Speedometer di motorku menunjukkan
kecepatan 80km/jam. Hujan yang mengguyur kota Pamekasan pun tak membuatku
berniat mengurangi kecepatanku dalam mengendarai sepeda motor kesayanganku ini.
Dadaku kini sesak dengan luapan emosi, air mataku terus mengalir deras hingga
membuatku sulit melihat. Betapa bodohnya
aku selama ini mempercayainya. Rumah kak Wahyu yang menjadi tujuanku kini, hanya
kak Wahyu lah yang selalu membuatku tenang selama ini.
‘Kak,
buka pintunya ini adek.’ Aku mengetuk pintu rumah kak Wahyu, tubuhku
mengigil kedinginan, bibirku gemetar memanggil kak Wahyu. Kak Wahyu membukakan
pintu untukku dan membawaku masuk kedalam rumahnya. Dia memintaku duduk di
kursi ruang tamu rumahnya. Tanpa basa-basi dia memberiku sepotong handuk tebal
berwarna merah jambu, lalu dia pergi. Tak lama kemudian, dia kembali membawa
secangkir teh yang aromanya mengoda dan asapnya mengepul.
‘Minum
dulu tehnya, Dek’ Kak Wahyu duduk disampingku. Hujan diluar sana tak
kunjung reda membuatku ingin kembali menangis. Sebisa mungkin ku tahan air
mataku namun aku tak bisa. Aku menangis lagi, aku ingin menceritakan semua pada
kak Wahyu. Namun, saat mulutku hendak berkata kak Wahyu menutup dengan
telunjuknya. ‘Jangan cerita dulu,
gantilah pakaian mu. ’
Kak Wahyu membimbingku menuju sebuah kamar, dia
berkata ‘Pilihlah pakaian mendiang Ibuku
yang kamu suka dalam lemari itu, lalu ganti pakaianmu. Aku tunggu di ruang
tamu.’ Aku mengusap air mataku, dam mulai memilih pakaian di lemari yang di
tunjuk kak Wahyu. Pakaian dalam lemari itu tertata rapi, tidak seperti pakaian
yang tidak punya pemilik, dan aku pun memilih satu untuk ku pakai.
Kak Wahyu dan Ayahnya, Om Rohman
menungguku di ruang tamu. Aku baru mengenal kak Wahyu 5 bulan lalu saat dia
sekeluarga berkunjung ke rumahku. Ayah kak Wahyu adalah saudara jauh Ayahku yang dulu tinggal di Manado. Ayah
tak pernah sedikitpun bercerita tentang keluarga kak Wahyu padaku hingga ku tau
ternyata mereka masih family ku.
‘Duduklah
disini Dhara, Om ingin berbicara denganmu’ aku pun dudukdi samping kak
Wahyu. ‘Om, Dhara mohon jangan laporkan
masalah ini ke Ayah ibu.’ Om Rohman hanya tersenyum. ‘Baiklah, om ada acara urusan di kantor kelurahan. Kalau kau ingin
menginap, tidurlah di kamar tadi.’ Om Rohman berdiri aku dan kak Wahyu
mencium tangannya. Beliau pergi meninggalkan ku dan kak Wahyu berdua.
∞∞∞
Malam itu aku membuat nasi goreng untuk makan malam
aku dan kak Wahyu. Saat makan pun aku masih terbayang peristiwa tadi siang,
melihat seonggok nasi di hadapan ku kini aku menjadi mual. Kak Wahyu melihat
dan mengerti, dia menggambil nasi dari piringku dan memakannya dengan lahap.
Aku hanya bisa melongo melihat kak
Wahyu makan sampai begitu lahapnya. ‘Bego’ banget kamu, gara – gara patah hati
nggak mau makan. Nasi gorengnya enak banget lho. yummy’ Sebenarnya aku
lapar, lapar banget. Tapi ya sudahlah, kutahan saja cacing di perutku yang
mulai mendemo.
Di meja makan itu aku hanya menemani
kak Wahyu makan 2 porsi nasi goring sekaligus. Mata ku tak luput memandanginya,
yang di pandangi malah cengegesan. ‘Kak,
kalau udah makannya kita jalan-jalan ya.’ Kak Wahyu tidak menjawab dan
membuatku makin kesal.
Tak lama kemudian, kak Wahyu selesai
makan supernya. Aku membereskan piring bekas makan kak Wahyu. Kak Wahyu
mengeluarkan Mobil dari bagasi dan mengelapnya. Aku pikir kak Wahyu tadi benar – benar tak mendengarkanku.
Kak Wahyu sudah berganti pakaian,
jeans hitam, kemeja hitam tanpa di kancingkan di dalamnya kaos putih polos. ‘Mau kemana kak, cakep amat ?’ aku
menggodanya. ‘Mau bikin calon istri seneng,
ayo sayang !’ kak Wahyu merangkulku. ‘Calon
istri dari hongkong ?bentar mau ganti baju dulu.’ Aku melepaskan
rangkulannya dan berjalan menuju kamar almarhum Tante Mirna. ’Iya deh, enak dong dapet calon istri dari
hongkong. Cantik nggak kayak kamu yang nangis terus.’ Kak Wahyu mengejekku.
∞∞∞
Dari semua koleksi bajunya, aku rasa Tante Mirna
seorang Fasionita. Dengan sedikit modifikasi, aku memilih mengecilkan sebuah dress
pink dan memakai jaket dari wol berwarna putih. Dan kini aku duduk bersebelahan
dengan kak Wahyu dalam mobilnya.
Kak Wahyu membawaku ke warung bakso
langgananku. Dia memesankan untukku 2 porsi bakso sekaligus sebagai wujud
permintaan maaf karena dia telah memakan nasi gorengku. Karena bakso adalah
makanan favorite ku, kini tak akan ku biarkan kak Wahyu merebutnya kembali. Kak
Wahyu yang kini melonggo melihatku makan seperti orang kesetanan. Aku kini
membalasnya dengan sengiran juga, impas 1 – 1. Hahaha J.
Aku percaya sama ramalan bintang, aku
dan kak Wahyu punya bintang yang sama. PISCES, sehingga bersama kak Wahyu aku
merasa bersama diriku sendiri. Sedangkan mantan ku yang pernah amat sangat aku
cintai itu berbintang CANCER. Menurut ramalan bintang, CANCER dan PISCES adalah
pasangan serasi karena dapat saling melengkapi. Tapi, sesama bintang PISCES
tidak cocok karena sama – sama keras kepala.
Aku percaya itu, maka dari itu
semenjak aku mengetahui bahwa kak Wahyu mempunyai bintang yang sama denganku,
aku mulai membatasi diri. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Cowok nyaris
perfect ini. Walaupun aku sadar aku tak mungkin bisa menghindar dari yang
namanya virus cinta.
Setelah kenyang, kak Wahyu mengajak ku
pergi ke sebuah tempat. Walau aku sudah hidup sejak lama di sini tapi aku tak
tau dimana aku kini berada bersama kak Wahyu. Kak Wahyu mematikan mesin mobil
dan menggenggam tanganku yang dingin.
‘Kok
dingin banget dek ?’ senyumnya yang manis membuatku seakan meleleh. Aku tak
bisa memungkiri dia tampan, tapi hatiku masih tak bisa ku serahkan padanya. Hatiku
masih terpaut pada pria lain yang telah menyakitiku. Mungkin saaat inilah yang
tepat aku untuk belajar mencintai kak Wahyu dan melupakan mantanku yang telah
menghianatiku itu.
‘I love you dek, adek mau ndak jadi pacar
kakak ?’ Deg, jantungku makin bergemuruh. ‘Kita masih family kak, apalagi kata ra…’ Kak Wahyu menutup
bibirku.
‘Kita
family jauh, hanya almarhum ibu yang tau susunannya.Beliau yang menuliskan
wasiat pada Ayah dan kakak untuk pergi kesini menemui keluargamu dan menetap
disini. Kakak tau kamu akan membahas tentang ramalan bintang. Apa cowok yang
katanya cocok dengan mu itu setia padamu.? Kamu sampai sakit hati begini
gara-gara dia.’ Kak Wahyu menjelaskan panjang lebar.
‘Orang
tua kita ?’ aku takut menjalani hubungan lagi kalau masih tak mendapat
restu, nanti seperti yang sudah – sudah. Semua cowok yang menjadi pacarku lelah menunggu restu dari orang tuaku.
Kak Wahyu mengambil sebuah kotak kecil
berwana merah dari laci mobil. Dia membukanya, dan mengambil cicin dengan
potongan berlian kecil berwarna merah jambu. Dengan perlahan dia menyematkan
cincin di jari manis kanan ku. Kemudian dia mengambil seikat mawar putih dari
belakang jok kursinya, dan memberikan bunga itu padaku.
Aku terharu, baru tadi siang aku putus
dan sekarang aku kembali di tembak, bukan ini bukan hanya di tembak tapi di
lamar dengan begitu romantisnya. ‘Kita
sudah di jodohkan sejak dulu. Tapi aku baru tau tadi pagi setelah 5 bulan ini
aku jatuh hati padamu.Ramalan bintang kita tak mempengaruhi rasa cintaku
padamu. Fazdha Ranita Piscesca, maukah kamu menjadi istriku ?’
Dingin malam menjadi saksi betapa bahagianya aku.
Dengan angukan perlahan dan pipi tersipu merah aku menerimanya. Dia mengecup
keningku dan memelukku, memberikan kehangatan dari dinginnya malam. Sekarang tanggal
11 bulan November tahun 2011. Itu berarti kita akan menikah setelah aku lulus
kuliah nanti.
Tanggal 5 bulan Mei tahun 2015, our
wedding will be held. Aku mulai menghancurkan kepercayaanku tentang Bintang.
Ramalan bintang tak terbukti benar dalam hidupku. Aku berhasil melupakannya
dalam kurang dari 24 jam dengan kak Wahyu. My beloved Boy J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar