarkan Mobil dari bagasi dan mengelapnya. Aku pikir kak Wahyu tadi  benar – benar tak mendengarkanku.
          Kak Wahyu sudah berganti pakaian, jeans hitam, kemeja hitam tanpa di kancingkan di dalamnya kaos putih polos. ‘Mau kemana kak, cakep amat ?’ aku menggodanya. ‘Mau bikin calon istri seneng, ayo sayang !’ kak Wahyu merangkulku. ‘Calon istri dari hongkong ?bentar mau ganti baju dulu.’ Aku melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju kamar almarhum Tante Mirna. ’Iya deh, enak dong dapet calon istri dari hongkong. Cantik nggak kayak kamu yang nangis terus.’ Kak Wahyu mengejekku.
∞∞∞
        Dari semua koleksi bajunya, aku rasa Tante Mirna seorang Fasionita. Dengan sedikit modifikasi, aku memilih mengecilkan sebuah dress pink dan memakai jaket dari wol berwarna putih. Dan kini aku duduk bersebelahan dengan kak Wahyu dalam mobilnya.
          Kak Wahyu membawaku ke warung bakso langgananku. Dia memesankan untukku 2 porsi bakso sekaligus sebagai wujud permintaan maaf karena dia telah memakan nasi gorengku. Karena bakso adalah makanan favorite ku, kini tak akan ku biarkan kak Wahyu merebutnya kembali. Kak Wahyu yang kini melonggo melihatku makan seperti orang kesetanan. Aku kini membalasnya dengan sengiran juga, impas 1 – 1. Hahaha J.
          Aku percaya sama ramalan bintang, aku dan kak Wahyu punya bintang yang sama. PISCES, sehingga bersama kak Wahyu aku merasa bersama diriku sendiri. Sedangkan mantan ku yang pernah amat sangat aku cintai itu berbintang CANCER. Menurut ramalan bintang, CANCER dan PISCES adalah pasangan serasi karena dapat saling melengkapi. Tapi, sesama bintang PISCES tidak cocok karena sama – sama keras kepala.
          Aku percaya itu, maka dari itu semenjak aku mengetahui bahwa kak Wahyu mempunyai bintang yang sama denganku, aku mulai membatasi diri. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Cowok nyaris perfect ini. Walaupun aku sadar aku tak mungkin bisa menghindar dari yang namanya virus cinta.
          Setelah kenyang, kak Wahyu mengajak ku pergi ke sebuah tempat. Walau aku sudah hidup sejak lama di sini tapi aku tak tau dimana aku kini berada bersama kak Wahyu. Kak Wahyu mematikan mesin mobil dan menggenggam tanganku yang dingin.
          ‘Kok dingin banget dek ?’ senyumnya yang manis membuatku seakan meleleh. Aku tak bisa memungkiri dia tampan, tapi hatiku masih tak bisa ku serahkan padanya. Hatiku masih terpaut pada pria lain yang telah menyakitiku. Mungkin saaat inilah yang tepat aku untuk belajar mencintai kak Wahyu dan melupakan mantanku yang telah menghianatiku itu.
 ‘I love you dek, adek mau ndak jadi pacar kakak ?’ Deg, jantungku makin bergemuruh. ‘Kita masih family kak, apalagi kata ra…’ Kak Wahyu menutup bibirku.
          ‘Kita family jauh, hanya almarhum ibu yang tau susunannya.Beliau yang menuliskan wasiat pada Ayah dan kakak untuk pergi kesini menemui keluargamu dan menetap disini. Kakak tau kamu akan membahas tentang ramalan bintang. Apa cowok yang katanya cocok dengan mu itu setia padamu.? Kamu sampai sakit hati begini gara-gara dia.’ Kak Wahyu menjelaskan panjang lebar.
          ‘Orang tua kita ?’ aku takut menjalani hubungan lagi kalau masih tak mendapat restu, nanti seperti yang sudah – sudah. Semua cowok yang menjadi pacarku  lelah menunggu restu dari orang tuaku.
          Kak Wahyu mengambil sebuah kotak kecil berwana merah dari laci mobil. Dia membukanya, dan mengambil cicin dengan potongan berlian kecil berwarna merah jambu. Dengan perlahan dia menyematkan cincin di jari manis kanan ku. Kemudian dia mengambil seikat mawar putih dari belakang jok kursinya, dan memberikan bunga itu padaku.
          Aku terharu, baru tadi siang aku putus dan sekarang aku kembali di tembak, bukan ini bukan hanya di tembak tapi di lamar dengan begitu romantisnya. ‘Kita sudah di jodohkan sejak dulu. Tapi aku baru tau tadi pagi setelah 5 bulan ini aku jatuh hati padamu.Ramalan bintang kita tak mempengaruhi rasa cintaku padamu. Fazdha Ranita Piscesca, maukah kamu menjadi istriku ?’
          Dingin malam menjadi saksi betapa bahagianya aku. Dengan angukan perlahan dan pipi tersipu merah aku menerimanya. Dia mengecup keningku dan memelukku, memberikan kehangatan dari dinginnya malam. Sekarang tanggal 11 bulan November tahun 2011. Itu berarti kita akan menikah setelah aku lulus kuliah nanti.
          Tanggal 5 bulan Mei tahun 2015, our wedding will be held. Aku mulai menghancurkan kepercayaanku tentang Bintang. Ramalan bintang tak terbukti benar dalam hidupku. Aku berhasil melupakannya dalam kurang dari 24 jam dengan kak Wahyu. My beloved Boy J 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar