Minggu, 10 Juni 2012

Show before Go (Cerpen V)


            Dear my lovely,
            Do you know if every time I will always think of you?
            Do you know if my live only for you?
            I think you know about my fell
            And
 I believe that you have a same fell with me.
            I will always love you
Every time
            Do you know ?
            Every song I sing, I sing for you
            And anywhere I’m , I always think about you
            I can know if you miss me
            I can know what are you do every time
            Because my heart has been in your heart
            Don’t be afraid my lovely
            I will always beside your
                        From: Someone who loves you forever
            ‘Janganlah, terlalu agresif.’
            Lembaran kertas yang kesekian ratus kembali di lipat oleh Han Sun Jee. Cowok putih, berhidung mancung itu kembali terpuruk untuk memikirkan untaian kata selanjutnya yang akan di tulisnya di kertas berikutnya. Memang zaman sudah modern, tapi dengan surat saja dia selalu gagal apalagi secara langsung.
            Tampan, tinggi, putih, plus pinter. IQ 200, nyaris perfect buat ukuran cowok SMA yang baru umur 17 tahun. Jee sedang dilanda cinta yang mendalam pada gadis hitam manis teman sekelasnya sejak pertama kali masuk SMA. Margaretta Prisca , First love in the first sight , but, dengan IQ yang sedemikian tingginya, tak memudahkannya untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu.
            Malam ini, Lagu dari Fire House ‘I Love You Everyday’ menggema dari laptop Jee diiringi senandung riangnya. Fall in love make us blind. Love you Icca. :*
∞∞∞
            I can love you easy if you give me the chance ….
            New state in Sun Jee’s  Facebook. Pagi ini dia ingin sekali membawa mentari yang amat cerah ke hadapan Icca untuk mengungkapkan perasaannya. Jee mengenakan seragam sekolahnya.  Celana panjang krem, baju berkerah tangan panjang warna putih dan hem berwarna krem. Tidak lupa dia mengenakan kacamatanya yang makin membuatnya imut.
            Di Sekolah Berstandart Internasional ini lah Jee bisa menemukan kebahagiaan yang jarang sekali dia dapatkan dari berjuta angka yang selalu menghiasi hari-harinya. Matematika adalah kekasih pertamanya. Tapi, dia selalu berharap bahwa Icca adalah akan menjadi kekasihnya untuk selamanya.
            Senandung cinta selalu mengema dalam batin Jee. Cinta telah merasuki jiwa dan raganya membuatnya seolah terbius dan melupakan segalanya. Jee langsung menempati bangku kelasnya setelah tiba di sekolah. Namun, hingga bel masuk berdering mesra pun gadis yang ia nanti tak kunjung tiba. Icca, where are you ?
            Hingga jam terakhir Icca tetap tak ada. Jee memberanikan diri bertanya pada Muna, sekertaris kelasnya. “Mun, Where is Icca ?” Jee terlihat sangat khawatir. “What ? Icca , yesterday her mom send me a message. She said that Icca is sick, and she in hospital now. What happend Jee ? Do you miss Icca ?” Muna mulai curiga.
            “No, I just have some business with her. Okay, thank you Muna. I have to go. Bye” . Jee berlari meninggalkan Muna yang masih tampak kebingungan. Dengan mobil pemberian Ayahnya yang ke -17 Jee melaju di jalan kota Pahlawan ini. Macet karena hujan tengah mengguyur. Jee sangat khawatir, dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Icca.
∞∞∞
            “Icca sudah tidak ada nak. Dia sudah pergi meninggalkan kita.” Kata-kata itu meruntuhkan ketegaran jiwa Jee sebagai seorang laki-laki. Air matanya pun sedikit-demi sedikit menetes.
Kehilangan seseorang yang membuat Jee selalu terseyum kala dia menatap mata bulat indah Icca secara sembuyin-sembunyi. Dan turut tertawa kala Icca tersenyum dengan manisnya. Seorang yang selalu membuatnya bersemangat. Kini, dia tak akan lagi dapat melihat mata indah yang selalu tampak bersinar itu, juga senyum manis yang membuat siapa saja yang melihatnya akan turut tersenyum.
“Icca, Overdosis narkoba nak, saya memang salah tak seharusnya dia seperti ini. Saya tak pernah memperhatikan apa yang dia lakukan setelah saya sibuk berkerja, setelah saya bercerai dengan suami saya 3 tahun lalu.” Begitulah cerita Ibunda Icca dengan tangis pecah.
Hanya tangis yang mengantar kepergiannya, tak akan ada lagi Icca yang ceria dan membuat semua orang bersemangat. Meski semua penyesalan di ucapkan, tak akan mengembalikan Icca ke dunia ini lagi.
Dan Jee terpaksa harus membiarkan Icca , gadis hitam manis itu membawa seluruh cintanya. Aku menyesal tak pernah mengunggkapkan perasaanku. Andai aku mengungkapkannya semua tak akan seperti iini. Aku bisa menemaninya dikala sedih bukan obat – obat biadab itu.
Love you Icca , I love you. Where ever you are…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar