Senin, 30 September 2013

Sepihan Jati Diri (FLS Part VII)

Malam semakin larut, namun Dinda masih tetap duduk menatap langit yang cerah di atas balkon rumahnya. Malam ini bulan purnama, cukup besar dan terang disanding oleh beberapa bintang tak kalah terangnya. Angin malam mulai menyusup di balik piyama tidurnya yang berwarna merah magenta, membuat bulu kuduk Dinda berdiri.
            Secangkir brown coffee yang mulai dingin mulai diminumnya perlahan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi jari Dinda masih beradu dengan tombol  - tombol keyboard laptopnya. Laptop yang sudah menemaninya selama 4 tahun terakhir ini sudah tampak mulai kelelahan. Seperti tak berpri-kelaptop-an Dinda memaksa Laptop munggilnya itu terus menemaninya.
            Makalah Biologi, mata pelajaran yang penuh dengan teori, nama orang asing dan nama ilmiah, juga berjuta eksperimen yang melelahkan. Namun apa daya, beginilah nasip seorang pelajar SMA. Setiap hari selalu punya teman kencan khusus dan berbeda – beda yaitu tugas. Karena hidup tak seindah dalam novel ataupun film maka tugas membuat makalah Biologi itupun harus segera diselesaikannya.
            “Aduh , lupa dokumentasi waktu eksperimen kemarin. Wah, gawat ini. Mana mungkin ngulang eksperimen. Mana makalahnya harus di kumpulin besok lagi. Arrgghh” Ujar Dinda kesal.
            Dinda memutar otak untuk mencari gambar – gambar dokumentasi palsu dari mbah google. Sayangnya tak seperti yang ia harapkan, eksperimen yang dia kerjakan belum pernah di uji oleh orang lain. Eksperimen itu merupakan metode baru yang di buat oleh Bu Hardwi guru Biologi Dinda.
            Dinda mencoba menghubungi semua teman satu kelompok eksperimennya untuk membantu mencari dokumentasi palsu atau gambar apalah supaya bagian  dokumentasi makalah yang dia susun tidak kosong. Parahnya Dinda lupa sekarang sudah cukup larut jadi semua usahanya nihil. Tak ada satupun temannya yang balik menghubungi cewek tomboy atau sekedar membalas smsnya, atau bahkan mungkin tak satupun temannya yang masih terjaga.
            Tugas makalah yang mendadak ini dibebankan kepada Dinda karena hanya dia yang mampu begadang hingga subuh tiba. Bisa di bilang Dinda itu tipe cewek kelelawar, yang malamnya suka begadang dan siang saat pelajaran ia tidur di dalam kelas.
Itulah mengapa Dinda langsung saja menerima tugas menyelesaikan makalah Biologi dadakan ini tanpa memeriksa kelengkapan datanya. Semua itu hanya karena Dinda tidak mau di sebut numpang nama buat cari nilai walau sebenarnya dia tidak ikut saat melakukan eksperimen.
            Dengan langkah gontai Dinda kemudian menyalakan printer untuk mencetak semua hasil kerjanya malam ini. Menyisipkan beberapa lembar kertas dan mengubungkan printer pada laptopnya.
            “Apapun hasilnya besok yang penting aku sudah usaha malam ini” batin Dinda pasrah.
∞∞∞
            ‘Senyumnnya manis’
            Dinda membaca komentar salah satu teman Facebook-nya dalam foto yang baru saja dia unggah tadi sore. Foto dengan celana selutut dan kaos oblong di tepi danau itu mendapat apresiasi 53 like.
“ Siapa ya yang pagi buta ini masih online, chatroom-nya juga aktif “ Batin Dinda
PUTRA HENDRAWAN WIDODO
Kota asal Ponorogo, berdomisili di Surabaya. Mahasiswa di Universitas Airlangga Surabaya, umur  20 tahun dan status LAJANG.
Dinda terus menelusuri satu persatu informasi mengenai orang asing yang baru saja membuatnya berbunga-bunga akibat komentar di foto Dinda. Seperti layaknya pengamat Dinda meneliti satu persatu data, status, foto dan semua hal yang berhubungan dengan Putra. Dinda melupakan makalah Biologinya yang baru setengah jadi gara- gara cowok ini.
“Lumayan lah, keren , lajang pula” Ujar Linda
Tittit
Chatroom Dinda terbuka, ada pesan dari Putra cowok keren ala Facebook incarannya.
Putra Hendrawan Widodo             : ‘Hai, boleh kenalan?’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Hai juga, boleh.’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Maunya di panggil Dinda, Mutia , Rani atau Tiwi ?’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Dinda aja, mau di panggil Putra, Hendra atau …’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Terserah sih, tapi temen – temen biasa manggil Ido’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Oh, Ido’
Putra Hendrawan Widodo : ‘Sekolah di SMA Negeri 1 Ponorogo ya. Aku alumni sana loh setaun yang lalu. Sekarang kelas berapa ? ’
Dinda Mutiarani Pratiwi      : ‘Oh ya ? Kelas XI. Sekarang di Unair jurusan apa kak ?’
-       -   -  -
Putra Hendrawan Widodo tidak aktif
            “Kebangetan ini cowok PHP doing. Apaan coba ?” Gerutu Dinda
            Dengan kesal Dinda merapikan semua alat sekolahnya dan berusaha tidur walau sebenarnya dia tidak ngantuk. Akibat secangkir brown coffee  yang tadi dia minum tak sedikitpun rasa kantuk menghampirinya. Namun rasa kesalnya pada makalah biologi, juga pada cowok mahasiswa Unair itu mengalahkan rasa ketidak ngantuk-annya.
∞∞∞
            Meja yang di pojok, telinga tersumbat headset  oh betapa indahnya dunia. Jam pertama dan kedua hari ini terlewati begitu saja dengan cepatnya. Sebenarnya tadi sayup – sayup terdengar bagaimana Pak Wahyudi menjelaskan tentang perputaran elektron terhadap inti dalam suatu atom. Tetap saja tak menggoyahkan iman Dinda untuk tetap menghabiskan semua jam  Kimia dengan tidur di bangku belakang.
            “Gimana makalahnya ? Sudah di jilid belum ?” Tanya Ranti setelah Pak Wahyudi keluar kelas.
            “Gembel, mau di jilid gimana wong gak ada dokumentasinya.” Jawab Dinda sekenanya.
            “Loh gimana sih, kita kan sudah praktek di Laboratorium sama Bu Har buat apalagi di kasih dokumentasi.” Bela Ranti
            “Setauku dimana – mana yang namanya makalah itu pakai dokumentasi. Itu memperkuat bukti kalau kita bener – bener praktek.” Sanggah Dinda
            “Kenapa gak kamu saja yang cari dokumentasinya. Cuma kerja ngetik doang aku juga bisa.” Sindir Ranti
            “Heh, non. Biasa aja deh gak usah nyindir. Aku udah cari semalem di internet, aku hubungi semua anggota kelompok tapi gak ada yang tanggap. Ngetik doang ?  Kalau bukan gara-gara aku sering ngerekam suara guru kalau aku lagi tidur pasti langkah kerja kalian gak karuan. Apaan coba bisanya nuntut doang” Dinda mulai tersulut emosinya.
            “Biasa aja dong Din , masa gak malu cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu” Potong Bayu yang merasa konsentrasi permainan PSnya terganggu oleh suara gaduh cewek – cewek di bangku belakang.
∞∞∞
            “masa gak malu cewek pakai jilbab kok bicaranya kasar gitu”
            Kata – kata Bayu masih terngiang di pikiran Dinda, karena bukan sekali itu saja dia di sindir seperti itu. Banyak juga orang lain yang pernah mengatakan hal serupa. Pertanyaan – pertanyaan kecil namun penting muncul di benak Dinda.
            ‘Kenapa aku berhijab ? ’
            ‘Tapi kenapa aku urak an ?’
            ‘Kenapa aku masih sering upload foto tanpa hijab di sosial media ?’
            ‘Kenapa masih suka pacaran, suka ganjen sama cowok ?’
            ‘Kenapa aku gak bisa seperti cewek muslimah lainnya ? ’
            ‘Terus apa yang aku tutupi dengan hijab ?’
            Dinda mulai berfikir, dulu pakai jilbab gara – gara TK di sekolah Islam. Waktu SD juga pakai jilbab gara – gara SDnya satu yayasan sama TK yang juga mengharuskan berjilbab di sekolah. Di SMP gak lepas jilbab gara – gara kebiasaan. Sekarang di SMA tetep pakai jilab juga gara – gara kebiasaan.
            Masih menjadi sebuah pertanyaan yang masih mengganjal dibenak Dinda “APAKAH AKU BERJILBAB HANYA KARENA SEBUAH KEBIASAAN DAN WARISAN ?”
∞∞∞
            Siang itu cukup terik, sudah seminggu ini Dinda Mutiarani Pratiwi mencari jati dirinya. Sambil menghisap coklat pasta ia menghampiri Nadya yang sedang duduk bangku di pinggir Lapangan Utama SMA Negeri 1 Ponorogo sambil membaca novel.
            Nadya, cewek cantik dengan jilbabnya yang menutupi dada itu menawarkan senyum yang menyejukkan ketika melihat Dinda menghampirinya. Nadya merupakan salah satu pengurus ekstrakulikuler kerohanian Islam di SMA Negeri 1 Ponorogo. Tak heran bila penampilannya sangat feminim dan muslimah banget.
            “Nad, tanya dong” Dinda memulai percakapan dan duduk di samping Nadya.
            “Tugas Kimia ? Kelasku belum ada tugas dari Pak Wahyudi” Nadya kembali fokus pada novel yang di pegangnya.
            “Bukan, aku mau tanya. Kenapa sih kamu pakai jilbab ?” Ujar Dinda to the point.
            “Karena kebutuhan” Jawab Nadya singkat
            “ Maksudnya ? Aku nggak paham” Selidik Dinda sambil menutup novel yang di baca Nadya dengan kedua telapak tangannya.
            “Ih, kamu itu kan berjilbab dari dulu. Kenapa sih tanya begitu ? Kamu masih sehat kan?”
            “Emh, masih sehat kok. Tenang aja. Eh, aku ke kelas duluan ya. Makasih” Dinda kemudian lari meninggalkan Nadya yang masih kebinggungan.
            Dinda kemudian menyusuri koridor kelas XI IPS, dia ingin mengunjungi Lely temanya yang dulu pernah sekelas di kelas X. Di depan kelas XI. IPS 3 Dinda melihat Nuri yang sepertinya baru hari ini berhijab. Dia mengurungkan niatnya bertemu Lely tapi menemui Nuri.
            “Cie .. Nuri berjilbab cie .. Selamat ya ” Goda Dinda
            “Apaan sih , iya makasih” Balas Nuri sambil malu- malu
            “Kenapa berhijab, Nur ? ” Tanya Dinda
            “Ituh sama mas Yogi di suruh berhijab. Terus temen – temen juga banyak yang berhijab” Jawab Nuri bangga.
            “Loh, udah jadian toh sama mas Yogi ?” Tanya Dinda dengan sedikit kaget.
Tak ada jawaban dari Nuri hanya sebuah anggukan dan secuil senyum bangga terbesit di wajahnya. Dinda menyimpulkan Nuri tak sepenuhnya ingin berhijab. Setahu Dinda Nuri dulu pernah mencalonkan diri sebagai model sebuah majalah remaja Jawa Timur, namun setelah terpilih dia malah mengundurkan diri demi mas Yogi.
∞∞∞
            Senyawa utama penyusun sel yaitu asam nukleat dan bla bla bla. Penjelasan Bu Hardwi hanya masuk dari telinga kanan ke telinga kiri Dinda kemudian melayang bebas ke udara. Sejak dulu menurutnya Biologi hanya bisa di serap kalau sedang belajar sendiri, bukan dengan mendongeng masal yang meninabobokan semua siswa. Lagipula pelajaran berat untuk kelas jurusan IPA seharusnya tidak di jadwalkan setelah jam 12 siang karena itu waktu terlemah kesadaran siswa.
            Alunan lagu dari Taylor Swift berjudul Tied Together with a smile mengalun samar dari headset yang Dinda pakai. Ternyata jilbab juga dapat berfungsi untuk menutupi headset yang dia gunakan dari guru pengajar saat mata pelajaran berlangsung.
            Saat Bu Hardwi yang juga istri dokter spesialis jantung ini mulai menerangkan mengenai macam – macam karbohidrat datanglah beberapa orang mahasiswa yang langsung menyalami Bu Har. Walau siang bolong Bu Har kemudian bersemangat bercerita bahwa mahasiswa yang datang siang itu salah satunya bernama Putra Hendrawan Widodo.
            Rasa kantuk Dinda seketika menghilang, tergantikan rasa kagum pada sosok Kak Ido yang ternyata jauh lebih keren daripada fotonya di Facebook. Kak Ido melemparkan senyum dengan sedikit cuek pada seisi kelas. Dan ternyata bukan hanya Dinda yang mengagumi senyum cuek Kak Ido beberapa teman ceweknya juga mulai berbisik perlahan dan menyebut nama Kak Ido.
            Kak Ido dan teman mahasiswa lainnya ternyata sedang mempromosikan sebuah lomba mata pelajaran Matematika yang di adakan di Unair Surabaya. Kebetulan sekali walau benci beberapa pelajaran seperti Biologi, Dinda masih menyukai Matematika. Memang sedikit menganaktirikan Biologi dari semua mata pelajaran pokok di jurusan IPA, tapi tak apalah siang ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa.
            “Adek Dinda nanti ikut ya ? ” Tawar Ido sambil membagikan brosur dan formulir pendaftaran lomba. Tanpa di perintah Dinda mengangguk tanda setuju.
∞∞∞
            “Dinda , aku itu loh sayang kamu. Jadi pacarku yuk ? ” Ido mengungkapkannya secara lancer dan pasti tanpa basa basi.
            “Hah ? Kita baru akrab belum genap sebulan loh kak.” Jawab Dinda setengah kaget.
            “Tapi sejujurnya kamu suka sama aku kan ?” Selidik Ido.
            Dinda hanya mengangguk mengiyakan. Hari ini adalah pengumuman Babak Final Lomba Matematika yang diadakan oleh Unair. Bu Widya pendampingnya pulang terlebih dahulu karena ada kepetingan keluarga. Alhasil, besok dia menghadiri acara penyerahan hadiah Lomba sendiri tanpa guru pendamping. Bu Widya hanya meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk biaya menginap malam ini di hotel.
            Dengan pasrah Dinda menerima keputusan guru pendampingnya itu. Dinda berhasil mendapat juara 3 dalam perlombaan tersebut. Hasil yang cukup lumayan karena dia satu – satunya delegasi SMA Negeri 1 Ponorogo yang berhasil masuk babak Final.
Sebenarnya malam itu bisa saja gadis yang juga kelahiran kota Surabaya itu menginap di rumah saudaranya. Namun, dia memilih untuk menginap di hotel dengan uang saku dari sekolah dan orangtuanya. Sekaligus dia ingin jalan – jalan bersama kak Ido setelah Laki-laki itu menyelesaikan tugas kepanitiaannya.
Dinda dengan setia menunggu di bangku salah satu ruang kelas di Unair. Setelah Kak Ido menyelesaikan semua kewajibannya, mereka kemudian beranjak menuju pusat kota Surabaya. Setelah mendapatkan kamar hotel yang diinginkan lalu mereka mulai mengunjungi Matos dan mall – mall lainnya.
Tidak ingin membeli apa – apa sebenarnya, hanya ingin merayakan keberhasilan aja. Malam itu begitu indah mereka habiskan berdua saja. Saat semua mall sudah mulai tutup mereka kembal ke hotel yang akan diinapi Dinda malam itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, namun kota Surabaya belum mati. Termasuk juga di hotel Ramayana itu masih ramai orang berlalu lalang. Kak Ido ingin mengantar Dinda hingga sampai di depan kamarnya. Mereka mulai menapaki lantai 3 hotel, baru beberapa langkah keluar dari lift mereka di suguhi pemandangan yang tak patut di lihat.
Gadis masih menggunakan rok abu – abu, jaket belang ungu putih dan jilbab yang mulai berantakan sedang bercumbu di koridor hotel. Bibirnya bertaut, menghisap dan mengulum bibir pria berjas hitam dan berpenampilan perlente semacam bos kantoran. Mereka terlalu asyik hingga tak mengetahui bahwa sedari tadi Ido dan Dinda menyaksikan perbuatan mesum mereka.
Ido langsung menarik Dinda masuk kembali kedalam lift. Dalam keheningan lift Dinda mulai terisak.
“Aku takut Kak . . Aku mau cek out aja dari hotel ini” Dinda akhirnya mulai bicara.
“Iya nanti aku bilang ke petugasnya, kita cari hotel lain saja. Sudah jadi rahasia umum nda kejadian semacam tadi.” Igo mulai menenangkan.
“Buat apa dia berjilbab ? Munafik banget. Dia nutupin kedoknya yang jadi cewek nakal dengan jilbab.”
“Gak sepenuhnya salah mereka nda.” Igo mencoba memahami perasaan Dinda yang campur aduk.
“Kak, kita putus” Bisik Dinda  lirih, mata mereka beradu menimbulkan berjuta tanda tanya besar , kekecewaan dan perasaan lain yang tak dapat dijelaskan.
“Kita baru pacaran 6 jam ? ” Igo sedikit kaget
“Aku takut kita seperti itu.” Dinda mencoba memberi alasan.
“Kamu gak percaya sama aku ?” Igo makin menatap lekat mata bulat Dinda.
Dinda yang biasanya berprilaku seperti laki – laki itu sedang berada di titik terlemahnya sebagai wanita. Dia melepaskan sentuhan Igo di kedua bahunya dan mengalihkan padangan dari mata Igo yang tajam.
“Ini keputusanku kak, maaf” Dinda menunduk lesu.
Igo mengela nafas panjang.
“Aku juga merasa malu kak, pakai jilbab tapi boncengan sama cowok. Pakai jilbab tapi pegangan tangan. Bahkan andai di teruskan kita mungkin bisa melakukan lebih dari apa yang kita lihat tadi. Aku takut. Ini lebih aman Kak, aku mohon.” Dinda menjelaskan panjang lebar.
∞∞∞
Dinda Mutiarani Pratiwi juara 3 Lomba Matematika Statistika tingkat Jawa Timur Universitas Airlangga.
Dinda tampil lebih anggun dengan Jilbab yang menutupi dada, dan senyum yang mengembang manis. Langkah pastinya menuju podium menyerahkan piala kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Ponorogo.. Bangga, sedih, trauma, senang semua menjadi satu. Tapi hati kecilnya memaksa bibirnya untuk tetap tersenyum.
Semua kejadian dikoridor hotel Ramayana malam itu menyadarkan bahwa jilbab bukan hanya menutupi kepalanya. Tapi semua tingkah , tutur kata , sikap dan perbuatan. Kini Dinda mencoba memulai semua dari awal, memperbaiki dari awal.
Dia mulai mencintai jilbabnya, semua pengaruhnya. Bukan karena siapapun, bukan karena jilbab sebuah kebiasaan ataupun warisan. Tapi karena jilbab adalah sebuah kebutuhan muslimah seperti dirinya. Ucapan Nadya benar adanya, semua cinta harus mulai dari dalam hati. Semua cinta harus dengan ikhlas.
Bagaimana dengan Kak Ido, ya dia masih meneruskan studynya tetap menjaga perasaan masing-masing. Hingga suatu saat nanti menjadi indah dan halal untuk Dinda dan Ido. Suatu saat nanti, jika Tuhan berkehendak karena jodoh tak akan pergi dan lari. Sampai nanti dengan setia Dinda akan menjaga kesucian dirinya untuk kekasih masa depannya dengan jilbab-jilbabnya.
Ponorogo, 19 September 2013
Mazda Rachma Qunuti



Tidak ada komentar:

Posting Komentar